Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Kamis, 20 Desember 2018

Uighur, Korban Genosida Syahwat Jalur Sutra



Oleh: Nindira Aryudhani, S.Pi, M.Si
(Koordinator LENTERA, Relawan Opini dan Media)

Sebutlah krisis Uighur. Siapa yang tak dengar berita itu? Dan apa kabar dunia? Dunia Islam saja seolah tiada daya. Mereka bisu seribu bahasa. Meski memang, telah begitu piawainya rezim komunis Cina mengelabui dunia bahwa negara mereka senantiasa menjamin kebebasan beragama.

Bangsa Uighur adalah keturunan klan Turki yang hidup di Asia Tengah, terutama di propinsi Cina, Xinjiang. Namun, sejarah etnis Uighur menyebut daerahnya itu Uighuristan atau Turkistan Timur.

Menurut sejarah, bangsa Uighur telah tinggal di Uighuristan lebih dari 2.000 tahun. Tapi Cina mengklaim daerah itu warisan sejarahnya, dan oleh karenanya tak dapat dipisahkan dari Cina. Orang Uighur percaya, fakta sejarah menunjukkan klaim Cina tidak berdasar dan sengaja menginterpretasikan sejarah secara salah, untuk kepentingan ekspansi wilayahnya.

Uighuristan merupakan tanah subur 1.500 mil dari Beijing, dengan luas 1.6 juta km2, hampir 1/6 wilayah Cina. Dan Xinjiang adalah provinsi terbesar di Cina. Tahun 1949, 96% penduduk Xinjiang adalah klan Turki. Namun, sensus Cina terakhir menyebutkan kini hanya ada 7,2 juta Uighur dari 15 juta warga Xinjiang. Selain itu ada etnis Kazakh (1 juta), Kyrgyz (150 ribu), dan Tatar (5 ribu). Para tokoh Uighur percaya jumlah mereka di sana 15 juta. Selain itu, kini di Xinjiang tinggal juga etnis ras Asia: Han-Cina, Manchu, Huis, dan Mongol.

Di luar Uighuristan diperkirakan ada 5 juta Uighur di Turkistan Barat, kini masuk negara-negara pecahan Uni Soviet: Kazaktstan, Uzbekistan, Turkmenistan dan Tajikistan. Selain itu, 75 ribu Uighur tinggal di Pakistan, Afgahnistan, Saudi Arabia, Turki, Eropa dan Amerika Serikat.

Orang Uighur berbeda ras dengan Cina-Han. Mereka lebih mirip orang Eropa Kaukasus, sedang Han mirip orang Asia. Bangsa Uighur memiliki sejarah lebih dari 4.000 tahun. Sepanjang itu, mereka telah mengembangkan kebudayan uniknya, sistem masyarakat, dan banyak menyumbang dalam peradaban dunia. Penjelajah Eropa, Amerika, bahkan Jepang sangat kagum terhadap kekayaan sejarah di daerah itu. Sejak dulu, banyak orang Uighur menjadi pengajar di kekaisaran Cina, menjadi duta besar di Roma, Istanbul, Baghdad.

Ironisnya, hubungan antara pemerintah pusat Cina dan warga muslim etnis Uighur yang berdiam di Provinsi Xinjiang terus memburuk. Insiden paling mutakhir adalah pemulangan 100 warga Uighur yang kabur menjadi imigran ke Thailand pada tahun 2015. Negeri Gajah Putih tidak bersedia memberikan suaka pada warga yang tertindas di China itu, kemudian memulangkan mereka. Hubungan Thailand dengan negara-negara muslim, terutama Turki, memanas.

Pemerintah China memuji keputusan Thailand memulangkan imigran Uighur tersebut. Negeri Tirai Bambu mengabaikan tekanan internasional yang menuntut etnis Uighur mendapat perlakuan yang lebih layak.

Sebaliknya, Beijing membuat tudingan dengan menyatakan 100 imigran itu sejak awal ingin bergabung dengan Negara Islam Irak dan Syam (ISIS). "Mereka dalam perjalanan untuk bergabung dengan gerakan jihad," kata salah satu petinggi pemerintah China seperti dilansir Xinhua.

Ada 20 juta penduduk muslim di Negeri Panda itu. Termasuk etnis Hui yang salah satu nenek moyangnya adalah Laksmana Cheng Ho, pemimpin armada muslim Tiongkok ke nusantara beberapa abad lalu.

Namun, dibanding etnis lainnya, warga Uighur dilaporkan menerima tekanan lebih besar dari aparat pemerintah yang berpusat di Beijing. Apa sebabnya?

Kajian yang dilansir Global Voices menunjukkan, kecurigaaan Beijing terhadap etnis Uighur berakar sejak dua abad lalu. Wilayah Xinjiang (dalam bahasa Mandarin artinya 'daerah kekuasaan baru') baru tunduk pada ekspedisi militer Dinasti Qin pada 1750. Selama berabad-abad mereka hidup mandiri tanpa tunduk pada kekuasaan manapun.Warga Uighur punya fisik putih, secara budaya lebih dekat dengan ras Turkistan.

Dukungan warga Turki pada imigran Uighur sangat besar. Ketika pecah perang dunia, warga Xinjiang berusaha bergabung dengan Soviet. Upaya itu berakhir, ketika pasukan nasionalis kiriman Beijing akhirnya kembali memaksa warga Uighur bertahan dalam wilayah kedaulatan Republik Rakyat Chna pada 1949.

Sejak itu, cap warga Uighur yang punya kecenderungan 'memberontak' selalu disematkan oleh petinggi di Beijing. Kebijakan ekonomi China yang mengutamakan etnis Han memperburuk suasana.

Akibat rasa paranoid terhadap warga Uighur yang dianggap ingin melepaskan diri dari RRC, muncul diskriminasi tambahan Human Rights Watch mengatakan lebih dari 10 juta warga Uighur dipersulit untuk membuat paspor. Berbeda dari warga Han yang mudah melenggang ke luar negeri, untuk etnis Uighur, petugas imigrasi mewajibkan mereka menyerahkan puluhan dokumen serta wawancara buat memeriksa ideologi politik mereka. Tak sedikit warga Uighur yang ditembak mati dengan tuduhan bergabung dengan jaringan teroris internasional.

Di samping itu, Cina juga menuding pihak asing berada di balik gerakan politik warga Uighur. Organisasi Kongres Uighur Sedunia (WUC) yang berpusat di Jerman, dituding Tiongkok menyebarkan pamflet berisi ajakan menjadi anggota kelompok radikal.

Beberapa waktu lalu, RRC membantah tudingan dunia internasional, termasuk laporan media massa, soal diskriminasi terhadap warga minoritas muslim Uighur di Provinsi Xinjiang. Kabar adanya serangan militer ke beberapa kampung yang dituding sarang teroris, termasuk larangan berpuasa dan tarawih bagi warga Uighur selama Ramadhan, dibantah keras oleh birokrat Partai Komunis.

Negeri Tirai Bambu mengklaim bahwa pihaknya menjamin setiap warga bebas menjalankan keyakinannya. Warga Uighur hidup dan bekerja dalam keadaan damai. Mereka menikmati kebebasan beragama di bawah konstitusi China, demikian pernyataan juru bicara Kementerian Luar Negeri Cina, Hua Chunying. Senada, Duta Besar Cina untuk Indonesia Xie Feng turut membantah isu yang menyudutkan negaranya. Menurutnya, laporan bahwa muslim Uighur dilarang berpuasa hanyalah propaganda Inggris dan Amerika Serikat.

Sementara, juru bicara WUC Dilxat Raxit menyerang pembelaan RRC. Dia menyatakan punya bukti Cina menindas muslim Uighur secara sistematis bertahun-tahun. Dia pun khawatir, 100 imigran yang tempo hari dipulangkan Thailand akan dieksekusi mati setibanya di Xinjiang. Di samping itu, semua tudingan bahwa para imigran itu ingin bergabung dengan jaringan teroris adalah dusta.

Nasib muslim Uighur tak ubahnya saudara-saudara muslim Rohingya. Mereka di-genosida oleh rezim represif junta militer Myanmar. Mereka dibantai. Dan saat itu, dunia juga diam. PBB saja tak berkutik kala pemerintah Myanmar menutup akses masuknya bantuan mereka. Padahal warga Rohingya telah berulang kali eksodus massal sembari menyeru “Tolonglah kami. Kami pasti dibunuh jika masih tinggal di sini.”

Namun, kita juga tak boleh alpa. Wilayah tempat tinggal Uighur maupun Rohingya, adalah bagian dari rute jalur sutra. Jalur Sutra yang menghubungkan peradaban Islam dan China sudah berumur 2.000 tahun. Di masa kini, Jalur Sutra China menggeliat lagi. Presiden Cina, Xi Jinping, sangat berobsesi membangkitkan kejayaan Jalur Sutra Tiongkok. Jalur Sutra ini mengacu pada jalur perdagangan masa lampau melalui Asia yang menghubungkan Timur dan Barat. Pada 2013, Xi mengusung program One Belt One Road (OBOR) Initiative. Program ini bertujuan membangun sistem perdagangan internasional yang terkoneksi. Baik melalui jalan darat dari Tiongkok ke Eropa dan sebaliknya. Maupun jalur laut dari Tiongkok ke kawasan Asia dan Afrika.

OBOR Initiative yang kemudian berganti nama menjadi Belt and Road Initiative (BRI) pada 2016, fokus untuk membantu pendanaan proyek-proyek infrastruktur di berbagai negara. Mulai pembangunan jalan nasional, jaringan rel kereta api, hingga pelabuhan. Industri energi pun ikut didanai untuk mengembangkan industri di negara-negara dalam sistem.

Namun kembali pada visi mega proyek BRI milik Tiongkok tadi, nyatanya dampaknya bagi kehidupan kaum muslimin di sekitar jalur yang bersangkutan, sungguh terasa berbahaya. Perlu diketahui, Jalur Sutra modern memakai kereta api lintas benua yang rutenya dimulai dari Kota Urumqi di Xinjiang, provinsi tempat tinggal masyarakat Uighur.

Revitalisasi Jalur Sutra dengan kereta, bertolak dari One Belt and One Read Initiative (OBOR) yang digagas pemerintah Cina. Jalur daratnya adalah Silk Road Economic Belt (SREB) dan jalur lautnya adalah Maritime Silk Road (MSR). Belum lagi adanya Urumqi International Landport Zone yang melayani jalur kereta kargo Cina-Eropa. Tahun 2018 targetnya ada 1.400 perjalanan kereta,10 ribu kontainer dan mengangkut 200 jenis produk. Transportasi kereta tersebut ditargetkan mampu menempuh perjalanan 17 hari sejauh 8.500 km dari Urumqi ke Naples, Italia.

Jadi penangkapan dan pembantaian ini tak lain adalah sebuah klaim, bahwa genosida warga muslim Uighur adalah sebuah rencana sistematis demi penguasaan potensi geopolitis dan geostrategis wilayah Xinjiang.

Karena itu, jika kita belum mampu mengulurkan tangan secara langsung kepada saudara-saudara muslim Uighur, setidaknya serulah pihak-pihak berwenang yang mampu bertindak secara politik demi efektifnya solusi bagi Uighur. Bahwa betapa tragedi agama dan kemanusiaan terhadap Uighur adalah akibat rakusnya Cina sebagai negara raksasa ekonomi dunia yang ingin mengeruk pundi-pundi devisa di tempat tinggal warga muslim Uighur di Xinjiang. Semua kepedulian kita ini demi kemashlahatan hidup sebagian kaum muslimin, yakni Uighur. Demi perlindungan nyawa umat Rasulullah ﷺ seluruhnya, yang termasuk di antaranya adalah warga Uighur.

والله أعلم بالصواب

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox