Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Senin, 07 Januari 2019

Sekularisme Mengusik Ketahanan Keluarga


Oleh : Septa Yunis
(Staf Khusus Muslimah Voice)

Keluarga yang ideal adalah dambaan setiap ummat. Namun, untuk mewujudkan keluaga yang demikian bukanlah sesuatu yang mudah. Apalagi ditengah kondisi seperti yang kita alami saat ini. Sistem sekuler yang telah mengungkung masyarakat dan membuat hidup semakin sempit.

Keluarga sejatinya merupakan benteng terakhir dalam pertahanan suatu Negara. Kondisi keluarga akan menentukan kondisi suatu Negara. Keterpurukan dan kerusakan yang melanda keluarga umat saat ini berkontribusi terhadap kondisi negeri ini.

Namun permasalahan demi permasalahan banyak mendera keluarga umat saat ini. Seperti kemiskinan, kekerasan dalam rumah tangga, perselingkuhan dan perceraian. Di Indonesia kasus perceraian dari tahun ke tahun semakin meningkat. Dari data Pengadilan Agama klas 1 A Karawang tahun 2017, ada 3.714 perkara atau 90,34 persen dari total perkara 4.011 yang masuk, merupakan kasus perceraian. Pada semester satu 2018, ada sekitar 954 kasus perceraian yang masuk. (merdeka.com)

Dampak yang akan terjadi sudah bisa ditebak, trend single parent terus meningkat. Akibatnya sangat berdampak buruk pada anak. Karena anak kehilangan salah satu tiang penyangga dalam keluarga. Kenakalan remaja tidak bisa dibendung lagi. Hal ini menjadi salah satu potert buram terpuruknya keluarga muslim.
Selain itu, kondisi ekonomi juga berpengaruh besar terhadap keutuhan keluarga umat. Angka kemiskinan masih relative tinggi. BPS mencatat pada Maret 2018 jumlah penduduk miskin 25,95 juta orang. (detik.finance)

Permasalahan yang melanda keluarga umat menunjukan bahwa kondisi keluarga umat saat ini sedang mengalami kerusakan yang jika terus dibiarkan akan membawa kepada kehancuran keluarga. Kehancuran keluarga ini perlahan tapi pasti akan membawa kehancuran negeri ini.

Kondisi seperti inilah yang diinginkan oleh Barat yang menganut paham sekuler. Mereka berusaha memisahkan agama dari kehidupan. Pandangan ini pula yang merendahkan peran agama dalam kehidupan, mereka memaksa kaum perempuan bekerja keluar rumah bersama dengan kaum laki-laki dan meninggalkan peran utama mereka.

Berbagai masalah diatas membuktikan kegagalan negara dalam meriayah rakyatnya. Islam memandang negara adalah sebagai penyelenggara atau pelayan manusia. Dan tiap manusia mempunyai kewajiban untuk beribadah pada sang Khaliq nya. Untuk itu sebuah negara harus memfasilitasi dengan perundang-undangan dan perangkat penegak hukum demi melayani kemudahan dan keteraturan tiap pribadi/warga negara dalam menjalankan kewajibannya.

Sebuah negara dengan sistem Islam dan undang-undang Islam akan menjamin keadilan, kesejahteraan semua warganya termasuk non-muslim.
Melindungi warganya dari pemaksaan aqidah (pemurtadan), menjaga harta tiap-tiap warga, menghargai intelektualisme dan menjaga jiwa, martabat manusia. Islam menolak kapitalisme, imperialisme yang berujung pada penguasaan kekayaan pada sebagian kecil orang dan penjajahan manusia atas manusia yang lain.

Selain itu, Islam juga telah mengatur dan menetapkan peran laki-laki dan perempuan dalam rumah tangga. Peran suami sebagai pemimpin rumah tangga dan wajib memimpin dan melindungi serta memberikan nafkah kepada angota keluarganya. Sedangkan peran istri sebagai ibu dan pengatur rumah tangga yang bertanggung jawab mengatur rumah tangganya di bawah kepemimpinan suami.

Khilafah sebagai wadah penerapan Islam memberikan solusi yang tuntas untuk semua permasalah umat ini. Sejarah telah mencatat selama 13 abad lamanya Islam dalam bingkai Khilafah mampu menaungi umat ini. Karena Khilafah yang akan merealisasi dan melaksanakan serangkaian hukum Islam. Yang akan menjadi perisai yang akan melindungi kita. Khilafah ala minhaj Nubuwah yang saat ini dinantikan umat yang yakin akan janji Allah dan Rasul-Nya. Negara yang akan menebarkan rahmat bagi semesta alam.[]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox