Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Selasa, 11 Desember 2018

Tambang Emas Terbaik Dunia Tumpang Pitu, Bagaimana Nasibmu?


Fajar Kurniawan
(Analis Senior Pusat Kajian dan Analisis Data-PKAD)

Tambang emas Tumpang Pitu di banyuwangi yang diklaim para geolog dunia merupakan penambangan emas memiliki kandungan emas terbaik di dunia. Tambang Emas ini berada di Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi, telah menjadi obyek vital nasional berdasarkan surat keputusan Menteri ESDM, No.651/K/30/MEM/2016. Hal ini diharapkan tambang Tumpang Pitu dalam perlindungan negara. Aparat penegak hukum diharapkan mengamankan proyek ini karena dinilai memiliki dampak strategis terhadap perekonomian nasional.

Dikabarkan aset Tumpang Pitu berdasarkan standar Joint Ore Reserve Committe (JORC), memiliki kualitas aset: Estimasi 99 juta ton bijih dengan kandungan rata-rata 0,8 gram emas/ton bijih dan 25 gram perak/ton bijih; 794 juta gram cadangan emas dan 862 miliar gram cadangan tembaga pada lapisan porfiri; 70 juta gram cadangan emas dan 2,2 miliar gram cadangan perak pada lapisan oksidasi; Kapasitas produksi 2,8 juta gram emas dan 136 juta gram perak pertahun.

James Francis, General Manager Operations, PT Bumi Suksesindo (BSI), operator tambang emas Tumpang Pitu, mengatakan, tidak hanya emas dan perak, di Tumpang Pitu juga terdapat tembaga. Menurut james cadangan deposit tembaga diperkirakan setara dengan cadangan deposit batu hijau di Newmont. Untuk tembaga masih dalam fase eksplorasi, dibutuhkan waktu sekitar 8 tahun.

Proses produksi dilakukan PT BSI, perusahaan ini mengklaim proses produksi menggunakan heap leach atau pelindihan berdasarkan standar JORC, proyek pelindihan BSI memiliki sumber daya mineral sebesar 36 juta ton dengan menghasilkn rata-rata 1.03 gram emas per ton dan 22 gram perak per ton.

Kembalikan ke Rakyat
Swastanisasi SDA jelas merugikan rakyat. Pada kasus tambang emas Tumpang Pitu di banyuwangi kita menuntut gar pengelolaan transparan dan kekayaan alam dikembalikan ke tuannya, rakyat. Mengingat pengelolaan SDA Indonesia saat ini amat memperihatinkan, jika kita menyaksikan bagaimana tambang emas di Grasberg Papua di keruk oleh perusahaan raksasa Amerika tanpa memperdulikan aspek lingkungan maupun lahan.

Pasalnya asas yang dipakai oleh sistem Kapitalisme adalah kemaslahatan besar (benefit profit). Studi kasus PT Freeport di Papua menunjukkan fakta bahwa pengelolaan SDA dalam sistem Kapitalisme sangat merusak lingkungan. Hampir seluruhan proses penambangan terbuka melalui beberapa tahapan pengeboran, peledakan, pemilahan, pengangkutan, dan penggerusan batuan bijih. Kegiatan penting lainnya yang harus dilakukan adalah menjaga stabilitas lereng dan penanaman kembali tanaman asli pada daerah yang sudah tidak ditambang (reklamasi).

Berpijak pada pengelolaan tambang terbuka Grasberg peralatan utama yang digunakan berupa bor, "shovel" dan truk besar untuk menambang bahan tambang. Bahan tambang dimaksud termasuk juga yang diklasifikasikan batuan bijih dan batuan penutup tergantung dari nilai ekonomis bahan tersebut. Fungsi alat shovel adalahmengeruk bahan tambang pada daerah-daerah berbeda di area tambang terbuka, dan memuat bahan ke atas truk untuk dibawa keluar area tambang terbuka[5]

Sebagaimana arahan ekonomi Kapitalisme di era rezim Suharto begitu pulalah yang terjadi di era rezim Jokowi- Jk. Tidak ada yang berubah.
Dampak dari Kapitalisme yang merongrong Indonesia saat ini tentunya membuat masyarakat semakin mengelus dada. Hal yang cukup miris adalah ketika melihat kenyataan saat ini yang menggerus hati masyarakat yang harus miskin di negeri yang kaya raya. Keberadaan perusahaan asing seperti Freeport, Exxon Mobil, Shell, Chevron, Newmont, dll. yang menguasai pengelolaan sumber daya alam di Indonesia adalah penyebabnya. Hal ini tak lepas dari lemahnya regulasi untuk melindungi sumber daya energi Indonesia.

Missal dari 45 blok minyak dan gas (Migas) yang saat ini beroperasi di Indonesia, sekitar 70% di antaranya dikuasai oleh kepemilikan asing.
Kondisi semakin parah karena banyak pengusaha tambang di Indonesia yang tak membayar pajak dan royalti kepada negara. Dalam perhitungan KPK, potensi pendapatan negara sebesar Rp 7.200 triliun hilang setiap tahun karena penyelewengan tersebut. Bila ditotal pajak dan royalti yang dibayarkan dari blok Migas, batubara, dan nikel di setiap tahunnya dapat mencapai Rp 20. 000 triliun. Namun, pendapatan sebesar itu tergerus karena pemerintah tidak tegas dalam regulasi dankebijakan.

/Kapitalisme, Biang Kerok/

dalam sistem ekonomi Kapitalisme menjadi sebuah ‘keniscayaan’ bahwa pemilik modallah yang berhak untuk menguasai berbagai sektor penting termasuk SDA yang posisinya sangat menguntungkan bagi para Kapitalis. Pengelolaan potensi SDA dalam sistem Kapitalisme banyak membawa kerusakan.

Ironis, SDA Indonesia dibawah pengelolaan sistem Kapitalisme telah berhasil melegalkan asing untuk mengintervensi berbagai UU. Dengan sistem demokrasi dan kapitalisme tersebut, kekayaan alam dirampok secara institusional. Sehingga perusahaan asing dengan leluasa merampas harta kekayaan umat, termasuk tambang emas di Papua yang dikeruk Freeport.

Dalam pandangan kapitalis, kekayaan alam termasuk tambang Freeport harus dikelola oleh individu atau perusahaan swasta karena ini merupakan ciri utama sistem ekonomi kapitalis dimana kepemilikan privat (individu) atas alat-alat produksi dan ditribusi dalam rangka mencapai keuntungan yang besar dalam kondisi-kondisi yang sangat konpetatif sehingga perusahaan milik swasta merupakan elemen paling pokok dari kapitalis.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox