Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Kamis, 10 Januari 2019

Pandangan Politik Baru Yang Radikal Bagi Perempuan, Apa Itu?



Ainun Dawaun N.
(Pengamat Sospol)

Perempuan yang seharusnya menjadi pembuat ketenangan dan ketentraman keluarga, penjaga anak-anak dan pengurus rumahtangga, akhirnya dibebani tanggungjawab ‘menyelamatkan’ kondisi ekonomi keluarga. Sifat kasih sayang yang telah Allah lekatkan kepada para ibu terkikis seiring interaksi yang terus berkurang akibat mereka meninggalkan rumah. Bahkan tak jarang dalam hitungan tahun mereka tidak bertemu dengan anak-anaknya karena menjadi TKW.

Saat bekerja, para perempuan, kaum ibu ini rentan penganiayaan. Berbagai kezaliman mereka rasakan, gaji tidak dibayar, dilecehkan, disiksa, diperkosa, bahkan dibunuh. Fungsi ibu sebagai ‘madrasah pertama’ bagi putera-puteri mereka tidak berjalan. Pendidikan Aqidah, Syari’ah, Akhlak dan pembentukan kepribadian anak yang wajib dilakukan oleh ibu tidak terjadi. Pengontrolan intensif setiap hari terhadap perkembangan naluri dan jiwa anak terabaikan.

Namun kita ketahui, selama puluhan tahun, kaum perempuan di seluruh negeri Muslim mengalami kemiskinan, eksploitasi, tekanan politik, ketidakadilan dan pelecehan di bawah pemerintahan buatan manusia; monarki, teokrasi, sistem adat, demokrasi sekular, dan kediktatoran. Semua sistem tersebut gagal melindungi kemuliaan dan hak-hak perempuan. Sebagian dari penguasa dan sistem tersebut telah merampas hak politik, ekonomi, pendidikan dan hukum bagi perempuan.

Namun sekarang, dengan kebangkitan yang menyebar ke seluruh Arab dan negeri-negeri Muslim, ada kesempatan bersejarah untuk membawa perubahan nyata bagi perempuan di wilayah tersebut. Bagaimanapun, perubahan yang sesungguhnya itu tidak bisa diwujudkan melalui reformasi parsial, atau dengan menambah kuota perempuan di parlemen dan pemerintahan, atau dengan menjamin hak perempuan yang diabadikan di dalam konstitusi baru.

Sebagian besar negeri-negeri Muslim di dunia seperti Pakistan, Sudan dan Afganistan yang memiliki kuota perempuan lebih tinggi di parlemen dan pemerintahan daripada negara Barat, ternyata tidak meningkatkan standar hidup perempuan di masyarakat. Banyak juga negari-negeri Muslim yang menandatangani perjanjian internasioal perempuan, seperti CEDAW, dengan memasukkan hak-hak perempuan dalam bidang politik, ekonomi, pendidikan dan hukum ke dalam undang-undang. Namun, hak-hak ini berperan kecil di bawah sistem politik yang bermain untuk kepentingan elit atas rakyat kecil dan di bawah disfungsi ekonomi yang mengkonsentrasikan kekayaan negara di tangan segelintir orang dan memiskinkan sebagian besar rakyat.

Namun ada banyak fakta yang sangat jelas bahwa ide kapitalis-liberal telah gagal menyelesaikan persoalan perempuan. Sebaliknya justru telah sukses menjerumuskan perempuan ke dalam jurang kejahiliyahan dan kegelapan. Betapa tidak, kondisi kaum perempuan saat ini tidak banyak berbeda dengan nasib perempuan sebelum Islam datang.

Kemunculan pergerakan ini di Barat adalah akibat langsung dari kegagalan sistem sekular untuk menjamin hak-hak dasar warga negara untuk perempuan. Perjuangan perempuan seperti ini adalah hal yang asing bagi Islam, karena sistem Islam telah menjaga hak-hak perumpuan di bidang politik, ekonomi dan pendidikan pada 1400 tahun yang lalu.

Selain itu, bila kita amati perayaan hari perempuan sedunia sering dilakukan di negeri-negeri Muslim untuk mengkampanyekan nilai-nilai sekular-liberal sebagai alat untuk meliberalkan perempuan Muslim. Ide-ide ini mendukung hasrat dan pikiran manusia sebagai dasar perbuatan daripada mengacu pada perintah Allah SWT. Jadi, Islam dan Hizbut Tahrir memandang, perayaan hari perempuan ini berakar dari sejarah dan budaya sekular Barat dan mengkampanyekan nilai-nilai yang bertentangan dengan keyakinan Islam.

Membawa perubahan nyata untuk perempuan di negeri-negeri Muslim membutuhkan pandangan politik baru yang radikal. Kami, para muslimah, yakin bahwa hanya konsep Islam yang menawarkan ini. Sistem Islam dalam bentuk negara adalah negara yang ditegakkan atas hukum-hukum Allah SWT, Zat Yang mengetahui yang terbaik tentang bagaimana mengurus urusan umat.

Sistem tersebut adalah satu-satunya yang mampu menangani dengan kredibel dan memberikan solusi praktis untuk berbagai masalah politik, ekonomi dan sosial yang saat ini menimpa perempuan di seluruh negeri-negeri Muslim dan di seluruh dunia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox