Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Sabtu, 22 Desember 2018

Otomasi Teknologi, Efektifkah Bagi Pemberdayaan Ekonomi Perempuan?



Oleh: Nindira Aryudhani, S.Pi, M.Si
(Koordinator LENTERA, Relawan Opini dan Media)

Di tengah kemutakhiran era digital berikut segala otomasinya, ternyata ada dampak khusus bagi kaum perempuan. Dengannya, perempuan justru lebih rentan kehilangan pekerjaan karena kemajuan teknologi. Dalam laporan terbaru yang dirilis Dana Moneter International (IMF), tertulis bahwa 26 juta pekerjaan perempuan sangat beresiko tergantikan oleh otomasi teknologi. Ini berdasarkan riset yang dilakukan terhadap 54 juta tenaga kerja perempuan dan laki-laki, di 28 negara anggota Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD), ditambah Siprus dan Singapura.

Di samping itu, Direktur Pelaksana IMF, Christine Lagarde, dalam seminar "Empowering Women in the Workplace" sebagai rangkaian Pertemuan Tahunan IMF-WB di Bali, Selasa 9 Oktober 2018 lalu, mengatakan bahwa hilangnya pekerjaan karena otomasi teknologi akan berdampak terhadap 11 persen pekerja perempuan daripada 9 persen pekerja laki-laki, dalam dua dekade ke depan.

Pekerja perempuan yang kurang terdidik dan berusia 40 tahun ke atas, serta mereka yang memiliki keterampilan rendah dan bekerja di bidang administrasi, layanan, dan pemasaran akan lebih beresiko digantikan oleh otomasi teknologi. Perempuan akan lebih terdampak karena mereka mengerjakan pekerjaan yang dianggap lebih tidak bernilai, di mana kemajuan teknologi bisa melengkapi keterampilan manusia.

Untuk mengantisipasi tantangan ini, Lagarde menyeru para pemimpin dunia untuk membekali perempuan dengan keterampilan yang diperlukan, mempersempit kesenjangan gender dengan menempatkan perempuan di posisi-posisi pemimpin, serta menjembatani kesenjangan digital.

Menanggapi hal ini, Menteri Keuangan RI, Sri Mulyani Indrawati, mengatakan pemerintah telah mengambil langkah-langkah untuk meningkatkan akses perempuan menuju instrumen keuangan dengan melakukan pelatihan pengusaha dan program literasi keuangan. Pemerintah Indonesia melalui kebijakannya akan mendukung kesetaraan gender dan teknologi digital. Sri Mulyani menilai, investasi pada perempuan dan remaja perempuan menjadi penting, karena populasi perempuan hampir setengah dari total populasi Indonesia. Dilihat dari usianya, sebanyak 86 juta perempuan berada pada usia produktif yaitu 20-64 tahun.

Dalam kasus Indonesia, peningkatan akses keuangan bagi perempuan menjadi semakin mendesak bukan hanya karena kebutuhan untuk mengatasi masalah ketidaksetaraan, tetapi juga karena sifat demografinya. Kebijakan pemerintah juga semakin terbantu dengan kemajuan teknologi. Menurut Sri Mulyani, isu-isu yang dihadapi perempuan ketika mengakses keuangan harus disikapi secara holistik, melampaui masalah persyaratan kredit dan biaya. Semua pihak harus memahami bahwa isu seputar kewirausahaan perempuan adalah unik dan solusi "one gender fit all" adalah tidak cocok.

Mencermati hal ini, harus kita akui bahwa sistem kerja otomasi tidak berdampak ringan bagi perempuan. Otomasi dalam kacamata kapitalisme bermakna menggantikan peran tenaga manusia dengan teknologi, alias robot. Akibatnya, potensi dan daya kerja manusia justru makin tiada harganya. Karena sebagian besar tugasnya telah digantikan oleh sistem kerja alat otomatis.

Lebih jauh lagi, frasa kemanusiaan dalam konteks muamalah juga akan semakin sirna. Tak ayal, dunia akan semakin kapitalistik dan tak berperasaan. Lambat laun, pegiat kesetaraan gender justru akan jauh lebih repot untuk memperjuangkan nasib perempuan. Karena sistem kehidupan dunia akan cenderung kian tak ramah pada kaum hawa.

Oleh karena itu, tiada lain yang dapat menyolusi dan mengelola sistem otomasi kehidupan dalam kaitannya dengan pekerja perempuan, kecuali hanya dengan tata aturan kehidupan yang berasal dari Sang Pencipta manusia, termasuk kaum perempuan. Yakni Islam. Penerapan aturan Islam dalam bingkai sistem Khilafah warisan Rasulullah ﷺ jelas memberikan posisi yang sesuai sunatullah bagi perempuan, maupun manusia pada umumnya selaku makhluk Allah SWT.

Islam meniscayakan hukum yang mubah (boleh) bagi perempuan untuk bekerja. Dalam Islam, perempuan adalah ibu generasi. Ia adalah tulang rusuk sang suami, bukan tulang punggung pencari nafkah ekonomi. Meski perempuan tidak diharamkan oleh syara' untuk bekerja, namun sungguh salah besar jika menyolusi ketertinggalan teknologi kaum hawa dengan cara pelatihan dan literasi keuangan. Terlebih demi menyikapi fakta jika ada kaum perempuan yang gaptek alias gagap teknologi. Yang semua itu dilakukan agar tetap dapat mempekerjakannya sebagai alat ekonomi.

Jadi, harus ada mindset atau cara pandang yang diganti di sini. Teknologi adalah instrumen dalam menjalani hidup. Sifat asal teknologi sebagai madaniyah, yakni berupa bentuk-bentuk fisik dari benda-benda yang terindera yang digunakan dalam berbagai aspek kehidupan. Dengan kata lain, madaniyah adalah produk kemajuan sains dan perkembangan iptek.

Tapi teknologi akan sangat berbahaya ketika dipacu sebagai alat ideologis oleh kapitalisme untuk mempercepat laju penebalan kantong-kantong laba korporasi. Justru di sinilah letak ketidakmanusiawian sistem otomasi tadi. Ketika sistem otomasi tidak dikelola dengan aturan kehidupan yang berstandar syariat Allah, maka bayangkan harus berapa banyak orang yang diputus hubungan kerjanya. Apalagi jika otomasi ini diadopsi sebagai instrumen penghasil uang oleh negara-negara adikuasa ekonomi. Laba produksi setinggi-tingginya memang akan diraih, dengan biaya produksi yang serendah-rendahnya. Begitulah cara kerja ideologi kapitalisme. Dan jika otomasi ini tercapai sempurna, maka sudah pasti jumlah pengangguran akan membludak.

Seperti inikah cara suatu negara agar menjadi maju dengan otomasi teknologi sebagai citranya? Tentu saja tidak. Model negara seperti ini akan selalu gagal, bahkan segera mengalami kehancuran dari dalam. Dimulai dari kesenjangan sosial kemanusiaan, krisis muamalah dan interaksi, krisis akhlak dan moral, hingga sangat mungkin menimbulkan kepunahan massal warga negaranya.

Sekali sungguh, betapa urgennya membalut otomasi teknologi dengan aturan Sang Pemilik alam semesta. Karena toh otomasi itu digunakan untuk menjalani kehidupan di bumi Allah SWT ini, di mana manusia diamanahi Allah untuk mengelolanya. Jadi makin jelas, otomasi teknologi yang dikelola secara kapitalistik tidak akan pernah memberikan kemashlahatan bagi manusia, alih-alih efektivitas pemberdayaan ekonomi perempuan.

والله أعلم بالصواب

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox