Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Minggu, 27 Januari 2019

MERAWAT TRADISI INTELEKTUAL



Oleh : Dr. Ahmad Sastra
_Dosen Filsafat Pascasarjana UIKA Bogor dan Institute Al Zuhri Singapore_

Peralihan dari dominasi mitos ke tradisi rasional menandakan bahwa suatu bangsa itu tengah memasuki dimensi intelektual. Kolaborasi antara rasionalitas dan empirisme melahirkan tradisi riset ilmiah (scientific method) dimana sebuah peradaban berdiri kokoh diatas pondasi ini.

Tugas kaum intelektual adalah meletakkan pondasi ideologis paradigmatik bagi kemajuan peradaban suatu bangsa. Kaum intelektual mestinya adalah mereka yang senantiasa merenung dan berfikir bagi pencerahan kehidupan sesuai dengan predikat yang disandangnya. Ibarat lentera, kaum intelektual adalah penerang dalam gelapnya kehidupan.

Peran strategis intelektual  adalah mengawal kehidupan dan peradaban agar berjalan menuju kemajuan dan kemuliaan. Bukanlah sesuatu yang sulit bagi kaum intelektual untuk melihat Indonesia. Indonesia adalah negara besar yang memiliki potensi sumber daya manusia dan sumber daya alam melimpah.

Indonesia, negeri zamrud katulistiwa yang dianugerahi Allah kekayaan alam yang sangat melimpah. Tidak ada negara di dunia yang memiliki kekayaan alam seperti di Indonesia. Itulah kenapa dari dulu Indonesia selalu menjadi incaran para kolonial, baik kolonialisme gaya lama maupun penjajahan gaya baru.

Islam adalah agama ritual sekaligus peradaban. Sepanjang 1400 tahun peradaban Islam tegak menjulang dan menjadi mercusuar bagi inspirasi peradaban dunia di masa berikutnya. Ayat-ayat kosmologis dalam Al Qur’an terukir indah diatas lembaran karya intelektual muslim saat itu. Dari kekayaan teks inilah lahir sains dan teknologi pada zaman keemasan Islam kala itu.

Benar apa yang diungkap oleh Al Faruqi dalam buku Tauhid bahwa peradaban Islam berpondasikan intelektualitas dan tauhid sekaligus. Kesatuan akal dan wahyu telah menjadi determinasi peradaban Islam dibanding dengan peradaban lain.

Mengomentasi karakter kesatuan tunggal peradaban Islam, Michael H Hart mengatakan, “My choise of Muhammad to lead the list of the world’s most influential persons may surprise some readers be questioned by other, but he was the only man in history who was supremely seccessful on both the religious and seculer levels’.

Islam memandang ilmuwan, intelektual dan ulama sebagai sebuah kemuliaan yang akan mendapat derajat di sisi Allah. Pada surat Al Mujadilah Allah berjanji akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara manusia dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.

Kaum intelektual muslim adalah mereka yang mengintegrasikan antara pemikiran ilmiah dan wahyu. Wahyu dijadikan sebagai landasan ontologis, epistemologi dan aksiologi dalam melakukan berbagai riset terhadap manusia, kosmos dan kehidupan. Lahirlah dari para intelektual muslim ilmu-ilmu sosial, ilmu alam dan teknologi terapan yang memberikan manfaat bagi kehidupan manusia.

Kebangkitan masa keemasan Islam menorehkan sejarah yang gemilang. Para intelektual muslim seperti Al Biruni, Al Khawarizmi, Ibnu Sina, Jabir Bin Hayyan dan Al Kindi. Berbagai bidang ilmu seperti astronomi, kedokteran, geometri, politik, fisika, kimia, sejarah, geologi, seni, musik,  sastra, olah raga hingga farmasi.

Kemajuan peradaban Eropa tidaklah bisa dilepaskan dari inspirasi peradaban Islam. Gerardo de Cremona telah melakukan penerjemahan karya-karya Ar razi, Ibnu Sina, dan Az Zahrawi. Sementara Aderald of Bath menerjemahkan karya Al Khawarizmi. Hal ini menunjukkan kemajuan di bidang sains dan riset ilmiah dalam peradaban Islam.

Landasan epistemologis peradaban Islam telah Allah firmankan dalam Surat Ali Imran : 190 – 191 " Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda kebesaran Allah  bagi orang-orang yang berakal  yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk dan dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi seraya berkata,' ya Tuhan, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Maha suci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka",

Dalam Tafsir Ibnu Katsir diceritakan bahwa ketika turun ayat tentang Ulil Albab Rasulullah menangis hingga air matanya membasahi janggut dan menetes ke bumi. Lantas sahabat Bilal bertanya, wahai Rasulullah kenapa Engkau menangis, bukankah Engkau adalah orang yang telah diampuni dosanya oleh Allah dari dosa-dosa terdahulu hingga yang akan datang". Rasulullah menjawab," Wahai Bilal, bukankah aku belum menjadi hamba yang  bersyukur ?.  Aku menangis karena baru saja mendapatkan wahyu tentang Ulil Albab,  maka celakalah bagi orang-orang yang membaca ayat ini lalu tidak bertafakur dan merenungkannya".

Dengan demikian, jika Indonesia hendak memiliki peradaban maju dan mulia yang sarat dengan nilai ketuhanan, persatuan, kemanusiaan, keadilan, berkeadaban, berhikmah, keamanan, keselamatan dan kesejahteraan, maka harus terus membangun tradisi intelektualitas dan spiritualitas.

Menumbuhkan dan merawat intelektualitas dan spiritualitas adalah bagian terpenting bagi tegaknya peradaban bangsa ini. Sebaliknya, jika bangsa ini masih terjebak dalam kubangan mitos disisi kiri dan ritual an sich di sisi kanan, maka peradaban dan kemajuan sains dan teknologi hanyalah utopis. Menanam peradaban butuh waktu panjang, maka bangsa muslim terbesar ini harus tumbuh dan mewariskan intelektualitas spiritualitas kepada generasi  masa depan.

Mengapa harus bersanad kepada tradisi intelektual Islam, sebab Islam menawarkan kemajuan sekaligus kemuliaan. Ibarat sungai, jika hulunya baik, maka hilirnya juga akan baik. Bukan hanya soal ilmu, tapi negara dan peradaban juga harus bersanad. Bukankah negeri ini mayoritas muslim dan telah diteguhkan sebagai negara berdasar Ketuhanan Yang Maha Esa yang bercita-cita terwujudnya keadilan, kemanusiaan, keberadaban, persatuan, dan kesejehteraan bagi seluruh rakyat Indonesia. [Tulisan ini sudah dimuat di Harian Umum Republika, 25/01/19]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox