Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Rabu, 05 Desember 2018

Siapa Paling Pintar Berhitung Jumlah Massa 212?



Oleh: Nindira Aryudhani, S.Pi, M.Si
(Koordinator LENTERA, Relawan Opini dan Media)

Reuni 212 telah sukses terselenggara. Dengan massa mega besarnya, dalam sebuah video hasil rekaman dari helikopter yang beredar di grup Whatsapp, memperlihatkan padatnya jutaan manusia memenuhi pusat ibukota Jakarta, Ahad (02/12/2018) lalu. Helicopter View ini mencakup wilayah Kwitang, Cikini, Tugu Tani, Kebon Sirih, Gambir, jalan Medan Merdeka Timur, jalan Medan Merdeka Selatan, Thamrin, Indosat, Patung Kuda dan Silang Monas. Belum lagi ditambah massa yang ada di kawasan jalan Medan Merdeka Barat, Medan Merdeka Utara, sekitar Masjid Istiqlal, Pecenongan, Stasiun Juanda, Stasiun Gondangdia, Sarinah, Tanah Abang, serta jalan-jalan menuju Monas.

Namun di belakang hari nampaknya banyak pihak yang memperdebatkan jumlah riil di lapangan. Ada yang menyatakan 10 ribu orang, 40 ribu, 100 ribu, 8 juta, 10 juta, dsb. Apalagi jika merujuk data dari pusat operator yang mencatat jumlah HP/IMEI pada saat kejadian acara reuni 212, bahwa massa yang hadir berjumlah sekitar 13,4 juta orang.

Tapi tidakkah kita ingat bagaimana kisah Rasulullah ﷺ dan kaum muslimin saat Perang Badar? Yang mana, jumlah kaum muslimin hanya sekitar 3000 orang, sementara kaum kafir Quraisy berjumlah lebih banyak dari tiga kali lipatnya. Namun ternyata, Allah SWT menghadirkan ribuan malaikat-Nya di medan tempur hingga pasukan Quraisy dapat mudah dipukul mundur.

Allah SWT juga pernah mengingatkan kaum muslimin saat Perang Hunain, di mana jumlah kaum muslimin cukup besar saat itu, yakni sekitar 12 ribu orang. Hingga Allah SWT berfirman terkait peristiwa Perang Hunain ini, yang tercantum dalam QS At-Taubah [9] ayat 25-26:

لَقَدْ نَصَرَكُمُ اللَّهُ فِي مَوَاطِنَ كَثِيرَةٍ وَيَوْمَ حُنَيْنٍ إِذْ أَعْجَبَتْكُمْ كَثْرَتُكُمْ فَلَمْ تُغْنِ عَنكُمْ شَيْئًا وَضَاقَتْ عَلَيْكُمُ الْأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ ثُمَّ وَلَّيْتُم مُّدْبِرِينَ (٢٥) ثُمَّ أَنزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَىٰ رَسُولِهِ وَعَلَى الْمُؤْمِنِينَ وَأَنزَلَ جُنُودًا لَّمْ تَرَوْهَا وَعَذَّبَ الَّذِينَ كَفَرُوا وَذَٰلِكَ جَزَاءُ الْكَافِرِينَ (٢٦)

"Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (hai para mukminin) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu di waktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlah(mu), maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari kebelakang dengan bercerai-berai. (25) Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang yang beriman, dan Allah menurunkan bala tentara yang kamu tiada melihatnya, dan Allah menimpakan bencana kepada orang-orang yang kafir, dan demikianlah pembalasan kepada orang-orang yang kafir." (26)

Tapi memang demikianlah jika manusia hanya berorientasi angka. Sukses atau tidaknya suatu gelaran, semata dipandang dari kuantitas, dan mengabaikan kualitas. Padahal tak semua hal bisa selalu diukur dengan nominal. Kecuali oleh pihak-pihak yang berpikir ala kapitalis.

Demikian halnya perihal kotak suara. Sampai-sampai kalangan difabel mental pun disasar untuk diperah suaranya. Tiap momentum coblosan, terbukti selalu muncul polemik. Manipulasi suara hingga tuduhan money politics berikut serangan fajar dari para bakal calon, acapkali mewarnai suasana pemilihan demi mendongkrak perolehan suara.

Yang harus diyakini, bahwa andai dengan jumlah sebanyak massa 212 itu di medan pertempuran, maka umat Islam akan sangat mudah memenangkannya. Tapi acara kemarin jelas aksi damai. Umat tak hendak balas dendam kendati seringkali menerima tudingan keji dan framing negatif. Sungguhlah momen 212 ini membuktikan bahwa umat Islam sangat toleran dan tak mudah termakan provokasi yang menyesatkan. Sekali lagi, yang pasti hanya Allah SWT yang mengetahui jumlah pasti massa peserta 212 tersebut. Jadi tak perlu risau, atau bahkan panas, memperdebatkan jumlahnya.

والله أعلم بالصواب

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox