Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Kamis, 24 Januari 2019

Pokok Bukan Jokowi?



Hadi Sasongko
(Koordinator POROS)

Opini publik ‘pokok bukan jokowi” telah terbentuk di kalangan grassroots dengan berbagai indicator, diantaranya dujungan gerakan #2019GantiPresiden. Jokowi yang dulu dielu-elukan itu, kini dianggap hanya membuat musibah. Bagi sebagian segmen muslim Indonesia, kepemimpinannya bukan membuat kehidupan menjadi lebih tenang.

Sebagian kalangan Muslim dianggap para pengamat telah banyak yang menjadi korban media, yang memang sudah disetting membuat berpikirnya kalangan Muslim, berubah dan terbalik. Mereka percaya bahwa Jokowi itu, manusia suci, dan sangat ‘mumpuni’, dan akan membebaskan Indonesia dari berbagai belitan masalah.

Dalam kepemimpinan Jokowi, Indonesia dianggap jatuh menjadi subordinasi asing. Kini kecakapan untuk memimpin Negara banyak dipertanyakan, volume kapabilitasnya dianggap tak memenuhi syarat dan jumlahnya pun tidak mencukupi. Menurut Asyari Usman, wartawan senior, Banyak orang yang tahu bahwa Jokowi tidak memiliki kemampuan ‘national leadership’ (kemimpinan nasional) itu. Tak punya kemampuan untuk memimpin negara. Luhut Binsar Pandjaitan tahu. Megawati tahu. Hendropriyono sangat paham. Begitu juga Surya Paloh, Wiranto, dll. Mereka ini adalah para pemain yang berpengalaman.

Selanjutnya, Presiden dianggap tidak memiliki kemampuan untuk memimpin negara. Inilah presiden yang dinaikkan agar dia bergantung kepada para politisi ‘buaya darat’. Buaya-buaya itu tidak memikirkan kemaslahatan bangsa dan negara. Yang mereka utamakan adalah keuntungan pribadi.

Bahkan, menurut pengamatan banyak orang, mereka itu bukan sekadar tahu Jokowi tak punya kemampuan. Mereka, kata para pengamat, sengaja mempromosikan Jokowi yang tidak berkompetensi itu. Tujuannya, supaya Jokowi menjadi bergantung kepada mereka. Supaya mereka bisa punya kesempatan untuk ‘membantu’ Jokowi.

Bekas Menko Maritim Rizal Ramli menuding pendukung Presiden Joko Widodo anti-Islam alias Islamophobia. Tak hanya itu,, sebagaimana dikutip dari JPNN, dia juga menyebut Jokowi dikelilingi orang-orang yang tidak suka kepada Islam. Hal itu disampaikannya saat berbicara mengenai pengadangan tokoh gerakan #2019GantiPresiden Neno Warisman di Batam beberapa waktu lalu. Rizal mengecam keras tindakan tersebut. Menurut Rizal, aksi tersebut justru berdampak buruk terhadap elektabilitas Jokowi sebagai petahana. Pasalnya, pelaku adalah pendukung Jokowi. “Di samping Pak Jokowi banyak sekali yang Islamophobia, bodoh dan salah langkah. Elektabilitasnya yang besar jadi 30 persen,” imbuhnya. Lebih lanjut Rizal berharap para pelaku persekusi itu ditangkap oleh polisi, sama halnya seperti teroris. “Terorisme tidak usah ditanya agama dan sukunya lagi, tangkap saja, itu baru adil,” tandasnya
Pencabutan BHP HTI dan gencarnya proyek infrastruktur di era Presiden Joko Widodo (Jokowi), ternyata dianggap blunder. Terkait proyek infrastruktur, penggalakan pembangunan infrastruktur yang serampangan oleh pemerintahan saat ini, telah membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Republik Indonesia, hingga defisit Rp 341 triliun pada 2014. Adapun kebijakan kenaikan anggaran, subsidi, bantuan sosial, dana desa, itu bukan karena kepentingan masyarakat, itu dalam rangka pemilu 2019. Akibatnya apa, akibatnya APBN semakin terbebani, dan defisit semakin besar.

Penurunan laju ekonomi Indonesia, adalah akibat kebijakan salah arah yang diterapkan pemerintahan Jokowi, hingga menyebabkan penurunan daya beli masyarakat, dan rendahnya pertumbuhan sektor industri. Hal ini tentunya berdampak terhadap sedikitnya penerimaan pajak negara, yang hingga saat ini sulit untuk dinaikkan kembali.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox