Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Jumat, 01 Maret 2019

Borjuasi Lokal-Internasional dan Eksploitasi Rakyat Jelata



Aji Salam
(Praktisi ekonomi)

Andre Gunder Frank dalam bukunya bertajuk Capitalism and Underdevelopmen in Latin America yang diterbitkan pertama kali pada tahun 1967. Buku Frank berbicara tentang aspek politik dari hubungan negara-negara kapitalis dan negara satelit, yakni hubungan politis (dan ekonomi) antara modal asing dengan klas-klas yang berkuasa di negara satelit.

Dalam rangka mencari keuntungan yang sebesar-besarnya, kaum borjuasi di negara-negara kapitalis bekerjasama dengan pejabat pemerintah di negara-negara satelit dan kaum borjuasi yang dominan di negara satelit. Tuan tanah dan kaum pedagang adalah contoh kelas borjuasi di negara satelit. Sebagai akibat kerjasama antar modal asing dan pemerintah setempat ini, muncul kebijakan-kebijakan pemerintah yang menguntungkan modal asing dan borjuasi lokal, dengan mengorbankan kepentingan rakyat banyak negara tersebut. Kegiatan ekonomi praktis merupakan kegiatan ekonomi modal asing yang berlokasi di negara satelit.

Fungsi kaum borjuasi lokal adalah sebagai mitra yunior yang dipakai sebagai payung politik dan pemberi kemudahan bagi beroperasinya kepentingan modal asing tersebut melalui kebijakan pemerintah yang dikeluarkan. Kebijakan pemerintah yang didukung oleh borjuasi lokal ini adalah kebijakan yang menghasilkan keterbelakangan karena kemakmuran bagi rakyat jelata dinomorduakan.

Pada teori Frank, jelas ada tiga komponen utama: yakni (1) modal asing, (2) pemerintah lokal di negara-negara satelit, dan (3) kaum borjuasinya. Pembangunan praktis hanya terjadi di kalangan mereka. Sedangkan rakyat banyak, yang menjadi tenaga upahan, dirugikan. Maka, ciri-ciri dari perkembangan kapitalisme satelit menurut Frank adalah: (1) kehidupan ekonomi yang tergantung, (2) terjadinya kerjasama antara modal asing dengan klas-klas yang berkuasa di negara-negara satelit, yakni para penjabat pemerintah, klas tuan tanah dan klas pedagang, dan (3) terjadinya ketimpangan antara yang kaya (klas yang dominan yang melakukan eksploitasi) dan yang miskin (rakyat jelata yang dieksploitasi) di negara-negara satelit.

Dalam keadaan seperti itu, menggalakkan pembangunan dengan memperkuat borjuasi di negara-negara staelit merupakan usaha yang sia-sia. Sebab, borjuasi tersebut merupakan borjuasi yang tergantung pada modal asing. Akumulasi modal yang terjadi akan diserap keluar oleh kekuatan modal asing, tidak dikonsumsikan atau diinvestasikan di dalam negeri itu sendiri. Dengan demikian, pertumbuhan ekonomi yang terjadi di negara-negara satelit hanya akan menguntungkan kepemilikan modal asing dan kepentingan pribadi dari kaum borjuasi lokal. Keuntungan ini tidak akan menetes ke bawah, seperti yang diperkirakan oleh teori trickle effect down atau teori penetesan ke bawah.

Teori pertumbuhan ekonomi yang dikemukakan oleh WW Rostow merupakan garda depan dari linear stage of growth theory. Pada dekade 1950-1960, teori Rostow banyak mempengaruhi pandangan dan persepsi para ahli ekonomi mengenai strategi pembangunan yang harus dilakukan. Tahapan-tahapan pertumbuhan dan perkembangan ekonomi suatu negara menurut WW Rostow ada lima tahap 1) tahap perekonomian tradisional; 2) prakondisi tinggal landas; 3) tinggal landas; 4) menuju kedewasaan; dan 5) tahap konsumsi massa tinggi.
Fungsi kaum borjuasi lokal sebagai mitra yunior yang dipakai sebagai payung politik dan pemberi kemudahan bagi beroperasinya kepentingan modal asing adalah inang sari kelahiran Kapitalisme Kroni atau kerap disebut sebagai Kapitalisme Semu. Mengapa semu? Kaum borjuasi lokal itu tidak benar-benar memiliki akumulasi modal sendiri melainkan bergantung pada modal asing, tidak benar-benar mampu menjadi kapitalis murni akibat centang perenang dalam bisnis, dan tidak sepenuhnya canggih dalam inovasi dan kompetisi akibat sangat bergantung pada nepotisme dengan birokrasi.

dalam sistem demokrasi – kapitalisme, kesejahteraan dan kemakmuran hanya menjadi milik korporasi penanam modal.  Kapitalisme hanya melahirkan kesenjangan ekonomi dan sosial antara pebisnis dan rakyat jelata, karena pekerjaan kapitalis hanya menguras SDA dan SDM.  Di lain pihak, negara tidak memberikan akses yang memadai, hingga rakyat tidak pernah mampu berkompetisi dengan SDM impor.  Walhasil, mayoritas rakyat hanya bisa menjadi buruh atau mengais keuntungan dari pekerjaan informal yang tumbuh bersamaan dengan proses industrialisasi. Kesejahteraan makin jauh dari harapan.

dengan demikian membuktikan, sekali lagi, bahwa kapitalisme adalah ideologi yang rusak, sistem ekonomi yang gagal, solusinya berbahaya dan hasilnya menyebabkan kerusakan, ia tidak mampu mengobati penyakit, yang dilakukannya hanya meredamnya, sehingga berbagai masalah akan tetap terjadi, dan penyakit akan menjadi kronis.

Masalah seperti ini melekat dalam sistem ekonomi kapitalis. Semua upaya mereka untuk keluar dari krisis sudah ditakdirkan untuk gagal, karena mereka mendasarkan pada sistem cacat yang sama. Mereka gagal, atau bahkan menghindari untuk memeriksa alasan terjadinya krisis dan terfokus pada gejala sebaliknya.

Krisis saat ini dan pencarian solusi tidak hanya harus berakhir dengan ekonomi alternatif. Karena ekonomi adalah faktor yang paling penting dalam ideologi kapitalistik, krisis dan kekurangan bahkan harus mendorong orang-orang di barat untuk mempertimbangkan kembali seluruh dasar pandangan mereka pada kehidupan. Islam datang sebagai rahmat bagi umat manusia; bukan sebagai filsafat atau metafisika, tapi satu solusi praktis sebagai akibat dari aqidah dan sistem Islam, yang dapat diuji dan dirasakan oleh semua manusia.[]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox