Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Selasa, 11 Desember 2018

Warning: Lapangan Kerja Sempit, Ekonomi rakyat Makin Sulit


Aji Salam
(Forum Ekonomi Indonesia)

Terasa dan makin terasa susah. Lapangan kerja dinilai terus menunjukkan tren penurunan selama tiga tahun pemerintahan Jokowi-JK. Sejumlah pembangunan infrastruktur dan peningkatan investasi belum mampu mendongkrak penyerapan tenaga kerja baru. Hal ini selaras dengan hasil riset Tim Institute for Development of Economics and Finance (Indef), rata-rata tambahan penduduk bekerja selama 2015-2017 mencapai 2.127.221 jiwa per tahun. Angka itu lebih rendah dibandingkan tiga tahun pertama pemerintahan SBY-Boediono yang mencapai 2.868.457 jiwa. Data tersebut mencerminkan penurunan signifikan ketersediaan lapangan kerja.

Pemerintah kini giat membangun infrastruktur yang memasuki fase konstruksi. Setiap 1 persen pertumbuhan sektor konstruksi hanya mampu menyumbang 134.592 pekerja. hal itu disebabkan perubahan industri dari padat karya ke padat modal. Namun, bukan berarti pemerintah diam. Perubahan ke pola padat modal perlu disikapi melalui pengembangan produksi kebutuhan infrastruktur dari domestik. Saat ini, mayoritas kebutuhan infrastruktur dari impor.

Selama pemerintah hanya mengandalkan pemenuhan kebutuhan dari impor, semakin minim masyarakat yang bisa berperan di dalamnya. Sementara beberapa aturan yang dirasa masih menghambat penyerapan tenaga kerja juga mutlak dirombak. Pemerintah gagal bisa menekan kemiskinan dan ketimpangan kalau tidak ada lapangan pekerjaan. Program bantuan langsung hanya bisa mengatasi gejala krisis. Kuncinya rakyat diberikan pekerjaan. Di saat yang sama problem PHK massal menjadi momok menakutkan di suasana ekonomi yang labil.

dalam sistem ekonomi Islam yang diterapkan oleh negara (Khilafah), PHK sangat kecil sekali kemungkinannya bakal terjadi. Sebab, prinsip ekonomi Islam yang dianut adalah penyerapan pasar domestik yang sangat didukung oleh negara dalam rangka memenuhi kebutuhan individu masyarakatnya. Ekspor bukan lagi tujuan utama hasil produksi. Sebab, sistem mata uangnya juga sudah sangat stabil, yaitu dengan menggunakan standar emas (dinar dan dirham). Dengan demikian, negara tidak membutuhkan cadangan devisa mata uang negara lain karena semua transaksi akan menggunakan dinar/dirham atau dikaitkan dengan emas.

Negara juga akan menerapkan sistem transaksi hanya di sektor riil dan menghentikan segala bentuk transaksi ribawi dan non riil lainnya. Dengan begitu, perputaran barang dari sektor riil akan sangat cepat dan tidak akan mengalami penumpukkan stok. Penawaran dan permintaan bukanlah indikator untuk menaikkan/menurunkan harga ataupun inflasi, karena jumlah uang yang beredar stabil sehingga harga akan stabil. Negara pun tidak perlu repot-repot mengatur jumlah uang beredar dengan menaikkan/menurunkan suku bunga acuan seperti yang dilakukan negara yang menganut sistem ekonomi kapitalis. Negara hanya akan memantau dan memastikan kelancaran proses distribusi barang dan jasa agar segala kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi.

Selain itu, dalam sistem ekonomi Islam, negaralah yang mengelola sumber kekayaan yang menjadi milik rakyat. Hasilnya dikembalikan lagi kepada rakyat. Dengan demikian, jaminan sosial bagi masyarakat, seperti pendidikan dan kesehatan, akan terpenuhi. Dalam kondisi seperti ini, daya beli masyarakat akan sangat kuat dan stabil. Harga tinggi bukan merupakan persoalan dalam sistem ekonomi Islam. Dengan terpenuhinya kebutuhan individu, pola hidup masyarakat pun menjadi lebih terarah. Mereka tidak lagi terperangkap dalam pola hidup individualis, dengan bersaing dan harus menang, dengan menghalakan segala cara.

Pemerintah saat ini sepertinya telah kehabisan akal sehingga tidak bisa berbuat apa-apa untuk menanggulangi masalah PHK massal tersebut, kecuali hanya wait and see saja. Padahal banyak hal yang bisa dilakukan oleh Pemerintah untuk menghadapi krisis global ini.

Sudah waktunya bagi Pemerintah dan masyarakat untuk memilih jalan keluar terbaik dari permasalahan ini. Caranya adalah dengan mengambil jalan yang ditawarkan Islam, yakni dengan menerapkan sistem ekonomi Islam sekaligus menerapkan sistem pemerintahan Islam. Tanpa itu, kita akan terus menderita akibat berbagai persoalan hidup yang tidak pernah berakhir.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox