Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Senin, 18 Maret 2019

Ditengah Gerimis, Dukungan Penegakkan Syar'iah Khilafah Menggemuruh, Untuk Melindungi Umat Islam Dari Kedzoliman



Lumajang.  (Ahad, 17/03/2019). Diiringi suana gerimis yang hampir rata di seluruh wilayah Kabupaten Lumajang, tepat jam 08.30 WIB acara Peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW berlangsung. Bertempat di aula masjid As Salam Sukodono, kegiatan yang dihadiri ratusan undangan dengan diawali pembukaan dan tilawah surat At Taubah ayat 123 – 129 yang dibacakan sangat merdu oleh adinda Ikmal dari SMA Negeri 3 Lumajang kemudian dilanjutkan sambutan Panitia yaitu dari Ust. Mohamad Bisri, SE dari FKU Aswaja Lumajang sebagai penyelenggara kegiatan ini.
Banyak peristiwa besar yang terjadi di bulan Rajab. Tidak hanya peristiwa luar biasa seperti Isra’ Mi’raj, penaklukan Al Quds oleh Shalahuddin Al-Ayyubi, tapi juga peristiwa yang menjadi petaka bagi seluruh umat muslim di dunia, yakni runtuhnya Khilafah Islamiyah di Turki 95 tahun yang lalu. Inilah mengapa FKU Aswaja Lumajang berkeinginan kuat menyelenggarakan kegiatan tersebut.

Dalam Peringatan Isra Mi’raj 1440 H tokoh-tokoh dari Lumajang yang hadir menjadi pembicara adalah Ust. Nur Huda, Dewan Syar’i PP Mambaul Hikam sekaligus Ketua FKU Aswaja Lumajang. Beliau menyampaikan bahwa dalam bulan haram ini (Rajab) pahala dilipat gandakan pun juga demikian siapa yang melakukan kemaksiatan maka dosanya juga akan berliat. Dalam bulan ini pula Nabi SAW diangkat menjadi pemimpin ummat yang terakhir dan juga menerima perintah sholat 5 waktu. Dan peristiwa lain yang penting adalah runtuhnya khilafah islamiyah, sehingga kondisi kaum muslimin tanpa junnah (perisai) mengalami kemerosotan sangat tajam diberbagai segi, sumberdaya alam dirampas oleh kaum sekuler liberalis kafir, dan ditambah lagi kebiadaban yang dilakukan oleh teroris New Zeland tanpa ada pelindung kaum muslimin. Inilah momentun untuk kembali kepada sistem yang benar, yaitu sistem islam dalam naungan daulah khilafah.
Selanjutnya materi disampaikan oleh Tokoh Pemerhati Pendidikan Remaja Ust. H. Aftoni Siddiq, S.P. dalam kesempatan kali ini beliu menegaskan bahwa persoalan saat ini hanya menawarkan demokrasi sebagai satu-satunya solusi padahal hasilnya nol besar. Suara ulama, sama dengan suara preman. Demokrasi mendiskriminasi pemikiran islam, serta pengembangnya, adanya kriminalisasi ormas, kriminalisasi ulama, pembubaran pengajian dan sebagainya. Maka perlu perubahan mendasar dan menyeluruh, itu hanya ada dalam islam yaitu tegaknya Daulah Khilafah. Umat muslim mulai sadar akan pentingnya persatuan Islam dalam panji la illaha ilallah. Itulah Khilafah. Marikah kita perkuat dakwah walau ancaman, gangguan, dan tantangan semakin besar didepan.

Pemateri ketiga yaitu Ust. Abdul Muis, mewakili FKU Aswaja Jatiroto. Beliau menyampaikan bahwa ibadah ada dua jenis, yaitu ibadah untuk individu dan ada ibadah jamaah yang harus dijalankan bersama-sama semisal hukum Islam yang harus dijalankan, akan tetapi hukum Allah ini tidak diterapkan dipermukaan bumi, inilah bentuk kedzoliman, kemaksiatan yang besar. Hukum Allah yang dikerjakan secara jama’i ini tidak bisa dilakukan oleh beberapa orang atau kelompok, akan tetapi harus dilakukan oleh negara/daulah. Itulah khilafah, siapapun yang ingin menegakkannya maka pahala dan keridhoan  Allah, maka marilah kita bersama-sama semangat untuk menegakkan khilafah minhajj nubuwah.

Pemateri selanjutnya yaitu Ust. Pasrah tokoh Muhammadiyah dan sekaligus Pengasuh Majelis Taklim dan TPQ Lukmanul Hakim Rowokangkung. Beliau menyampaikan bahwa dari 60 santri yang dibina mempunyai latar belakang berbeda-beda, karena lingkungannya yang mayoritas kristen santrinya ada yang bapaknya nasrani ibunya Islam, ada yang bapaknya islam ibunya kristen dan sebagainya. Kristen punya Paus, agama yang lain juga punya pimpinan, mengapa umat Islam yang besar ini tidak punya pimpinan? Inilah problem kita saat ini, tiadanya pimpinan. Dan beliau juga menyampaikan bahwa saat ini memang tidak mungkin Khilafah dengan ajaran Islam yang menyeluruh akan tegak di Indonesia, karena sistem dan masyarakatnya masih terbelenggu sistem kufur demokrasi, oleh karena itu perlu adanya jama’ah yang mampu menjelaskan secara gamblang apa itu Khilafah, bagaimana syariat Islam bisa diterapkan secara sempurna mulai dari keluarga, tetangga RT, Dusun hingga besar sampai mampu Khilafah diterapkan.

Pemateri selanjutnya dipaparkan oleh Ust. Nur Abdul Bari, S.KM, praktisi kesehatan masyarakat Kab. Lumajang, beliau menyampaikan bahwa tema besar saat ini yaitu meneladani kepemimpinan Rasulullah SAW yaitu dengan dengan cara nabi SAW dijadikan tauladan, dijadikan pemimpin ummat manusia. Sebagai ummat Islam yang paham tentang Islam, maka sepatutnya ajaran Islam yang kaffah itu disampaikan apalagi penegakkan syariah dan khilafah menjadi hal yang sangat penting agar semua persoalan bisa terselesaikan termasuk urusan kesehatan masyarakat.

Orasi terakhir disampiakan oleh Ust. Ichsan Mahmudi, SP, beliau adalah salah satu Cendekiawan Muslim di Lumajang, dalam kesempatan ini beliau menyampaikan bahwa isra mi’raj adalah peristiwa penting baik dulu hingga sekarang, pada saat ini kita memperingati peristiwa ini adalah meneladani Rasulullah SAW sang pemimpin para nabi dan sang pemimpin seluruh manusia, ummat nabi SAW adalah semua manusia, baik berkulit hitam atau putih, bermata sipit atau tidak, Arab atau bukan, yang mau mengikuti syariat nabi SAW. Siapapun yang mengaku umat nabi, tetapi tidak meneladani nabi SAW maka dia adalah pembohong. Dan siapapun yang mengaku ummat Nabi Muhammad SAW, saat ini wajib ikut andil untuk berdakwah hingga tempat ini tegak syariat Islam.

Acara peringatan isra’ mi’raj Nabi Muhammad SAW ditutup dengan do’a oleh ust. H. Yusuf Bisri, S.Pd tepat 10 menit sebelum dikumandangkan adzan dhuhur.[](tris)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox