Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Jumat, 01 Februari 2019

JIKA JOKOWI TERPILIH LAGI



Firdaus Bayu, Pusat Kajian Multidimensi

Menjelang lima tahun sudah masa kepemimpinan Jokowi, banyak perubahan yang bangsa ini alami. Sayangnya, perubahan itu terasa lebih banyak mengarah pada kemerosotan. Mulai dari kemerosotan ekonomi, kebebasan berpendapat, realisasi janji, juga sikap terhadap dakwah Islam.

Di bidang ekonomi, banyak pengamat menyebut perekonomian di era Jokowi semakin melesu, daya beli masyarakat menurun, harga BBM dominan mengalami kenaikan, banyak pengangguran tak tertolong, tenaga kerja asing justru berbondong-bondong.

Soal kebebasan berpendapat, era Jokowi disebut-sebut sebagai model kepemimpinan represif. Bagaimana tidak, di masa Jokowi lah pintu berpendapat dipersempit, media kritis diblokir, aktifis lantang ditangkap, ulama lurus dipolisikan, ormas Islam dibubarkan, dan sederet aksi lainnya yang semakin jelas menunjukkan betapa rezim Jokowi telah mengekang kebebasan suara rakyatnya. Di masa Jokowi lah seorang pembongkar skenario jahat PKI justru dipenjarakan, sementara istananya pernah menerima tamu komunis Vietnam. Apakah komunisme benar-benar sudah mendapat pelukan rezim ini?

Perihal realisasi janji, hampir di setiap media tersebar kabar buruk bagi Jokowi, bahwa dirinya telah banyak mengingkari janjinya sendiri, janji untuk tidak berhutang, janji membesarkan pertamina, janji untuk membangun 50 ribu puskesmas, janji untuk mewujudkan swasembada pangan (tidak impor pangan), janji untuk buyback Indosat dan membuka 10 juta lapangan kerja untuk pribumi, dan janji-janji lainnya yang ternyata tak terbukti. Berdasarkan data, setidaknya ada 66 janji Jokowi yang tidak terbukti. Itulah beban masa lalu Jokowi.

Lalu bagaimana dengan sikap Jokowi terhadap dakwah Islam? Semua publik telah tahu, bahwa Jokowi adalah satu-satunya rezim yang banyak disebut oleh rakyatnya sendiri sebagai rezim anti Islam. Hal itu tegas dibuktikan dengan apa yang telah dilakukannya selama ini terhadap para ulama yang tidak pro dengannya. Ulama yang memiliki daya kritis terhadap dirinya seringkali dicap sebagai kelompok Islam radikal, intoleran, anti NKRI, anti Pancasila, dan sederet tuduhan dungu lainnya. Dakwah Islam benar-benar mengalami kesulitan di periode pertama Jokowi, dan bisa diduga bagaimana jadinya nanti jika dia terpilih kembali untuk kali keduanya. Mungkinkah akan bertambah parah? Bisa saja.

Jika Jokowi terpilih lagi, entah apa berikutnya yang bakal terjadi. Nalar rakyat yang masih hidup tentu akan mampu menjawabnya, tentang bagaimanakah posisi rupiah dan kesehatan ekonomi Indonesia nanti, dimanakah kebebasan berpendapat yang semakin ditenggelamkan hari ini, berapa banyak lagi pengingkaran janji akan terjadi, dan bagaimanakah nasib dakwah Islam serta para ulamanya di periode keduanya nanti. Apakah pencitraannya akan berhasil? Kita lihat saja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox