Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Kamis, 06 Desember 2018

Ganyang OPM!



Yuli Sarwanto
(Dir. FAKTA)

Tragedi kemanusiaan yang menewaskan sebanyak 19 pekerja PT Istaka Karya dan satu anggota TNI dibunuh pada Ahad (2/12) dan Senin (3/12) yang terjadi di Nduga oleh eelompok kriminal bersenjata jelas bukan peristiwa kriminal biasa. Organisasi Papua Merdeka (OPM) dituding sebagai pemberontak.

OPM didirikan tahun 1965 dengan tujuan membantu dan melaksanakan penggulingan pemerintahan di provinsi Papua dan Papua Barat di Indonesia, sebelumnya bernama Irian Jaya, yang memisahkan diri dari Indonesia.

Organisasi ini dianggap tidak sah di Indonesia. Perjuangan meraih kemerdekaan di tingkat provinsi dapat dituduh sebagai tindakan pengkhianatan terhadap negara. Sejak berdiri, OPM berusaha mengadakan dialog diplomatik, mengibarkan bendera Bintang Kejora, dan melancarkan aksi militan sebagai bagian dari konflik Papua.

Para pendukungnya sering membawa-bawa bendera Bintang Kejora dan simbol persatuan Papua lainnya, seperti lagu kebangsaan "Hai Tanahku Papua" dan lambang nasional. Lambang nasional tersebut diadopsi sejak tahun 1961 sampai pemerintahan Indonesia diaktifkan bulan Mei 1963 sesuai Perjanjian New York.

Kita perlu waspada segala upaya Barat (AS, Eropa, dan sekutunya) untuk melemahkan negeri-negeri Islam melalui isu separatisme terus dihembuskan hingga hari ini. Apa yang terjadi di Sudan, Bangladesh hingga kasus Timor Timur menunjukkan hal tersebut. Mereka terus berupaya mencerai-beraikan negeri-negeri Islam melalui gerakan separatisme tersebut dengan kedok penentuan nasib sendiri (right of self determinism) yang dilegitimasi PBB.

Hingga detik ini, masalah separatisme di Papua terus digulirkan oleh Barat, khususnya AS. Selain sejalan dengan upaya mereka untuk melemahkan negeri Muslim, juga sejalan dengan upaya mereka mengeruk kekayaan dari bumi Papua melalui Freeport. Dulu sempat beredar berita terkait separatis Papua tersebut di Australia. Berita yang dipublikasikan jaringan media Fairfax dan TheCanberra Times (13/8/2011) itu menyebutkan tentang laporan rahasia mengenai kelompok separatis Papua. Laporan yang bertajuk Anatomy of Papuan Separatis itu mengungkap sejumlah nama politisi, akademisi, wartawan, pekerja sosial dan pemimpin agama dari seluruh dunia yang menyokong gerakan separatisme di Papua. Di antara mereka ada senator Partai Demokrat AS Dianne Feinstein, Uskup Agung Desmond Tutu, anggota parlemen Inggris dari partai Buruh Andrew Smith serta mantan pemimpin Papua Nugini Michael Somare.

Semua itu menjelaskan satu hal, bahwa ide separatisme merupakan agenda asing untuk melemahkan umat Islam dengan cara memecah-belah dan menjauhkannya dari persatuan. Sebab, persatuan umat Islam dan penyatuan wilayah negeri-negeri Islam bisa menjadi mimpi buruk bagi Barat sang penjajah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox