Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Senin, 11 Februari 2019

“Tuhan Tidak Perlu Dibela”, Dalih Toleransi Penggerus Akidah Islam



Oleh: Nindira Aryudhani, S.Pi, M.Si
(Koordinator LENTERA, Relawan Opini dan Media)

Paus Fransiskus dan Imam Besar Al Azhar Syeikh Ahmed Al Tayeb bertemu di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, Senin (04/02/2019) lalu. Dua pemimpin agama terkemuka di dunia awal pekan ini menandatangani deklarasi persaudaraan bersejarah, yang menyerukan perdamaian di antara negara, agama dan ras. Salah satu bagian penting yang menjadi otokritik bagi semua adalah pernyataan bahwa “Tuhan tidak perlu dibela”.

Dikutip dari VOA Indonesia, dokumen yang diklaim mengatasnamakan seluruh korban perang, persekusi dan ketidakadilan di dunia itu, menyatakan komitmen Al Azhar dan Vatikan untuk bekerjasama memerangi ekstremisme. Mereka juga dengan tegas menyatakan agama tidak boleh digunakan untuk menghasut terjadinya perang, kebencian, permusuhan dan ekstremisme, juga untuk memicu aksi kekerasan atau pertumpahan darah.

Bagian penting dokumen itu mendorong semua pihak untuk menahan diri menggunakan nama Tuhan untuk membenarkan tindakan pembunuhan, pengasingan, terorisme dan penindasan. Kami meminta ini berdasarkan kepercayaan kami bersama pada Tuhan, yang tidak menciptakan manusia untuk dibunuh atau berperang satu sama lain, tidak untuk disiksa atau dihina dalam kehidupan dan keadaan mereka. Tuhan, Yang Maha Besar, tidak perlu dibela oleh siapa pun dan tidak ingin nama-Nya digunakan untuk meneror orang.

Dalam pidatonya seusai lawatan pertama kepausan ke Semenanjung Arab, yang merupakan tempat lahirnya Islam tersebut, Paus menggarisbawahi bahwa pihaknya dan Syeikh Tayeb bertujuan mempromosikan perdamaian dan menjadi instrumen perdamaian. Kekerasan, ekstremisme atau fanatisme atas nama agama tidak pernah dapat dibenarkan.

Menanggapi hal ini, Ketua Lembaga Kajian dan Pengembangan SDM PBNU (Lakpesdam PBNU) Dr. Rumadi Ahmad mengatakan yang terpenting saat ini adalah menggaungkan apa yang sudah dicapai di Abu Dhabi itu. Menurutnya, deklarasi ini penting untuk semakin memberi semangat pada umat Islam dan umat lain yang selama ini sudah lama menyuarakannya, jangan sampai padam.

Rumadi Ahmad juga mencatat kesediaan dan keberanian Paus Fransiskus dan Imam Besar Al Azhar Syeikh Ahmed Al Tayeb membahas berbagai isu lain yang strategis seperti soal kewarganegaraan berdasarkan persamaan hak dan kewajiban, pengakuan hak-hak perempuan, Islamophobia dan stereotip anti-Barat dan lain-lain.

Bagaimana pun, di setiap masa akan selalu ada pihak-pihak yang ingin menjauhkan umat Rasulullah ﷺ ini dari status Islam kaffah. Yakni Islam yang menyeluruh dalam setiap jengkal nafas kita. Dan bukan berarti pula keyakinan terhadap Islam secara kaffah ini kemudian dimaknai intoleransi, karena seolah-olah membawa nama Tuhan kesana-kemari untuk sebuah fenomena ekstrimisme agama, atau yang lebih dikenal dengan terorisme.

Yang pertama harus dipahami adalah bahwa dengan adanya para pejuang/mujahid Islam, bukanlah menunjukkan Allah SWT itu lemah sehingga perlu dibela atau dimenangkan. Pun membela agama Allah, bukanlah dimaksudkan seakan-akan Allah tidak dapat membela diri-Nya. Tapi harus dipahami dari sisi bahwa berbagai aktivitas membela/memperjuangkan Islam adalah kewajiban. Dakwah adalah kewajiban. Jihad adalah kewajiban. Menegakkan Khilafah juga kewajiban. Yang mana kewajiban ini adalah bagian dari keimanan yang seutuhnya. Kewajiban tersebut ada, bukan karena Allah SWT minta untuk dibela. Melainkan untuk menguji manusia, sejauh mana kadar keimanannya mampu digunakan untuk mengagungkan Allah. Firman Allah SWT:

قُلْ إِن كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُم مِّنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّىٰ يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ

Katakanlah: "Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya". Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik (QS At-Taubah [9]: 24).

Apakah Allah begitu narsis hingga butuh diagungkan? Tidak. Tapi jika manusia tidak mau mengagungkan Allah, berarti dirinya ingkar, alias kafir. Padahal mengagungkan Allah itu bersifat naluriah, fitrah bawaan sejak dari dalam kandungan. Firman Allah SWT:

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

"Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui." (QS Ar-Ruum [30]: 30).

Dalam QS Al-Ikhlas [112] ayat 1-2:

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ «١» اللَّهُ الصَّمَدُ «٢»

Katakanlah: "Dialah Allah, Yang Maha Esa (1) Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu (2).

Juga dalam QS Muhammad [47] ayat 7:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن تَنصُرُوا اللَّهَ يَنصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ

"Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu."

Begitu jelas, manusia-lah yang membutuhkan Allah SWT. Hanya Allah saja tempat meminta. Hanya Allah pula tempat kembali. Janganlah atas nama toleransi, menjadi pembela agama Allah hingga memperjuangkannya demi mencapai kaffah, kemudian mendadak disebut sebagai sikap intoleran.

Mengutip tulisan Dr. Ahmad Sastra yang dimuat di Al-Waie Desember 2018, sungguhlah Barat tak henti-hentinya melakukan berbagai propaganda untuk menyerang Islam. Tujuannya adalah agar kaum Muslim tanpa sadar mengikuti arus yang sedang mereka konstruksikan. Salah satunya adalah wacana toleransi dan radikalisme sebagai alat untuk menstigmatisasi dan reduksi nilai Islam.

Narasi toleransi yang dibangun Barat berdasarkan asas demokrasi dan HAM telah berhasil menjerat kaum Muslim pada pemahaman yang salah kaprah. Kaum Muslim akan dikatakan sebagai orang toleran jika mau melakukan apa yang diwacanakan Barat. Sebaliknya, jika tak sejalan dengan mereka, lantas dikatakan sebaliknya: intoleran atau radikal.

Oleh Barat, jika ada seorang Muslim berpegang teguh pada kemurnian ajaran Islam dalam memandang dan bersikap terhadap keyakinan agama lain, mereka akan dicap sebagai fundamentalis, radikalis dan intoleran. Sebaliknya, jika seorang Muslim mengikuti timbangan Barat dalam menyikapi perbedaan agama dengan cara mengakui kebenaran agama lain, mereka akan disebut sebagai Muslim moderat dan toleran.

Demikian halnya, Barat juga berupaya menstigmatisasi Islam sebagai ajaran radikal. Pasalnya, Islam tidak mengakui kebenaran agama lain, dan Islam adalah satu-satunya agama yang benar. Karena keyakinan kebenaran Islam itu berasal dari al-Quran, Barat kemudian menuduh kitab suci umat Islam sebagai sumber radikalisme.

Karena itu mereka lalu mereduksi ajaran Islam dengan timbangan tafsir hermeneutika. Tafsir ini berasas demokrasi, hak asasi manusia dan sekularisme. Dengan asas ini, para agen Barat, seperti Muslim liberal dan moderat, kemudian mengkonstruksi ulang makna toleransi sehingga menjadi paham pluralisme teologis.

Asal tahu saja, Barat sebetulnya bersikap inkonsistensi terhadap makna toleransi yang mereka  bangun. Jika konsisten dengan makna toleransi, semestinya umat Islam yang melaksanakan ajaran Islam juga harus dihormati. Lebih ironis, saat Barat mencederai makna toleransi, justru tidak dianggap intoleran. Misalnya, peristiwa pembakaran masjid tidak dianggap sebagai perbuatan intoleran. Sebaliknya, jika umat non-Muslim ‘diganggu’ sedikit saja maka tindakan demikian akan segera distigmatisasi sebagai bentuk intoleransi dan radikal.

Celakanya, banyak kalangan umat Islam yang justru latah mengikuti alur pemikiran Barat. Tanpa disadari, atas nama toleransi, umat Islam banyak yang terjebak pada racun akidah ini dengan mencampuradukkan kebatilan dan kebenaran. Islam memang menghargai pluralitas, namun tidak mengakui pluralisme. Keragaman agama dalam pandangan Islam adalah keniscayaan. Namun, mengucapkan selamat hari raya agama lain, misalnya, adalah bentuk pluralisme (teologis) yang diharamkan Islam. Pluralitas adalah fakta sosiologis yang tak bisa ditolak. Sebaliknya, pluralisme adalah sinkretisme teologis yang wajib ditolak, karena haram. Karena itu keragaman agama bukan sebuah masalah bagi Islam. Namun, mencampuradukkan ajaran Islam dengan agama lain dengan dalih toleransi adalah kemungkaran.

Parahnya, umat Islam banyak yang salah kaprah memahami hal ini. Sebagiannya justru merasa bangga jika telah melaksanakan toleransi ala Barat yang diharamkan Islam. Padahal menghargai orang lain bukan berarti harus mencampuradukkan haq dan bathil.

Istilah toleransi dan radikalisme yang hendak disematkan pada Islam dan kaum Muslim hendaknya digali dari epistemologi Islam. Akan menjadi masalah jika kedua istilah itu justru ditimbang dengan epistemologi neomodernisme Barat. Sebab secara diametral kedua epistemologi itu sangat berbeda, baik dari asas, metode dan penafsiran.

Contoh klasik, misalnya tentang jihad, yang hari ini masih saja dimaknai sebagai tindakan ekstrimisme, bahkan terorisme. Padahal dalam Islam, seorang Muslim dikatakan berjihad jika ia berusaha mati-matian dengan mengerahkan segenap kemampuan fisik maupun material dalam memerangi dan melawan musuh-musuh Islam. Makna singkatnya, jihad berarti berperang melawan musuh Islam yang memerangi Islam dan kaum Muslim.

Konsep jihad ini oleh Barat dianggap sebagai sebuah ancaman bagi hegemoni demokrasi. Karena itu konsep jihad oleh Barat direduksi menjadi sekadar bersungguh-sungguh. Mereka menghapus makna jihad sebagai perang. Makna reduktif inilah yang kemudian diadopsi oleh pengusung Islam moderat. Lalu gerakan dakwah yang masih berpegang teguh atas makna jihad yang syar'iy malah dianggap sebagai gerakan radikal dan fundamentalis, bahkan dianggap teroris.

Rencana keji Barat lainnya untuk mereduksi ajaran Islam atas nama narasi toleransi adalah dengan dialog agama dan dialog peradaban. Ada target jahat di balik program ini. Pertama: penyamaan agama dan peradaban dalam dialog tanpa pengakuan adanya agama atau peradaban yang lebih unggul dan lebih baik daripada yang lain. Kedua: Dibatasi hanya sebagai ajang untuk mengetahui pendapat pihak lain, bukan dimaksudkan untuk menyanggah atau membuktikan kesalahannya. Ketiga: Menciptakan suatu peradaban alternatif dengan cara mencari titik temu dan persamaan antara kedua agama dan kedua peradaban.

Islam jelas menolak dialog agama dan peradaban dalam perspektif Barat ini. Firman Allah SWT:

مَثَلُ ٱلۡفَرِيقَيۡنِ كَٱلۡأَعۡمَىٰ وَٱلۡأَصَمِّ وَٱلۡبَصِيرِ وَٱلسَّمِيعِۚ هَلۡ يَسۡتَوِيَانِ مَثَلًاۚ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ «٢٤»

"Perbandingan kedua golongan itu (orang kafir dan orang Mukmin) seperti orang buta dan tuli dengan orang yang dapat melihat dan dapat mendengar. Apakah kedua golongan itu sama keadaan dan sifatnya? Tidakkah kalian mengambil pelajaran?" (QS. Hud [11]: 24).

Karena itu salah kaprah atas makna toleransi di kalangan kaum Muslim harus segera diakhiri. Caranya dengan menyadarkan bahwa narasi toleransi merupakan proyek Barat untuk mendekonstruksi, melumpuhkan dan bahkan melenyapkan ajaran Islam. Pada dasarnya, Islam telah memiliki konsepsi toleransi yang adil dan proporsional yang akan menjadikan kaum Muslim dan non-Muslim justru bisa hidup rukun secara sempurna dan penuh keamanan serta kesejahteraan. Namun hal ini hanya bisa diwujudkan dalam Daulah Khilafah Islamiyah, sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Rasulullah ﷺ di Madinah.

والله أعلم بالصواب

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox