Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Selasa, 29 Januari 2019

Brexit, USA Shut Down, Venezuela Crisis And Khilafah Will be Back Coming Soon



M. Nur Rakhmad

Dunia larut dalam kekacauan. Politisi barat tidak dapat memahami kekacauan yang telah mereka ciptakan, baik itu Brexit, krisis ekonomi di Venezuela, Amerika Shut Down dan perpecahan maupun kebencian yang terus terjadi karena kelemahan mereka sendiri. dan dunia menyaksikan para politisi demokrasi hanya loyal kepada kepentingan kaum elit kapitalis yang memerintah di Barat sampai ke timur.

Sejak pemungutan suara Brexit dan penerapan pasal 50 di Inggris, politik kacau tingkat tinggi Inggris tidak dapat menawarkan suara yang padu pada setiap Anggota Parlemen. Hasilnya adalah bahwa salah satu masalah utama dalam Sejarah Inggris adalah subjek dari permainan "political game" yang menjatuhkan Inggris dalam lubang hitam Krisis kepemimpinan, konflik politik dan krisis ekonomi. Orang-orang Inggris masih menunggu kepemimpinan sejati. Mereka masih bermimpi karena mereka memang pernah menjadi salah satu negara adidaya dan mungkin diantara rakyatnya masih belum bisa Move on dengan kedigdayaan negaranya pada masa lalu.

Demokrasi, politik negara, dan kebanggaan nasional di Inggris dan di banyak negara kapitalistik telah menjadi candu massa. Orang-orang menganut mereka dengan harapan sarana untuk menyelesaikan masalah politik, ekonomi dan sosial mereka. Namun, pada kenyataannya mereka tidak menawarkan solusi untuk masalah mereka; mereka malah melipatgandakan masalahnya. Politikus demokrasi terus berpetualang, mereka hanya diharapkan karena mereka menyajikan bentuk 'trial and error' politik di mana politisi menggunakan dugaan untuk mencoba mencari cara terbaik untuk mengatur negara.

Tentunya, model politik semacam itu yang pada dasarnya memimpin suatu bangsa sementara matanya ditutup dan system demokrasi tidak akan pernah menjadi sistem terbaik untuk bagaimana memerintah suatu bangsa. Karena itu, tidak mengherankan bahwa kita melihat jenis kerusuhan yang terjadi di banyak negara karena situasi ekonomi yang buruk di negara itu.

Bicara Krisis Venezuela, pada 3 Juni 2018, Trump mengatakan di dalam tweetnya, saya baru saja berbicara dengan Raja Salman, raja Kerajaan Arab Saudi, saya jelaskan kepadanya bahwa disebabkan gejolak dan kekacauan di Iran dan Venezuela, saya minta Saudi untuk meningkatkan produksi minyak, mungkin kenaikannya mencapai 2 juta barel untuk mengkompensasi selisih Harga (seperti yang dia katakan) tinggi! Dia setuju! (al-Hurra, 30/6/2018). Sanksi Amerika Serikat terhadap industri minyak Venezuela masih berjalan. Sebagai negara Adidaya yang merasa bisa ikut campur segala urusan negara lain AS menyatakan pemilu Venezuela sebagai sebuah "penipuan", sehingga kemungkinan hal ini akan segera terjadi.

Amerika pada 4/11/2018 juga bertekad meningkatkan sanksi terhadap Iran dengan menyasar ekspor minyak dan menekan pemerintahan dan korporasi di seluruh dunia untuk patuh dan menurunkan pembelian minyak dari Iran. Makna hal itu bahwa penawaran minyak akan menurun di pasar global. Sebagaimana telah dijelaskan pernyataan tujuh negara produsen terbesar minyak yang telah disebutkan, Iran memproduksi lebih dari 4 juta barel minyak per hari.

Kekuatan asing memanfaatkan sumber daya dunia Islam untuk memainkan inisiatif menentang satu sama lain. Pada waktu yang sama, para penguasa ruwaibidhah (Red:Penguasa khianat) kita mengikuti politik ini secara buta dan tanpa penghormatan untuk kemuliaan umat. Ini dan perlu diketahui bahwa mayoritas deposit minyak global tersimpan di wilayah islami, baik apakah hal itu di negeri arab atau di Iran atau di Afrika seperti Nigeria ataukah di Asia Tengah semisal Kazakhstan dan Turkmenistan atau Kaukasus seperti Azerbaijan.

Pada saat ekonomi AS dicekam bayang-bayang krisis bayangkan sebuah negara yang adidaya Shut down, Presiden AS berupaya menjadikannya kampiun dalam sikap xenofobia kaum nasionalis di Amerika. Namun para pemilih Amerika telah bosan dengan kemerosotan intelektual para politisi mereka, sebagaimana yang dialami oleh sejumlah penduduk Eropa, dan gelombang kemenangan kandidat kaum populis baru-baru ini telah mengungkap begitu mudahnya menang pemilu dengan cara menyalahkan orang lain. Namun, meskipun orang-orang membayangkan bahwa orang yang baru terpilih itu akan membawa perubahan yang sangat dibutuhkan, mereka sangat kecewa ketika menyadari bahwa dalam demokrasi makin merosot, dan tidak ada yang benar-benar berubah sama sekali.

Permasalahan dalam demokrasi tidak hanya terbatas di Indonesia namun juga di seluruh dunia barat lainnya baik di Inggris, Amerika Serikat, Perancis, Jerman, Italia, Spanyol atau tempat lahirnya peradaban Barat  Yunani, dimana para pemilih bersikap apatis, terjadinya kecurangan pemilu, pengaruh kelompok-kelompok kepentingan dan korupsi adalah kasus-kasus yang terlalu umum. Entah itu mereka berhaluan kanan(Red:Kapitalisme) ataupun yang berhaluan kiri(Red:Sosialisme & Komunisme). Dongeng-dongeng Keadilan bahkan Utopia mereka suara rakyat suara Tuhan dikuasai para pengendali dibelakang layar yang licik Nan arogan yang hanya segelintir orang yang tak memilik Aqidah atau agama.

Bagi setiap masalah politik, kita tahu bahwa kebohongan adalah sebuah solusi demokrasi. Bagi setiap peradaban, bagi setiap negara untuk setiap suku, setiap waktu  terdengar mantra  demokrasi adalah jawaban atas semua kerusakan yang kita rasakan. Pada dekade terakhir, kita telah melihat bagaimana Barat mengirim anak-anaknya untuk berperang di Irak dan Afghanistan untuk menyebarkan demokrasi, sementara di negerinya sendiri rakyatnya mengucilkan politik dalam demokrasi.

Demokrasi pada saat ini memiliki arti yang berbeda bagi orang yang berbeda, masyarakat sekuler Barat, tidak memiliki monopoli untuk mengklaim demokrasi sebagai milik mereka. Masyarakat lain melihat demokrasi tidak lebih dari sekedar pemilu  bahwa demokrasi harus memiliki karakter nilai-nilai dan lembaga-lembaga tertentu. Namun apa pun perbedaan kecil itu, demokrasi tidak lebih dari sekedar pemilu dan mereka yang percaya pada demokrasi mengambil sistem politik yang melembagakan kedaulatan legislatif  baik kedaulatan dalam masyarakat secara langsung maupun kedaulatan dalam perwakilan mereka yang terpilih sebagai dasar demokrasi- yaitu kemampuan untuk memilih dan membuat hukum adalah karakteristik kunci dari demokrasi.

Salah satu pilar dasar demokrasi adalah bahwa undang-undang itu dihasilkan melalui suara terbanyak. Pada dasarnya berbagai model berpotensi untuk muncul. Kemampuan untuk mengubah hukum telah menghasilkan undang-undang yang sangat beracun. Untuk mencegah demokrasi melakukan pelanggaran tersebut, berbagai badan pencegah anti-demokrasi seperti lembaga supermayoritas dan Mahkamah Agung yang tidak dilakukan melalui pemilu telah ditempatkan, yang pengakuan eksplisit bahwa demokrasi murni dapat menghasilkan produk yang beracun. Karena itu, mengapa berbagai produk Hukum bahkan dari dasar negara yaitu UUD 1945 yang di amandemen sebanyak 4 kali yang terindikasi kuat disusupi kepentingan para kapital mengendalikan kebijakan bahkan turunannya termasuk berbagai UU dari Minerba, SDA,dll sampai dengan PP serta Perpres,Perpu yang 2 oraganisasi BHP menjadi korbannya dan berbagai turunan aturan hukum lainnya.

Sifat beracun tentang bagaimana hukum yang disahkan dalam demokrasi itu sudah dipahami dengan baik oleh para filsuf, para pemimpin, dan suara-suara berpengaruh di Barat selama berabad-abad. Socrates dan Plato mengutarakan kemarahannya terhadap demokrasi di zaman Yunani kuno. Jefferson dan Adams memahami bahaya demokrasi murni, itulah sebabnya mengapa Amerika adalah negara republik dan mengapa demokrasi murni ditentang. Karena Utopia Azaz tersebut sebagai mantra satu-satunya solusi untuk menegakkan keadilan dan kesejahteraan mulai terlihat borok nya oleh umat manusia SE Antero bumi yang segala kebijakan dan pelanggaran HAM pun bisa dibatalkan dengan hak Veto Negeri paman Sam.

Dan fakta-fakta kerusakan demokrasi tidak bisa dikibaskan begitu saja. Konsentrasi kekayaan hanya pada kelompok kecil itu tentu saja mengakibatkan melajunya proses pemiskinan dan peningkatan jumlah orang miskin di dunia.  Oleh karena itu, tidaklah mengherankan bila jumlah orang yang hidup di bawah garis kemiskinan juga naik 200% sejak 1980-an.  Kemiskinan adalah pembunuh massal yang sangat kejam. Dilaporkan 22.000 anak-anak di dunia meninggal tiap hari akibat tidak cukup mendapatkan makan, air bersih dan layanan kesehatan. Belum lagi mereka yang terpaksa hidup seadanya, tanpa tempat tinggal yang layak, nutrisi yang mencukupi dan layanan pendidikan dan kesehatan yang semestinya.

Jadi, mengharap dari sistem demokrasi lahir kesejahteraan bersama adalah sebuah ilusi besar. Ketimpangan ekonomi di berbagai belahan dunia, termasuk di negeri ini, membuktikan hal itu. Oleh karena itu, mestinya kita tidak ragu untuk meninggalkan demokrasi yang telah tampak jelas kebusukannya, dan berjuang dengan sungguh-sungguh untuk tegaknya syariah. Yakinlah, hanya dengan penerapan syariah secara kaffah di bawah naungan Daulah Khilafah saja kesejahteraan rakyat akan benar-benar terwujud. Bukan hanya sekadar sejahtera, melainkan juga kesejahteraan yang mulia karena hal itu dilahirkan dari kegiatan ekonomi halal saja dan kegiatan ekonomi haram sama sekali tidak mendapat tempat dalam sistem ini.

Kini, dunia sedang memasuki gelombang terakhir dari perjalanan umat Islam pasca runtuhnya Khilafah Islam tahun 1924. Sebutlah gelombang I merupakan era ketika pemerintah kolonial mengokohkan penjajahan negeri-negeri Islam secara langsung. Mereka mengirim pasukan-pasukan kolonial ke negeri-negeri Islam. Namun mereka menyadari cara seperti ini pasti berujung kegagalan. Kaum muslim akan mudah bergerak, karena musuh mereka jelas di depan mata yaitu tentara-tentara asing. Disamping juga membutuhkan biaya yang mahal.
Gelombang ke-dua, adalah ketika penjajah Barat , memberikan kemerdekaan semu kepada negeri-negeri Islam. Semu karena mereka belum benar-bener memberikan kemerdekaan. Pasukan kolonial sebagain besar menarik diri dari negeri Islam. Namun penjajahan tetap berlangsung melalui penguasa-penguasa boneka anak negeri Islam sendiri. Mereka pun memastikan yang berlaku bukanlah syariah Islam tapi sistem Barat.

Kemudian masuklah umat Islam pada gelombang ketiga. Saat, penguasa-penguasa boneka Barat bertindak represif terhadap rakyatnya sendiri. Karena mereka lebih mengutamakan melayani tuan-tuan imperialisme mereka. Untuk mendapat dukungan negara-negara Barat mereka mempersilahkan kekayaan alam negeri Islam dieksploitasi sementara rakyatnya miskin. Sementara setiap upaya perjuangan syariah Islam ditindak secara represif, karena hal ini akan mengancam kepentingan penjajahan.

Mereka menangkapi,menyiksa, membunuh, para pejuangan syariah Islam. Penguasa tipe seperti ini silih berganti di negeri Islam baik berupa raja atau pun presiden atau perdana menteri. Diantaranya adalah Suharto di Indonesia, Saddam Husain di Irak, Husni Mubarak di Mesir , Zainal Abidin bin Ali di Tunisia, termasuk Gadzdzafi di Libya. Rezim inipun tumbang.

Masuklah umat Islam pada gelombang keempat, dimana Barat terpaksa memberikan demokrasi yang mereka bungkus dengan istilah-istilah Islam. Mereka berusaha menyesatkan kaum muslim dengan menyusupkan agen-agen nya bak pahlawan. Tapi hal ini juga akan gagal. Kondisi kegagalan ini diperkuat dengan semakin melemahnya negara-negara utama kapitalism dunia seperti Amerika Serikat dan Eropa. Krisis di negara Barat akan membuat mereka tidak bisa mendukung sepenuhnya penguasa-penguasa boneka baru yang menjadi andalan mereka.

Insya Allah, umat Islam akan masuk gelombang kelima. Dimana rakyat tidak lagi bisa ditipu. Mereka menyadari bahwa sistem apapun yang berasal dari ideologi Barat penjajah tidak akan memberikan kebaikan. Baik itu dibungkus dengan istilah Islam atau kata-kata penyesatan lain atau tidak. Umat pada gilirannya akan dengan tegas menolak demokrasi,pluralisme, liberalisme dan ide-ide sesat lainnya. Dan tibalah Fajar sebuah negara Adidaya dengan kedigdayaan nya memberikan keadilan dan kesejahteraan bahkan menurut Rosulullah SAW pemimpinnya akan membagikan harta yang sangat banyak ke seluruh umat manusia, itu lah Khilafah dan pemimpinnya disebut Khalifah. Allahu a'lam bisshawwab. []

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox