Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Sabtu, 16 Maret 2019

A Change Is Gonna Come



Abu Inas
(Tabayyun Center)

Kita mengamati di tengah-tengah partisipasi sebagian besar dari tokoh-tokoh umat. Umat ini mengenal gerakan Hizbut Tahrir yang sebelumnya tampil di tengah-tengah umat untuk membimbing dan memandu arah dan perjalanan perubahan umat. Hizbut Tahrir, sebagai partai ideologis, benar-benar menyadari tanggung jawabnya, bukan hanya kepada umat Islam di Indonesia, tetapi juga kepada Allah, Rasul-Nya dan seluruh umat Islam.

Hizbut Tahrir sebelumnya disadari umat memobilisasi umat untuk membebaskan negeri-negeri muslim dari penjajahan fisik dan ideologis. Tak jarang antek-antek Barat di banyak negeri ingin membungkam suaranya dan aktivitasnya, semuanya gagal. Ini bukti, bahwa kesadaran politik umat jelas semakin menguat.

Hizbut Tahrir selalu mengingatkan umat, bahwa sejarah khilafah dengan segala kejayaannya juga menjadi bagian dari sejarah mereka. Mereka bisa membandingkan, terlebih saat mereka mengalami nasib tragis seperti saat ini. Di zaman khilafah mereka dihormati oleh kawan dan lawan, tetapi di bawah rezim boneka, mereka dinistakan, dan bahkan dibantai di sana sini.

Hizbut Tahrir juga mengingatkan, peluang berdirinya khilafah Islam di wilayah-wilayah negeri-negeri muslim tidak bisa dilepaskan dari kembalinya kesadaran politik dan keberislaman kaum Muslim di sana. Terlebih, ketika rezim boneka dukungan Barat dengan sistem monarki, republik dan demokrasinya jelas-jelas telah merampas hak-hak politik mereka, dan gagal menyejahterakan kehidupan mereka.

Kaum Muslim di berbagai kawasan masih meyakini Islam sebagai akidah dan sistem kehidupan mereka, hanya saja mereka tidak bisa melaksanakannya karena hak-hak politik mereka dirampas oleh rezim tiran itu.

Mengenai janji Allah SWT atas kemenangan umat, Allah menyatakan dengan tegas dalam Al Qur’an Surat an-Nur: 55. Pertama, ayat ini dimulai dengan, “Wa’ada-Llahu (Allah berjanji)..” yang menunjukkan jaminan kepastian akan terwujudnya apa yang dijanjikan.

Kedua, janji yang dijanjikan itu diungkapkan dengan menggunakan redaksi yang jelas,
“La yastakhlifannahum (Dia sunguh-sungguh akan memberikan Khilafah [kekuasaan] kepada mereka).”  Frasa ini mempunyai makna yang mendalam, karena disusun dari, Lam yang merupakan jawab dari sumpah Allah, diakhiri dengan nun yang digandakan (tasydid), atau disebut nun taukid tsaqilah, yang berarti “penegasan ganda”.

Ditambah pilihan lafadz, yastakhlifa yang merupakan satu akar kata dengan lafadz khilafah. Semuanya ini tidak bisa diartikan lain, kecuali bahwa janji berdirinya khilafah ini merupakan janji yang pasti. Mungkin ada yang mengatakan, bahwa janji ini sudah kadaluwarsa, karena sudah pernah terjadi sebelumnya. Namun, asumsi ini jelas salah. Karena konteks janji ini berlaku tanpa batas.

Selain itu, terwujudnya kembali janji ini juga dikuatkan oleh hadits Ahmad dari Nu’man bin Basyir yang menyatakan kembalinya Khilafah ‘ala Minhaj an-Nubuwwah merupakan fase akhir setelah era Nubuwwah, Khilafah, Mulkan ‘Adhdhan dan Mulkan Jabariyyan.[]



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox