Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Senin, 10 Desember 2018

Kudeta, Bukan Jalan Penegakan Khilafah!



[Mochamad Ali R]

Menjelang aksi Reuni Akbar 212 pada 2 Desember beberapa waktu yang lalu, santer terdengar kabar yang dihembuskan oleh kader partai sekuler PSI, Guntur Romli yang menyatakan bahwa aksi reuni ini adalah upaya menjadikan Indonesia seperti Suriah. Dengan jumlah peserta sebanyak itu, bukan mustahil akan terjadinya gerakan kudeta kepada pemerintahan Jokowi. Guntur Romli menambahkan, bahwa pola-pola yang dilakukan sama halnya kala oposisi Suriah menjatuhkan presiden Suriah, Bashar Assad. “Kalau di Suriah jelas agama sebagai alat politik untuk menjatuhkan Bashar Assad dan juga salah satu tandanya yakni menjadikan masjid sebagai alat politik dan pengumpulan massa. Itu juga yang terjadi di Istiqlal pada tahun 2016 jadi ada pola-pola yang sama mereka lakukan,” tegasnya.

Pernyataan Guntur Romli sangatlah fatal dan tidak mendasar, sebab pada kenyataannya dari awal hingga akhir acara Aksi Reuni Akbar 212 pun berjalan damai aman tanpa kerusuhan. Anggapan Guntur Romli itu pun tak terbukti. Oleh kaum nasionalis sekuler liberal, Reuni Akbar 212 pun dikaitkan dengan upaya penegakan Khilafah. Mereka menuding reuni akbar ini ditunggangi oleh HTI yang akan mengambil alih tampuk kekuasaan dengan mengkudeta paksa rezim pemerintahan. Tudingan seperti ini seakan menggiring opini bahwa sistem Khilafah selalu identik dengan peperangan, namun pada fakta sebenarnya tidaklah seperti itu. Sistem Khilafah, sebuah sistem yang diterapkan atas kesadaran kewajiban penerapan Syariah dan tidak ada unsur paksaan sama sekali.

Penegakan Khilafah, sebuah wilayah bisa dikatakan berhasil menerapkan sistem Khilafah apabila memiliki empat syarat yang telah dipenuhi.

Pertama, Khilafah wajib memiliki wilayah kekuasaan otonom, berdiri sendiri bukan negara di dalam negara, tidak ada intervensi dari negara lain dalam menjalankan roda pemerintahannya.

Kedua, Khilafah menjadi pemegang tunggal keamanan wilayahnya, mengontrol penuh stabilitas keamanan di setiap jengkal wilayahnya. Tak ada gangguan keamanan dari gerakan separatis dan sejenisnya.

Ketiga, Khilafah mampu menerapkan Syariah Islam secara kaffah, jelas konsep sistem politik pemerintahannya, jelas tatanan sistem ekonominya, mampu menerapkan Syariah Islam secara adil dan revolusioner serta siap mengemban dakwah Islam ke penjuru dunia.

Keempat, kepemimpinan Khilafah ditangan seorang khalifah yang telah memenuhi syarat-syarat pengangkatan (syuruth al in’iqadz), yaitu muslim, baligh, berakal, merdeka, adil, dan mampu serta dibaiat atas kesadaran dan pilihan (ridha wal ikhtiyar) kaum muslimin.

Adalah sebuah kesalahfahaman besar bila jalan penegakan Khilafah diraih dengan gerakan kudeta atau dengan angkat senjata. Sebab, Rasulullah saw dalam upaya penegakan Daulah Islamiyah pertama kali di Madinah tidak pernah menempuh jalan kekerasan, namun dari kesediaan dan kerelaan para pemangku kekuasaan menyerahkan kepemimpinan Madinah kepada Rasulullah saw. Satu hal yang menjadi penekanan kembali, bahwa kacaunya kondisi Suriah dan negara Timur Tengah lainnya saat ini penyebabnya adalah tidak diterapkannya Syariah Islam dalam naungan Khilafah, justru demokrasi lah yang mengantarkan negara-negara di Timur Tengah menuju kehancurannya. Maka tak ada relevansinya sama sekali bila kekacauan di Timur Tengah disebabkan karena Khilafah. Sebuah kemunduran logika berfikir mengaitkan Khilafah dengan kekacauan di Timur Tengah. Adakah saat ini negara di Timur Tengah yang telah menerapkan sistem Khilafah? Tentu jawabnya tidak ada.

Didalam mendirikan Khilafah, tentunya sangat penting sekali meneladani jalan (thariqah) Rasulullah saw. Selain sebagai kewajiban, meraih mahkota kemuliaan mestinya ditempuh dengan jalan kemuliaan pula, jalan yang pernah diambil Rasulullah saw. “Apa saja yang dibawa Rasul untuk kalian, maka ambillah. Dan apa saja yang dilarangnya bagi kalian, maka tinggalkanlah, “ (TQS. Al Hasyr 7). Dengan merujuk pada sirah Rasulullah saw, kondisi saat ini sama persis apa yang dialami beliau kala itu, dimana tidak diterapkannya Syariah Islam di Mekkah sama halnya kondisi di Indonesia saat ini. Yang dahulu dakwah Rasulullah saw mengenalkan Islam ditentang oleh kaum kafir Quraisy, kini dakwah mengembalikan Islam sebagai jalan kehidupan pun ditentang oleh kaum munafiqun sekuler liberal yang bergandengan dengan orang kafir.

Berkaca dari jalan perjuangan Nabi Muhammad saw, mulai dari awal menapaki pengenalan Islam hingga berdirinya Daulah Islamiyah. Akan tampak jelas beberapa tahapan yang dijalani Rasulullah saw. Beberapa tahapan ini adalah rujukan baku yang mesti dijalani agar tujuan mengembalikan kejayaan serta kemuliaan Islam dapat terwujud.

Tahapan yang pertama adalah pembinaan dan pengkaderan (marhalah tatsqif wa takwin). Tahapan ini meliputi pembentukan pribadi Islam, menjadikan Islam sebagai pedoman, Islam yang wajib dijadikan pegangan dalam kehidupan, membentuk pemikiran Islam dengan tsaqofah Islam, dan membentuk kelompok (kutlah). Tahapan ini sangat diperlukan terlebih hidup dengan aturan dan sistem sekuler saat ini yang sangat bertentangan Islam.

Tahapan yang kedua adalah berinteraksi dengan ummat (marhalah tafa’ul wal kifah), membangun kesadaran ditengah ummat akan pentingnya penerapan Syariah, mengajak ummat untuk berjuang bersama dalam upaya penerapan Syariah, memahamkan bahwa Syariah adalah solusi terbaik atas segala permasalahan, dan mengingatkan serta menawarkan kepada penguasa akan pentingnya penerapan Syariah dalam sebuah negara. Dalam tahapan ini, tentunya memiliki konsekuensi. Adanya benturan, penolakan serta pertentangan tak dapat dihindari, seperti kondisi saat ini adanya penolakan dan pertentangan dari kaum sekuler liberal yang gagal faham tentang konsep Syariah Islam.

Tahapan ketiga adalah penyerahan kekuasaan (marhalah istilam al hukm).
Tahapan ini adalah merupakan awal berdirinya Khilafah, dimana penguasa yang telah bersedia dengan penuh kerelaan dan keikhlasan atas penerapan Syariah menyerahkan kekuasaannya kepada ummat Islam seperti para pemangku kekuasaan di Madinah menyerahkan kekuasaannya dan berbaiat kepada Rasulullah saw. Khilafah memiliki kewajiban mendakwah Islam dan jihad (futuhat) ke penjuru dunia.

Dari ketiga tahapan ini dapat disimpulkan bahwa penegakan Khilafah tidaklah dengan gerakan kudeta atau angkat senjata, seperti yang dihembuskan oleh kaum sekuler liberal. Namun penegakan Khilafah didasari atas kesadaran dari seluruh elemen, mulai dari rakyat hingga penguasa akan pentingnya penerapan Syariah Islam. Sehingga penegakan Khilafah yang diikuti penerapan Syariah secara kaffah akan membawa keberkahan dunia maupun akhirat.

1 komentar:

  1. Luar biasa ,akan lebih sempurna ditambah dengan status wilayah indonesia yg tanah usriyah ,yg berarti indonesia menerima islam dengan tanpa kekerasan tapi kesadaran

    BalasHapus

Adbox