Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Sabtu, 15 Desember 2018

Parasit Radikalisme Liberal di Indonesia



Achmad Fathoni
(Dir. El harokah Research Center)

Penistaan agama meningkat, LGBT merebak, poligami ditentang, perda syariah Islam dilarang, lalu budaya seks bebas yang dimobilisasi secara besar besaran dengan berbagi kedok, hal ini merupakan dampak diterapkannya aturan sekularisme di negeri ini. Sekularisme (pemisahan Agama dari kehidupan) menginginkan budaya liberalisme atau kebebasan bagi manusia dalam bertingkah laku –termasuk kebebasan dalam melakukan hubungan seksual diluar nikah.

Padahal hubungan seks bebas berdampak buruk bagi generasi muda, termasuk akan menimbulkan problem sosial di tengah masyarakat, baik berupa penyakit seperti AIDS/HIV, aborsi, kerusakan moral dan lain sebagainya. dengan adanya liberalisme moral, maka generasi muda disibukkan dengan urusan syahwat dan menjauhi tugas mereka sebagai generasi penerus, yang seharusnya membangun peradaban kedepan dengan sains dan teknologi, belum lagi jika mereka terjangkit virus HIV/AIDS, maka jangankan berpikir untuk umat, berpikir untuk sembuh saja mereka merana dan tersiksa. Akhirnya generasi kaum muslim hilang dan masuklah generasi muda barat yang hedonis dengan penjajahannya.

Permasalahan demi permasalahan yang melanda generasi muda makin rumit. Ini tidaklah datang dengan sendirinya. Semua permasalahan ini merupakan akibat dari semakin kuatnya virus liberalisme yang masuk ke dalam tubuh umat ini. Masuknya virus liberalisme telah membawa umat pada pola piker dan perilaku yang buruk. Melalui berbagai bentuk media masa, liberalisme telah mengarahkan  anak kita untuk berperiaku konsumtif, pemisif dan hedonis.

Banyaknya tayangan sinetron yang kurang mendidik, haruslah menjadi perhatian semua pihak, terutama peran orang tua dalam mengawasi anaknya. Namun, yang perlu kita ingat peran orang tua dan masyarakat saja tidaklah cukup. Peran yang terbesar adalah pihak yang memiliki kewenangan dalam penayangan setiap tayangan TV. Siapa lagi kalau bukan pemerintah.
Pemerintah sebagai pengatur rakyatnya memiliki peran yang penting dalam menjaga generasinya. Karena mereka yang memiliki wewenang dalam menentukan setiap kebijakan dalam mengatur rakyatnya. Bagaimana mungkin generasi kita bisa berkualitas, jika pemerintah sendiri tidak memperhatikan semua itu.

Sementara proyek untuk menghadang laju gerakan Islam yang kritis sudah bergulir. Kalangan liberal banyak ter-libat proyek ini di kalangan akar rumput. Sementara di tingkat pusat, deradikalisasi ini menjadi milik Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) rutin kampanye ”anti kelompok yang memperjuangkan syariah dan daulah khilafah”.

Para pendukung proyek ini menuding kalangan yang dianggap radikal menjadi inspirator di balik berbagai aksi kekerasan selama ini apakah kasus terorisme. Karenanya, mereka mendesak pemerintah membubarkan ormas Islam seperti HTI karena dianggap meresahkan. Padahal yang sebenarnya, mereka sangat membenci ormas Islam yang lurus karena menghalangi langkah-langkah liberal yang terbukti merusak negeri ini. Ditambah lagi, mereka tak menginginkan Islam bangkit dan memimpin negeri ini.

Pada intinya budaya liberalisme yang dewasa ini menyerang kehidupan masyarakat, adalah ulah dan strategi barat dalam menghancurkan sumber daya manusia Muslim, ini adalah poin penting yang harus segera disadari oleh semua pihak. Apakah kita mau Indonesia makin hancur? Apakah kita mau saudara- saudara Indonesia makin rusak? Apakah kita mau Indonesia makin terjajah?



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox