Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Selasa, 08 Januari 2019

Boneka, Diktatoris, Mantra Demokrasi


Mahfud Abdullah
(Indonesia Change)

Oke, kali ini kita tidak sedang membahas dunia mainan seperti dakocan, robot hingga boneka yang diproduksi oleh luar negeri. So, mungkin sebagian dari Anda tahu arah dari judul di atas. Tudingan rezim Boneka Cina, Boneka Amerika, Boneka Inggris pada penguasa… dan opini rezim pro antek asing masih kuat di tengah-tengah masyarakat, dan mungkin saja dijadikan komoditas politik.

Namun, tudingan-tudingan itu kadangkala berdasarkan fakta yang memadai, menegaskan kenyataan-kenyataan yang telah diketahui oleh setiap orang yang punya mata. Hal itu karena akal-akal yang cemerlang mengetahui secara meyakinkan bagaimana para penguasa tiran di dunia muslim itu bisa sampai ke tampuk pemerintahan, dengan dukungan dan suport dari orang kuat, politik yang mereka tempuh dan pihak yang mereka layani serta majikan mereka.

Ini sebagian dari problem kepemimpinan dari demokrasi. Problem permasalahan dalam demokrasi tidak hanya terbatas di Indonesia, namun juga di seluruh dunia barat lainnya baik di Amerika Serikat, Perancis, Jerman, Italia, Spanyol atau tempat lahirnya peradaban Barat – Yunani, dimana publik bersikap apatis, terjadinya kecurangan pemilu, pengaruh kelompok-kelompok kepentingan dan korupsi adalah kasus-kasus yang terlalu umum.

Bagi setiap masalah politik, kita tahu bahwa kebohongan adalah sebuah solusi demokrasi. Bagi setiap peradaban, bagi setiap negara untuk setiap suku, setiap waktu  terdengar kutukan demokrasi adalah jawaban atas semua kerusakan yang kita rasakan. Pada dekade terakhir, kita telah melihat bagaimana Barat mengirim anak-anaknya untuk berperang di Irak dan di wilayah Timur Tengah untuk menyebarkan demokrasi, sementara di negerinya sendiri rakyatnya mengucilkan politik dalam demokrasi. Sementara pemimpin demokrasi di dunia Islam termasuk Indonesia, tak mampu berbuat sesuatu atas berbagai kejahatan kemanusiaan sebagaimana yang menimpa pada umat Islam di Uighur.

Demokrasi pada saat ini memiliki arti yang berbeda bagi orang yang berbeda, masyarakat sekuler Barat, tidak memiliki monopoli untuk mengklaim demokrasi sebagai milik mereka. Masyarakat lain melihat demokrasi tidak lebih dari sekedar pemilu – bahwa demokrasi harus memiliki karakter nilai-nilai dan lembaga-lembaga tertentu.

Namun apa pun perbedaan kecil itu, demokrasi tidak lebih dari sekedar pemilu dan mereka yang percaya pada demokrasi mengambil sistem politik yang melembagakan kedaulatan legislatif – baik kedaulatan dalam masyarakat secara langsung maupun kedaulatan dalam perwakilan mereka yang terpilih sebagai dasar demokrasi- yaitu kemampuan untuk memilih dan membuat hukum adalah karakteristik kunci dari demokrasi.

Ada beberapa kelemahan mendasar dengan sistem pemerintahan ini, yang membuatnya tidak cocok bagi negeri-negeri Muslim. Pemilu di di banyak negara semuanya menghasilkan kelompok elit yang korup, dan demokrasi telah menghasilkan oligarki yang lebih tertarik dalam menghasilkan uang daripada melayani masyarakat.

Kutukan demokrasi terus menjadi alasan bagi dilakukannya intervensi dan operasi intelijen dan militer Barat di negeri-negeri Muslim. Sementara di dalam negeri baik di Amerika Serikat dan Inggris serta Perancis, Jerman dan Italia semuanya mendapatkan hasil racun dari demokrasi, tetapi terus menyebarkan sistem pemerintahan yang korup ini di dunia Muslim. Hingga sekarang ‘demokrasi dipaksakan sebagai yang terbaik yang kita miliki,’ menunjukkan bahwa demokrasi mengalami kemunduran.

Musim semi Arab telah menunjukkan bahwa dunia Muslim bekerja untuk menentukan nasibnya ke tangannya sendiri, inilah yang mengkhawatirkan dunia barat, hingga mereka berusaha untuk mempertahankan cara mereka hidup demokrasi untuk tetap hadir agar perang berlanjut. Mereka melakukan hal ini dengan hanya engan menghilangkan masalah-masalah demokrasi di dalam negeri.










Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox