Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Senin, 31 Desember 2018

Nestapa Bencana, Belajar Dari Geografis Indonesia


Endah Sulistiowati
(Dir. Muslimah Voice)

Rasanya belum kering air mata negeri ini dengan musibah yang datang beruntun, Gempa NTB, Palu dan Donggala, terakhir jatuhnya pesawat lion air. Dan saat ini nurani bangsa ini kembali diguncang dengan tsunami diselat Sunda yang menelan ratusan korban jiwa.

Bencana Alam yang datang secara bertubi-tubi setidaknya membuat Kita berpikir sejenak apa yang sebenarnya terjadi dinegeri ini, apa penyebabnya, dan bagaimana Kita harus bersikap? Banyak sudah muhasabah yang disampaikan oleh para ulama, ilmuwan, dan orang-orang yang punya

Jika ditilik dari segi geografis, memang geografi Indonesia didominasi oleh gunung api yang terbentuk akibat zona subduksi antara lempeng Eurasia dan lempeng Indo-Australia. Beberapa gunung api terkenal karena letusannya, misalnya Krakatau, yang letusannya berdampak secara global pada tahun 1883, letusan supervulkan Danau Toba yang diperkirakan terjadi 74.000 tahun sebelum sekarang yang menyebabkan terjadinya musim dingin vulkan selama enam tahun, dan Gunung Tambora dengan letusan paling hebat yang pernah tercatat dalam sejarah pada tahun 1815.

Gunung berapi di Indonesia merupakan bagian dari Cincin Api Pasifik. 150 entri dalam daftar di bawah ini dikelompokkan menjadi enam wilayah geografis, empat di antaranya memiliki gunung berapi dalam barisan Busur Sunda . Dua wilayah lainnya mencakup gunung berapi di Halmahera, termasuk pulau-pulau vulkanik di sekitarnya, serta gunung berapi di Sulawesi dan Kepulauan Sangihe. Wilayah terakhir berada dalam satu busur vulkan dengan gunung berapi Filipina.

Hingga tahun 2012, tercatat Indonesia memiliki 127 gunung berapi aktif dengan kurang lebih 5 juta penduduk yang berdiam di sekitarnya. Sejak 26 Desember 2004, setelah gempa besar dan tsunami terjadi di wilayah Aceh Dan sekitarnys semua pola letusan gunung berapi berubah, misalnya Gunung Sinabung , yang terakhir kali meletus pada 1600-an, tetapi tiba-tiba aktif kembali pada tahun 2010 dan meletus pada 2013. (Wikipedia.org)

Sebagai negara kepulauan, Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia. Garis pantainya sekitar 81.000 km. Wilayah lautnya meliputi 5,8 juta km² atau sekitar 70% dari luas total wilayah Indonesia. Luas wilayah laut Indonesia terdiri atas 3,1juta km² luaslaut kedaulatan dan 2,7juta km² wilayah Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia (ZEEI).

Disepuluh tahun terakhir tercatat beberapa Bencana Alam dahsyat sunami, Gempa bumi Dan gunung meletus yang mengakibatkan ratusan hingga ribuan warna meninggal, hilang, atau pun cacat. Bencana gempa bumi dan tsunami di Aceh merupakan salah satu bencana alam dahsyat di Indonesia bahkan di dunia untuk kurun waktu 40 tahun terahir. Menurut PBB, sebanyak 229.826 korban gempa dan tsunami hilang dan 186.983 lainnya tewas. Tsunami Samudra Hindia menjadi gempa dan Tsunami terburuk 10 tahun terakhir. Gempa berkekuatan 9.3 SR (menurut Pacific Tsunami Warning Center) ini telah meluluh lantahkan aceh bagian utara, Sumatera Utara, Pantai Barat Semenanjung Malaysia, Thailand, Pantai Timur India, Sri Lanka, bahkan sampai Pantai Timur Afrika. Bencana ini merupakan kematian terbesar sepanjang sejarah. Indonesia, Sri Lanka, India, dan Thailand merupakan negara dengan jumlah kematian terbesar.

Gunung merapi merupakan salah satu gunung teraktif di dunia yang memiliki siklus puncak erupsi setiap dua hinga lima tahun. Dalam kurun waktu 10 tahun terakhir, tercatat 2 letusan besar yang terjadi. Letusan besar pertama terjadi pada tahun 2006, tepatnya pada Juni 2006 dan yang kedua yaitu erupsi yang terjadi pada 5 November 2010. Tercatat 200 orang meninggal.

Masih di tahun 2006, Jogjakarta Juga diguncang Gempa bumi 5,9 skala ricter, yang menelan 6.234 korban jiwa dan  25.500 korban luka-luka. Daerah terdampak meliputi Jogjakarta, Sleman, Bantul, Purworejo, Sukoharjo, Kulonprogo, Boyolali, Magelang, Gunung Kidul dan Klaten.

Gempa bumi Sumatera Barat , 30 september 2009. Gempa bumi terjadi dengan kekuatan 7,6 Skala Richter di lepas pantai Sumatera Barat pada pukul 17:16:10 WIB tanggal 30 September 2009.  Gempa ini terjadi di lepas pantai Sumatera, sekitar 50 km barat laut Kota Padang. Menurut data Satkorlak PB, setidaknya 6.234 orang tewas akibat gempa ini yang tersebar di 3 kota & 4 kabupaten di Sumatera Barat, korban luka berat mencapai 1.214 orang, luka ringan 1.688 orang, korban hilang 1 orang. Sedangkan 135.448 rumah rusak berat, 65.380 rumah rusak sedang, & 78.604 rumah rusak ringan. Menurut catatan ahli gempa wilayah Sumatera Barat memiliki siklus 200 tahunan gempa besar yang pada awal abad ke-21 telah memasuki masa berulangnya siklus.

Bencana Gempa Bumi dan Tsunami Mentawai, 25 Oktober 2010. Tsunami Mentawai yang terjadi menyusul gempa berkekuatan 7,2 SR melanda Pulau Pagai Selatan di Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat. Akibat yang di timbulkan dari bencana alam ini yaitu lebih dari 400 korban jiwa melayang sedangkan ratusan lainnya hilang.

Dan diantara Sekian banyak Bencana Alam yang terjadi di Indonesia, sunami masih menjadi momok yang paling menakutkan. Panjangnya garis pantai dan kehadiran gunung berapi ditambah pesona alamnya merupakan kolaborasi cantik yang membuat bangga bangsa ini. Namun sayangnya, hal tersebut tidak didukung dengan kwalitas dalam penanganan bencana.

Aktivis senior yang juga Direktur Sabang Merauke Circle (SMC), Syahganda Nainggolan mempertanyakan klaim pemeritahan Joko Widodo yang pembangunannya berorientasi pada laut atau konsep Poros Maritim Dunia. Dia mengatakan, kalau memang pembangunan pemeritahan Jokowi berorientasi pada maritim, tsunami bukanlah menjadi momok bagi negeri ini.

Teknologi pendeteksi tsunami Dan Gempa sudah terus dikembangkan. Indonesia harusnya terus meng-up date semua peralatan ini, mengingat posisi Geografis Indonesia sangat rawan. Mirisnya, disejumlah tempat buoy (alat pendeteksi Gempa dan tsunami) dinyatakan hilang, bahkan ada yang tidak berfungsi. Menurut Prof.  Dwikorita Karnawati (Kepala BMKG) "Saat ini BMKG cuma punya 175 sensor Gempa dan tide gauge (alat ukur air Mika laut). Idealnya Indonesia punya 1812 peralatan deteksi gempa Dan tsunami".

Alat yang diperlukan lagi adalah Radar yang cocok ditempatkan Di daerah rawat tsunami dengan potensi pusat Gempa dekat pantai. Radar ini jg mampu mendeteksi kedatangan gelombang tsunami pada jarak 50-80Km.

Berikutnya adalah sirine yang diperlukan masyarakat (radius 2-3 Km dari pantai) agar memperoleh tanda bahaya untuk evakuasi. Dan BMKG baru membangun 52 unit dari puluhan ruby unit yang diperlukan.

Demikian juga dengan peralatan seperti Cable based tsunami yang digunakan untuk mendeteksi gelombang tsunami di tengah laut dan Gempa dasar laut, yang mampu mengndus Gempa saat baru terjadi sehingga Waktu peringatan lebih cepat. Dengan begitu evakuasi bisa langsung bisa dilakukan untuk meminimalisir korban. Alat ini  bisa digabung dengan program system komunikasi Kabel last pita lebar, Palapa Ring. Yang memiliki alat ini baru negara Jepang, Kanada,  Oman dan AS.

Pengadaan alat-alat diatas sangat minim pembiayaan. Hal ini sangat berbanding terbaik dengan pembanguna infrastructure yang diagungkan pemerintahan saat ini. Apalagi sepanjang pemerintahan Jokowi pembangunan jalan tol sudah menjadi euforia tersendiri.

Pemetaan pembiayaan haruslah mengutamakan kebutuhan yang penting dan mendesak. Pemasangan alat pendeteksi Gempa adalah satu dari kebutuhan yang penting dan mendesak, lebih penting dari pembangunan jalan tol yang notabene tidak terlalu dibutuhkan rakyat kecil.

Alat pendeteksi gempa dan tsunami ini mutlak diperlukan. Jika ingin meminimalisir korban Dan Jika pemerintah sangat peduli dengan rakyatnya, bukan sekedar pencitraan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox