Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Jumat, 07 Desember 2018

Lawan Pemberontak OPM dan Seluruh Makar Asing!



Achmad Fathoni
(Dir. El harokah Research Center)

Pemberontak OPM kembali unjuk gigi aksi-aksi sadisnya. Kasus pembantaian terhadap pekerja PT Istaka Karya di Papua termasuk kepada anggota TNI masih berlanjut. dikabarkan saat ini aparat gabungan TNI-Polri telah menguasai sepenuhnya Gunung Kabo, lokasi pembantaian puluhan pekerja PT. Istaka Karya oleh KKB.

Masih aktifnya gerakan separatisme di Indonesia jelas menimbulkan pertanyaan tersendiri: Mengapa gerakan separatisme muncul? Mengapa pula gerakan tersebut seolah sulit ditumpas?

Sebagai negeri Muslim terbesar, maka problem yang menonjol di Indonesia adalah adanya gerakan separatisme yang akan melemahkan kekuatan Indonesia. Ada tiga kasus separatisme utama di Indonesia yaitu masalah Timor Timur, Aceh dan Papua.

Papua terletak di pantai Selatan timur Indonesia dan dianggap sebagai tambang emas dan tembaga terbesar di dunia berlokasi di sini dan 80% dimiliki oleh perusahaan Amerika (Freeport McCarron) dan melakukan ekstraksi emas sejak tahun 1967. Meskipun Indonesia memberikan otonomi luas pada provinsi ini pada tahun 2002, gerakan separatis Kristen itu menolak dan menuntut diadakannya referendum untuk pemisahan secara total di bawah pengawasan PBB yang mirip dengan yang terjadi di Timor Timur.

Banyak indikator yang menunjukkannya adanya dukungan Australia dalam membantu para pemberontak di Papua baik secara langsung atau melalui New Guinea, yang juga menyediakan tempat yang aman kepada para pemberontak separatis di samping dukungan finansial dan militer. Hal ini adalah kebijakan yang sama yang telah dilakukan Australia terhadap provinsi-provinsi di Indonesia selama puluhan tahun, yang secara terbuka terlihat dalam kasus Aceh dan secara diam-diam dalam kasus Timor Timur.

Amerika mulai mengungkapkan keprihatinan besarnya atas konflik di provinsi Papua ketika tahun 2005 Kongres AS memutuskan untuk menerapkan klausul berdasarkan mana Papua telah menjadi bagian dari Indonesia. Pada bulan Juni 2007, Utusan Khusus HAM Sekjen PBB, Hina Jilani mengunjungi propinsi Aceh dan Papua dan membahasa ‘pelanggaran HAM di dua provinsi, dengan menyatakan, “Saya menunggu tanggapan dari pemerintah Indonesia untuk mengatasi masalah-masalah HAM”. Pada bulan Juli 2007 ketua Subkomite Parlemen (Kongres AS) di Asia, Pasifik dan Global, Eni Faleomavaega, mengatakan, “Jika pemerintah Indonesia tidak mampu menangani dengan baik isu Papua, kami akan memberikan kemerdekaannya.” Hal ini menunjukkan niat Amerika dan Australia untuk campur tangan dalam konflik Indonesia di provinsi ini, sama seperti yang dilakukan sebelumnya di propinsi Aceh dan Timor Timur sehingga untuk melakukan hal ini Australia melakukannya dengan cara yang sepadan dengan kepentingannya.

Separatisme di Indonesia, baik terkait Timor Timur, Aceh maupun Papua dikarenakan intrik internasional dan konspirasi dengan partisipasi banyak kekuatan kafir. Dan ini harus dilawan dengan menekankan kesatuan wilayah negeri Islam yang tidak boleh terpisahkan satu sama lain. Timor Timur harus dikembalikan ke negeri asalnya, yaitu ke Indonesia. Selain itu juga tidak boleh memberikan jalan kepada provinsi lain seperti Aceh dan Papua untuk melakukan hal yang sama dengan tidak mempedulikan tekanan, dan jika ada penentangan atas pemisahan semacam itu, hal itu tidak diakui dan tetapi bekerja untuk membebaskannya walaupun memakan waktu lama dan apa pun pengorbanan yang dibutuhkan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox