Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Jumat, 22 Februari 2019

Revolusi Sistem Pendidikan



H. Indarto Imam, S. Pd.
(Forum Pendidikan Indonesia)

Pendidikan yang sekular-materialistik gagal total menghasilkan generasi yang berkarakter mulia sekaligus gagal mengantarkan manusia menjadi sosok pribadi yang utuh, yakni  seorang manusia shalih dan mushlih. Hal ini disebabkan oleh  dua hal.

Pertama, paradigma pendidikan yang didasarkan pada ideologi sekular, yang tujuannya sekadar membentuk manusia-manusia yang berpaham materialistik dalam pencapaian tujuan hidup, hedonistik dalam budaya masyarakatnya, individualistik dalam interaksi sosialnya, serta sinkretistik dalam agamanya. Kedua, kerusakan  fungsional pada tiga unsur pelaksana  pendidikan, yakni: (1)  lembaga pendidikan formal yang lemah; tercermin dari kacaunya kurikulum serta  tidak berfungsinya guru dan lingkungan sekolah/kampus sebagai medium pendidikan sebagaimana mestinya; (2) kehidupan keluarga yang tidak mendukung;  (3) keadaan  masyarakat yang tidak kondusif.

Perlu ada evaluasi merupakan komponen sistem pendidikan yang sangat menentukan sukses tidaknya pendidikan. Iman, takwa, akhlak, tidak bisa dievalusasi secara kognitif semata. Inilah hakikat pendidikan. Dengan pendidikan yang hakiki inilah insya Allah umat memiliki negara maju, kuat, adil, makmur, dan beradab (negara takwa). Begitu pentingnya adab, sampai Imam Syafii menegaskan, "Aku akan mencarinya, laksana seorang ibu mencari anak satu-satunya yang hilang."

Kita berharap, pendidikan kita tidak melahirkan manusia tak beradab (biadab): yang membangkang pada Allah, utusan-Nya, serakah harta dan tahta, serta gila hormat dan popularitas. Kita sepakat, bahwa Kemanusiaan yang adil dan beradab" bukan slogan kosong dan alat propaganda politik.

Kita juga berharap para orangtua juga bersungguh-sungguh menanamkan dasar-dasar keislaman yang memadai kepada anaknya.  Lemahnya pengawasan  terhadap  pergaulan anak dan minimnya teladan  dari orangtua dalam  sikap keseharian terhadap anak-anaknya makin memperparah terjadinya disfungsi rumah sebagai salah satu unsur pelaksana pendidikan.

Masyarakat, semestinya menjadi  media pendidikan yang real, juga  berperan  menegaskan seluruh proses pendidikan di rumah dan persekolahan, bukan malah menegasikan. Sebab, dalam masyarakat  berkembang sistem nilai sekular; mulai dari bidang ekonomi, sosial, budaya, politik,  maupun tata pergaulan sehari-hari; berita-berita pada media masa juga cenderung mempropagandakan hal-hal negatif.

Oleh karena itu,  penyelesaian problem pendidikan yang  mendasar harus dilakukan pula secara  fundamental. Hal itu  hanya dapat diwujudkan dengan  melakukan perbaikan secara menyeluruh yang diawali dari  perubahan paradigma pendidikan sekular menjadi  paradigma Islam. Pada tataran derivatnya, kelemahan ketiga faktor di atas diselesaikan dengan cara  memperbaiki  strategi fungsionalnya  sesuai dengan arahan Islam.

Walhasil, pemahaman tentang karakter ideologi ini menjadi sangat penting untuk dipahami. Ketidakpahaman terhadap ideologi  yang dianut akan menyebabkan pemahaman yang bias terhadap seluruh sistem yang dibangun. Hal itu berimbas pada ketidakpahaman terhadap tujuan suatu sistem pendidikan dan karakteristik manusia yang hendak dibentuknya. Giliran berikutnya, sistem pendidikan yang dijalankan hanya akan membuat program-program pendidikan sebagai sarana trial and error dan menjadikan peserta didik bagai kelinci percobaan.

Islam punya jawaban. Politik pendidikan Islam adalah solusi ideal. Sangat jelas keunggulan sistem pendidikan Islam yang diatur oleh syariat Islam. Dengan bersikap obyektif terhadap syariat Islam, seharusnya manusia yang jujur, berpikir, dan memiliki nurani jernih akan kembali ke pangkuan syariat Islam.[]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox