Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Kamis, 07 Februari 2019

Think Before Tank



Lalang Darma Bakti
(praktisi media)

Teknologi cepat berkembang, ada peluang dan ada tantangan, eluang baik jika bisa memanfaatkannya dengan bagus. Seperti facebook, twitter, instagram, youtube dan berbagai media sosial lainnya yang sanggup mengubah dunia hanya dalam satu kali klik. Teknologi ini bias diakses dari kalangan bawah, menengah hingga kalangan atas bebas mengaksesnya.

Banyak orang  memiliki  akun media sosial, tidak hanya satu atau dua, melainkan lebih dari itu. Kita semua menggunakan media social untuk mendukung kebutuhan sehari-hari misalnya dalam lingkup pekerjaan,  bisnis ,sosial bahkan keluarga.

Keberadaan sosial media jelas berpotensi mempengaruhi serta mengubah kebiasaan dan cara pandang masyarakat akan banyak hal. Tidak hanya pengaruhnya yang besar, aktivitas masyarakat saat ini pun banyak yang menggantungkan hidup dari media sosial. Pada akhirnya media sosial menjadi poros eksistensinya. Kita ambil contoh jual beli online. Mulai dari marketing dan transaksinya, semua bisa dilakukan di media sosial.

Muncul pula istilah-istilah baru seperti netizen, citizen journalism, selebgram, endorse, Instagramable  dll. Cukup banyak orang saat ini menggantungkan penghasilan dari eksistensinya sebagai Vlogers atau YouTubers. Jangan salah, aktivitas tersebut bisa mendatangkan pundi-pundi rupiah dari iklan dan endorsement.  

Tidak hanya dari sisi penghasilan, dari sisi kebiasaan masyarakat juga sangat terikat dengan sosial media. Kita ambil contoh orang yang pergi ke restoran. Dulu ketika sosial media belum ada, kebutuhan akan restoran kalau tidak makan ya untuk sekadar nongkrong. Hal ini jadi berbeda saat gadget meraja. Sekarang ini restoran bukan hanya memenuhi kebutuhan manusia dalam urusan perut, tapi juga masalah eksistensi.

Masuk restoran selfi, sebelum makan instastory dulu, setelah makan buat boomerang video di instagram. Akhirnya menjamurlah restoran yang berkonsep unik agar Instagramable. Ini adalah salah satu cara pemilik restauran untuk menarik pengunjung, baik di dunia maya atau dunia nyata.

Saat kita hidup di era digital dan media sosial harus cepat beradaptasi dan banyak belajar untuk kebutuhan diri dan dakwah. Member edukasi kepada publik adalah pilihan tepat bagi kaum terpelajar. Berbagai kemudahan teknologi yang ada, menuntut orang-orang yang menggunakannya secara bijak. Tetapi anak-anak yang masih polos dalam berpikir dan sikapnya menjadi hal yang menakutkan jika tak ada yang bisa mengarahkan mereka. Maka peran orangtua disini sangat penting, agar bisa mengarahkan dan mendidik anak-anaknya yang hidup di era digital dan media sosial.

Anak-anak hari ini dihadapkan dengan sejumlah permasalahan yang sangat serius, seperti pelecehan seksual pada anak-anak di bawah umur baik laki-laki maupun perempuan, kasus sodomi, dan pornografi. Ini sungguh meresahkan. Bisa dibilang bahwa anak-anak Indonesia sedang mengalami darurat seksual.

Banyak media sosial yang dilengkapi dengan fitur untuk melakukan chat sehingga antara satu orang dengan  orang lain bisa berkomunikasi dan bertukar informasi secara real-time. Inilah diantara yang  merupakan fungsi awal media sosial pertama kali diciptakan, yaitu untuk berkomunikasi drngan orang –orang di belahan dunia manapun.
Untuk menyambungkan kembali hubungan orang-orang yang sudah lama terputus oleh ruang dan waktu, melalui media social bisa tersambungkan lagi. Inilah diantara manfaat media social.

Kerap kali media sosial menimbulkan Kesalahpahaman. sebuah konten yang ada di media social dapat berujung pada masalah besar dan memiliki dampak di masa depan. Bahkan, komentar atau pendapat  seseorang mengenai suatu hal yang kemudian diposting di media social dapat berdampak bagi  kehidupan termasuk pada kehidupan riumah tangga
Berawal melihat foto profil, kemudian melihat profilnya, tertarik ,lanjut pertemanan, saling like share komentar, menjadikan semakin akrab layaknya teman lama, teman baru rasa lama.
Kadang juga iseng mengetikkan nama teman lama yang sudah 35 tahun tidak bertemu, muncullah nama yang dimaksud, dan benar dialah yang dicarai, teman lama yang dulu pernah singgah virus merah jambu di hatinya, maka jadilah saling menanyakan kabar, dimana tinggalnya, anaknya berapa, profesinya apa, dan lain sebagainya, teman lama berasa baru, maka lanjutlah ke chating pribadi, kata kata indah berbau rayuan yang membius pun dilontarkan. Pembicaraan berlanjut  pada  masalah rumah tangga masing masing maka dimulai, saling curhat. Disinilah awal dari prahara rumah tangga, perselingkuhan yang berujung pada perceraian.

Mari bijak berkomunikasi baik di dunia nyata maupun di dunia maya. Jangan asal sharing supaya nggak ada bom waktu bernama hoax. Jangan asal komen supaya nggak menyulut api adu domba. Plus hindari caci maki di sosmed karena mencaci maki bukan karakter seorang muslim. Seseorang mungkin saja keliru menyampaikan istilah atau fakta, langsung dihujat dan dicaci-maki oleh lainnya. Padahal, seharusnya diingatkan dengan baik-baik. Semua orang bisa salah. Tapi tidak boleh setiap ada yang salah jadi bahan untuk nge-bully.

Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka , karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (QS al-Hujurat [49]: 12).[]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox