Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Jumat, 15 Februari 2019

Khilafah Islam: Dampak Mendalam Pada Situasi Geo-Politik Dunia


Fajar Kurniawan
(Analis Senior PKAD)

Indonesia adalah negeri Muslim terbesar baik dari sisi luas daerah, penduduk, kekayaan, dan lain-lain. Umat Islam di Indonesia mempunyai tanggung jawab terbesar terhadap umat Islam di dunia. Kebangkitan Indonesia harus menjadi lokomotif kebangkitan umat Islam dunia. Kita ingin Indonesia menjadi negara besar dan kuat, bebas dari penjajahan dan menjadi pemimpin dunia yang mampu menyatukan umat Islam di seluruh dunia. Umat Islam yang merupakan mayoritas di Indonesia sejatinya menjadi pelaku utama dalam membangkitkan Indonesia. Ini adalah rumah kita.

Momentum sekarang ini sangat pas kita jadikan momentum untuk membulatkan tekad guna berjuang sekuat tenaga mewujudkan kebangkitan umat Islam. Hanya satu jalan untuk itu, yaitu dengan mengemban dan menerapkan akidah Islam dan sistem yang terpancar darinya. Umat Islam khususnya dan umat manusia sedunia umumnya sejatinya tengah menunggu peran kita.
Umat Islam erlu memahami politik Islam dan sejarahnya sendiri.  Sekitar 1500 tahun lalu pada saat Dunia didominasi oleh dua negara adidaya di Timur dan Barat – di satu sisi adalah Emperium Byzantinean (Emperium Romawi Timur), yang satu didasarkan pada sebuah agama monoteis, dan di sisi lain adalah Sassanid / Emperium Persia, yang satunya lagi didasarkan atas kepercayaan Zoroaster.

Pada saat Semenanjung Arab dianggap tidak relevan – karena iklim, peradaban, budaya, – berarti bahwa di era sebelum minyak dan gas, wilayah Teluk tidak layak untuk ditaklukkan. Karena itu kedua negara adidaya saat itu, yang terlibat peperangan satu sama lain, tidak akan pernah membayangkan bahwa kejatuhan mereka akhirnya akan datang, bukan dari yang lainnya, tetapi dari orang-orang Arab. Dalam sejarah sekalipun – Anda dapatkan tidak ada peristiwa-peristiwa yang bisa menjelaskan, tidak ada ilmu politik yang dapat memprediksi, dan munculnya seorang yang mengaku sebagai Nabi dan menerima wahyu dari Allah di abad ke-7 dapat dikatakan sebagai peristiwa yang paling mengguncang dan yang sangat mempengaruhi sejarah.

Dalam masa hidupnya, Nabi Muhammad menyeru orang-orang kepada Islam hanya seorang diri dan awalnya dengan pengikutnya dan setelah 13 tahun mereka mendirikan sebuah di Madinah yang dipimpin oleh Nabi Muhammad. Dia terlibat dalam semua kegiatan sebagai seorang pemimpin negara – menangani masalah-masalah internal, pembentukan aturan hukum, perpajakan dan kontrol ekonomi, dan terlibat dalam bidang diplomasi asing dengan mengirimkan dan menerima para duta negara-negara lain, terlibat dalam peperangan dan mengintegrasikan komunitas-komunitas baru kedalam Negara. Pada saat dia menyelesaikan misinya di bumi 10 tahun kemudian, Negara yang ia telah bentuk telah membentang di seluruh semenanjung Arab, pengikutnya berjumlah ratusan ribu orang, dan negara itu berhadapan dengan dua negara adidaya saat itu di kawasan itu.

Seseorang mungkin bisa membayangkan bahwa setelah kematian seorang pemimpin dengan inspirasi yang demikian hebatnya, momentum itu akan melambat. Hal ini mungkin benar terutama jika seseorang menganggap bahwa kepemimpinan yang paling karismatik telah hilang, yang mungkin dapat menyebabkan perpecahan di dalam negeri, dan juga bahwa ekspansi akan mendapatkan konfrontasi militer dan kekalahan dari dua negara adidaya pada waktu di wilayah mereka sendiri.

Namun – di bawah 4 orang pemimpinan pertama selama sekitar 30 tahun – yang dikenal sebagai Khulafaa ar-Rashideen –  yakni Khilafah –  suatu kata yang diambil dari berbagai pernyataan Nabi Muhammad dan makna dari kata itu yang berarti penerus – jadi dalam hal ini adalah penerus Nabi, bukan dalam hal kenabian dan menerima wahyu, namun dalam kepemimpinan politik dan penerapan dan perluasan Negara Islam – dan meluaskannya ke arah barat di Afrika Utara dan ke arah Timur melewati apa yang kita sebut sebagai Iran dan Afghanistan.

dan kemudian, seratus tahun ke depan setelah itu di bawah periode pemerintahan pertama – Khilafah telah menyebar ke arah barat di Afrika Utara dan bahkan sampai ke Spanyol, sementara dari arah Timur menyebar ke daerah-daerah yang dikenal sebagai Tajikistan dan Kyrgyzstan. Perlu dicatat disini bahwa titik pertama kontak langsung jika Anda menyukainya, antara Eropa di bawah kekuasaan Kekhalifahan Islam terjadi pada awal abad ke-8, kurang dari seratus tahun setelah munculnya Islam di Arab, dan otoritas Islam dalam satu bentuk atau ke bentuk lainnya tetap berkuasa selama hamper 800 tahun. Singkatnya, contoh Peradaban Islam dan pemerintahan di Eropa, dan apa yang hilang ketika pemerintahan Islam diusir dari Spanyol di abad ke-15 – telah diringkas oleh Stanley Lane-Poole yang menulis bahwa pada akhir abad ke-19  bahwa “selama hampir delapan abad, di bawah pemerintahan Mohammadan, Spanyol memberikan ke seluruh Eropa contoh sukses sebuah Negara yang beradab dan tercerahkan “, yang kontras dengan ketika pemerintahan itu dihapuskan sehingga dia menyatakannya sebagai “masa kegelapan yang sejak itu Spanyol telah jatuh kedalamnya”.  Negara Islam merupakan model multi-kulturalisme pada waktu itu, dan apa yang menggantikannya adalah inkuisisi Spanyol yang merupakan jenis yang paling keji dari control pemikiran yang merasuk kedalam keyakinan pribadi dan umum dan penyembahan atas subjeknya, sesuatu yang merupakan renungan yang berharga mengingat keadaan yang terjadi saat ini di Eropa.

Sebagaimana kontak yang terjadi dengan Timur, hal ini terjadi bahkan lebih awal lagi – dengan Utsman bin Affan Khalifah ketiga yang mengirim utusan kepada Kaisar Cina pada tahun 650 AD. Diceritakan bahwa utusan itu – Sa’ad bin Abi Waqqas – membangun masjid pertama di Cina yang antara lain dikenal sebagai Masjid Agung Kanton. Sebagai akibatnya, ada banyak hubungan dagang yang terjadi antara Negara Islam dan Cina, seperti yang terjadi pada masa Dinasti Sung. Memang, contoh Peradaban Islam di Timur memiliki sejarah yang mendalam dan kaya ikatan budaya, ekonomi dan politik. Pada titik ini – mari kita berpikir jernih dan mempertimbangkan beberapa karakteristik yang merupakan dasar orisinil bagi Khilafah Islam, yang menyebabkan Islam memiliki dampak begitu mendalam pada situasi geo-politik Dunia selama masa itu.

Seperti Negara manapun – perhatikanlah bagaimana negara itu mengikat orang-orang yang hidup di dalamnya, dari sumber-sumber apa legitimasinya berasal, dan bagaimana sifat pemerintahannya. Ikatan mereka cukup sederhana – agama universal – hal itu adalah pesan yang diadopsi Islam yang memungkinkannya untuk mengikat secara bersama-sama berbagai macam orang dengan kepentingan yang berbeda, dan memberikan mereka suatu misi untuk mendakwahkan pesan itu kepada bagian dunia yang lainnya.

Ini berarti juga bahwa hal ini  bersifat ekspansionis, yang merupakan sifat dari setiap Negara yang meyakini sebagai pembawa Kebenaran. Negara ini juga memiliki kebijakan asimilasi yang sangat efektif – dimana siapa pun bisa menjadi seorang Muslim, dan Anda bisa lihat khususnya di daerah-daerah yang dibawa kedalam pemerintahan Islam dalam seratus tahun pertama kekuasaanya- sebagian besar penduduknya menjadi Muslim dan tetap menjadi Muslim hingga saat ini. Negara itu termasuk Spanyol, yang populasi Muslimnya tidak lagi mayoritas karena dilakukannya pengusiran dan pembersihan kaum Muslim pada saat inkuisisi. Pada saat yang sama, pemerintahan Negara didasarkan pada supremasi hukum, dan karenanya pada umumnya tidak ada yang dipaksa untuk menjadi Muslim.

Dunia butuh khilafah? Seruan bagi Kekhilafahan ini tidak hanya bergema di negara-negara Muslim, dan pencarian bagi alternatif itu tidak terbatas pada umat Islam. Orang-orang Barat juga kecewa dengan materialisme pada masyarakat konsumtif dan kemunafikan yang dirasakan dari demokrasi liberal Barat yang mengklaim mewakili massa, namun pada kenyataannya mewakili kepentingan para elit dan bertanggung jawab atas sebagian besar kejahatan terbesar pada abad yang lalu yang pada kenyataannya mungkin adalah kejahatan terbesar dalam sejarah – dari mulai menjatuhkan bom atom; kejahatan dengan kekerasan atas warga sipil dari Vietnam, Irak hingga Afghanistan, rendisi, penjara dan penyiksaan terhadap para tahanan politik apakah itu dilakukan oleh Inggris di Malta pada awal abad ke-20 hingga penggunaan Guantanamo Bay di awal abad 21 – peradaban Barat telah menjadi semakin jauh terkucilkan diantara rakyatnya sendiri.[]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox