Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Kamis, 20 Desember 2018

Kapitalisme Timur dan Derita Muslim Uyghur



Oleh : Muhammad Alauddin Azzam
(Pegiat Literasi)

“Biarkan seratus bunga berkembang dan seratus pikiran yang berbeda-beda bersaing.” (Mao Zedong)

Leading di atas mengingatkan kita pada sosok Mao Zedong, Sang Pendiri Republik Rakyat Tiongkok (RRT). Selama ia memimpin RRT, dunia telah mencatat sejarahnya. Pada tahun 1956, Mao memperkenalkan sebuah kebijakan politik baru. Kaum intelektual boleh mengeluarkan pendapat mereka sebagai kompromis terhadap partai yang menekannya karena ingin menghindari penindasan kejam.

Tetapi ironisnya, kebijakan politik ini gagal. Sebaliknya, justru kaum intelektual merasa tidak puas dan banyak mengeluarkan kritik.
RRT mulai menatap masa depan. Pada tahun 1958, Mao meluncurkan apa yang ia sebut Lompatan Jauh ke Depan. Yaitu, kebijakan agar daerah pedesaan direorganisasi secara total. Di mana-mana didirikan perkumpulan-perkumpulan desa (komune). Namun, secara ekonomi, sistem ini gagal. Komune-komune ini menjadi satuan-satuan yang terlalu besar dan tak bisa terurusi.

Sebetulnya, saat itu Mao masih percaya akan sebuah revolusi yang kekal sifatnya. Ia juga percaya bahwa setiap revolusi pasti menghasilkan kaum kontra-revolusioner. Oleh karena itu secara teratur ia memberantas dan menangkapi apa yang ia anggap lawan-lawan politiknya dan para pengkhianat atau kaum kontra-revolusioner.

Peristiwa yang paling dramatis dan mengenaskan hati ialah peristiwa Revolusi Kebudayaan yang terjadi pada tahun 1966. Tahun 1960an merupakan musimnya mahasiswa di seluruh dunia memberontak terhadap apa yang mereka anggap The Establishment atau kaum yang memerintah. Begitu pula di Tiongkok. Bedanya di Tiongkok mereka didukung oleh para dosen-dosen mereka dan pembesar-pembesar Partai termasuk Mao sendiri. Para mahasiswa dan dosen mendirikan apa yang disebut Garda Merah, yaitu sebuah unit paramiliter. Dibekali dengan Buku Merah Mao, mereka menyerang antek-antek kapitalisme dan pengaruh-pengaruh Barat serta kaum kontra-revolusioner lainnya.

Keganasan Mao untuk meringkus para kontra-revolusioner berhenti. Kepemimpinan berpindah ke tangan Deng Xiaoping. Pemikiran ala Deng secara langsung membunuh semangat komunisme Cina ketika itu. Restrukturisasi ekonomi membuat kebijakan-kebijakan Mao lenyap. Hasil yang didapatkan adalah keuntungan ekonomi yang lebih besar di zaman Deng. Produktivitas petani meningkat. Bahan pangan mudah didapat. Seperti daging angsa dan komoditas lainnya yang dianggap murah.

China's Hope, harapan Cina untuk mengubah ulang struktur ekonomi terus berlangsung. Hasrat ekonomi itu akhirnya mulai melebar hingga Wilayah Xinjiang. Wilayah ini memang dikenal dengan wilayah yang menguasai 20 persen cadangan potensial minyak Cina. Cadangan minyak mencapai antara 20-40 miliar ton minyak mentah. Cadangan gas sedikitnya 12,4 triliun kaki kubik. China National Petroleum Corp, perusahaan minyak milik negara terbesar, memiliki hak monopoli pengelolaan dan eksplorasi migas di Xinjiang.

Hari ini, Rezim Cina berusaha untuk mengurangi ketergantungan migas dari luar negeri. Menjadikan Xinjiang sebagai pusat penyimpanan dan cadangan nasional. Ekonomi Cina sangat tergantung migas, dan negeri Tirai Bambu itu menjadi salah satu pemain utama global dalam perang energi dengan AS, Rusia, dan Uni Eropa. Maka, Wilayah Xinjiang menjadi seperti "gunung emas" yang musti dikuasai dan dimonopoli oleh Rezim Cina.

Fakta inilah yang mendorong Rezim Cina untuk menguasai Xinjiang. Spirit of Capitalism, Semangat Kapitalisme itulah yang membuat Rezim Cina menjadi "gila". Mereka rela mengeluarkan berbagai taktik dan strategi untuk menghegemoni Wilayah Xinjiang. Salah satunya adalah Clash of Etnic, benturan etnis yang mengarah kepada Etnic Cleansing, pembersihan etnis. Siapa yang jadi korban ? Jelas, Muslim Uyghur.

Sekali lagi, dampak dari pengambilalihan Wilayah Xinjiang adalah Etnic Cleansing, Pembersihan Etnis. Karenanya, Rezim Cina tidak segan-segannya memasukkan Suku Han yang loyal terhadap rezim untuk "adu otot" dengan Muslim Uyghur. Parahnya, Suku Han diberikan peralatan perang. Mereka diberikan tapeng, helmet untuk melindungi diri. Mereka juga diberikan camp-camp dan logistik untuk hidup. Apa tujuannya ? Tidak lain memperbanyak populasi Suku Han agar menjadi majority di Wilayah Xinjiang.

Maka, kita tidak heran dengan penderitaan luar biasa dari saudara-saudari kita Muslim Uyghur. Mereka ditindas, dianiaya, diperkosa, dan dibunuh. Tidak ada kekuatan dan senjata untuk melawan. Negeri-negeri muslim juga diam seribu bahasa. Lalu, sampai kapan kejahiliyyahan dan kemaksiatan ala Rezim Cina ini kepada Muslim Uyghur akan berakhir ?


20/12/18

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox