Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Sabtu, 22 Desember 2018

MEMFORMULASIKAN PERSIAPAN PERUBAHAN


Endah Sulistiowati
(Direktur Muslimah Voice)

Perubahan besar di negeri ini sepertinya sudah semakin dekat, kondisi masyarakat Indonesia mulai menghangat menuju panas. Langkah-langkah politik semakin mudah dibaca, sehingga menyederhanakan usaha untuk memetakan arah politik para petinggi negeri ini. Gaya kepemimpinan yang represif-anti kritik didukung dengan berbagai polemic yang ada juga akan mempercepat perubahan ini.  

Kehidupan yang serba sulit, persekusi terhadap dakwah Islam dan pelakunya UU ITE yang tajam kepada pihak yang bersebrangan dengan penguasa, serta tegaknya UU Teroris terhadap “terduga/tersangka muslim” tapi tumpul terhadap KKB OPM, sehingga dengan kasat mata masyarakat pun tahu posisi penguasa negeri ini ada dipihak mana.  

Gelombang aksi 212 di tiga tahun terakhir, sedikit banyak memacu adrenalin untuk menggeliatkan perubahan, ditambah dengan agenda pilpres 2019 menjadi formulasi yang komplit bahwa perubahan itu mutlak diperlukan. Dan saat ini opini bahwa Indonesia butuh perubahan semakin diaruskan, bukan saja oleh para penggiat dakwah Islam, tapi juga oleh para partai oposisi dan ormas dari segala lini. Masyarakat pun mengaamiinkan bahwa kita memang butuh perubahan itu.

Namun kita tidak mau perubahan yang kita harapkan berakhir gagal ataupun melenceng dari tujuan perubahan itu sendiri. Sehingga perlu dipahami perubahan seperti apa yang bisa mengantarkan masyarakat menuju kebangkitan hakiki. Nah, pertanyaanya kebangkitan hakiki itu yang seperti apa?

Perubahan hakiki adalah transformasi yang mampu mengantarkan masyarakat menuju kebangkitan hakiki.  Sebuah perubahan tidaklah disebut perubahan hakiki, jika perubahan itu tidak menjadikan masyarakat berubah menuju keadaan yang lebih baik dibandingkan keadaan sebelumnya. Hakiki dan tidaknya perubahan ditentukan oleh peradaban yang ada ditengah-tengah masyarakat benar (shahih) ataukah tidak. Adapun factor yang menentukan benar tidaknya sebuah peradaban adalah ‘aqidah (pemikiran mendasar) yang menyangga peradaban tersebut.  Jika ‘aqidahnya benar dan lurus, maka peradaban tersebut dikatakan peradaban shahih.  Jika aqidahnya bathil, peradaban tersebut dikatakan peradaban bathil.

Dalam perjalanan panjang, kita tahu Islam adalah agama sekaligus ideologi yang mampu menyatukan setiap bangsa, bahkan kesejahteraan dibawah kepemimpinannya tidak diragukan lagi. Islam ia adalah ideologi shahih yang bersumber dari Al-Khaliq al-Mudabbir, memuaskan akal, sesuai dengan fithrah manusia, dan terbukti telah menciptakan kemakmuran dan kesejahteraan holistic.  Dengan demikian, perubahan hakiki adalah transformasi menuju tegaknya peradaban Islam (al-hadlarah al-Islaamiyyah), dengan diterapkannya syariah dalam naungan khilafah.

Bagaimana dengan ideology kapitalis-sekuler dan sosialis-komunis? Ideologi kapitalis dan sosialis terbukti gagal mengantarkan manusia menuju kebangkitan hakiki.  Kapitalisme dan sosialisme nyata-nyata telah menimbulkan kerusakan hampir di seluruh dimensi kehidupan.  Akibat penerapan dua ideology ini, manusia terpuruk ke dalam kenestapaan global. Mau bukti apalagi, karena semua telah ada di depan mata.

Sehingga formulasi yang tepat untuk mengantarkan pada perubahan hakiki tersebut haruslah dirancang sedini mungkin. Pertama, harus ada kelompok atau jamaah yang memperjuangkan perubahan tersebut secara terus-menerus dan konsisten. Aktivitas kelompok tersebut harus bersifat politis. Aktivitas politik tersebut di antaranya pembinaan umat baik bersifat umum maupun intensif terkait Islam secara menyeluruh dan bahwa Islam-lah solusi dari segala problematika umat, menunjukan pemikiran-pemikiran kufur yang ada di tengah-tengah masyarakat, menyingkap makar yang membahayakan umat. Kelompok ini juga harus melakukan perjuangan politik untuk melawan penjajahan gaya baru baik dalam bidang ekonomi, sosial, politik, militer, budaya, dan sebagainya.

Kedua, pentingnya kesadaran masyarakat bahwa mereka saat ini tengah mengalami permasalahan yang kompleks akibat dari diterapkannya system kapitalis-sekuler. Alih-alih memberikan kesejahteraan, nyatanya presiden telah berganti berkali-kali tapi tidak ada perubahan yang berarti. Sehingga upaya mewujudkan kesadaran umum ini dilakukan acara masif dengan menjelaskan kepada umat tentang kerusakan ideologi Kapitalisme dan Sosialisme yang telah menjadi kanker mematikan di negeri-negeri Islam; kemudian menjelaskan keunggulan ideologi Islam, yang secara teoretis dan empiris ideologi Islam tersebut akan mengantarkan umat Islam pada kejayaannya kembali.

Ketiga, harus ada konsep yang jelas yang memuat sejumlah konsepsi rinci dan praktis sesuai arah perubahan yaitu tata pemerintahan Islam beserta tahapan-tahapan (road map) apa saja yang harus dilalui menuju tegaknya Khilafah. Maka kelompok atau jamaah yang konsisten memperjuangkan perubahan harus punya konsep ini secara utuh dan matang. Dan selalu menjadikan metode dakwah Rasulullah sebagai pedoman, Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai pegangan.

Keempat, mendakwahkan Islam kepada seluruh lapisan masyarakat wa bil khusus pemegang kekuasaan. Para ulama, tokoh masyarakat, pegawai pemerintah, penguasa dsb. adalah lahan bagi mereka yang mengaku pengemban dakwah. Dakwah ini termasuk didalamnya kepada Militer, bagaimanapun jika militer ini menyokong dakwah, perubahan untuk kembali kepada Islam akan lebih mudah dilakukan, sebagaimana dakwah Mus’ab bin Umair di Madinah sebagai utusan Rasulullah. Karena jika militer sudah berdiri dipihak umat, maka militer tidak akan menjadi alat kekuasaan bagi penguasa untuk memusihi umat.

Dengan persiapan-persiapan tadi diharapkan energy umat yang sudah tersatukan dalam Reuni 212 bisa disalurkan secara tepat dan perjuangan mereka tidak sia-sia serta tidak disalah artikan dengan tafsiran semu. Dan formulasi yang tepat diharapkan perubahan hakiki bisa segera terwujud. Wallahu’alam bishowab.

 




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox