Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Kamis, 20 Desember 2018

Dimana Mu’tashim, Dimana Mu’tashim!


Endah Sulistiowati
(Direktur Muslimah Voice

Cina telah menempatkan setidaknya Satu juta orang di kamp-kamp konsentrasi. di kamp-kamp ini mereka dipaksa untuk meninggalkan Islam, mengadopsi atheisme dan berjanji setia kepada negara komunis Cina. Bahkan kehidupan di luar kamp tidak lebih baik. Mempraktikkan Islam benar-benar dilarang: sholat, puasa, memelihara janggut, memakai jilbab, bahkan menamai bayi anda dengan nama Islami.

Cina telah memaksa orang Uighur untuk melepaskan keyakinan Islam mereka dan memberikan penanda yang membuat mereka berbeda dari mayoritas etnis Han di negara itu. Otoritas Cina juga telah melarang puasa Ramadhan serta kelas-kelas Al-Qur’an untuk anak-anak muda. Cina berusaha untuk menghapus identitas muslim Uighur. Inilah penjajahan yang terang benderang!

Ironisnya, pemerintah Indonesia melalui pernyataan Wapres Jusuf Kalla menegaskan sikap pemerintah yang tak bisa mencampuri urusan dalam negeri Republik Rakyat Cina (RRC). Hal di atas menambah deretan indikasi sikap lemah penguasa yang mayoritas warganya muslim atas penindasan rezim China terhadap umat Islam Uighur. Sikap ini bertentangan dengan sabda Rasulullah Muhammad saw.:
Tidak sempurna iman seseorang di antara kalian hingga dia mencintai untuk saudaranya apa yang dia cintai untuk dirinya sendiri. (HR al-Bukhari dan Muslim).

Padahal, Rasulullah saw. mengatakan bahwa kaum Muslim adalah satu tubuh, bersaudara, dan laksana satu bangunan yang kokoh. Lalu mengapa Pemerintah lebih berpihak menjalin hubungan erat dengan rezim China daripada mengentaskan derita sesama saudara di Uighur?

Selain itu, Allah SWT berfirman:
Siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kalian sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambatkan untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kalian menggentarkan musuh Allah dan musuh kalian serta orang-orang selain mereka yang tidak kalian ketahui sedangkan Allah mengetahuinya. (QS al-Anfal [8]: 60).

Ayat ini menunjukkan bahwa kaum Muslim diperintahkan untuk memiliki perlengkapan apapun yang bisa menjadikan musuh-musuh mereka gentar. Kini, Negara-negara imperialis ingin hanya mereka sajalah yang memiliki nuklir. Mereka takut jika negeri-negeri Muslim pun memilikinya. Sebab, jika umat Islam memiliki nuklir seperti yang mereka miliki, baik untuk energi maupun senjata, pasti mereka gentar terhadap umat Islam.

Kezaliman, ketidakadilan, dan penjajahan yang selama ini mereka lakukan pun akan bisa dihentikan oleh kaum Muslim, khususnya ketika ada pemimpin Muslim yang mampu menyatukan dan memobilisir kekuatan umat Islam di seluruh dunia. Karena itu, tindakan menghalang-halangi negeri Muslim untuk memiliki nuklir, sadar atau tidak, sama dengan melanggengkan kezaliman negara imperialis. Dan, karenanya sesungguhnya ini merupakan bentuk pengkhianatan terhadap Allah, Rasul, dan kaum Mukmin.

Umat ini membutukan kehadiran Al-Mu’tashim yang menjawab teriakan seorang muslimah dilecehkan oleh tentara Romawi. Khalifah pun langsung berseru kepada panglima perangnya agar bersiap menuju Ammuriah, tempat dimana muslimah tersebut berteriak meminta tolong. Puluhan ribu tentara pun digelar mulai dari gerbang ibukota di Baghdad hingga ujungnya mencapai kota Ammuriah. Pembelaan kepada muslimah ini sekaligus dimaksudkan oleh khalifah sebagai pembebasan Ammuriah dari jajahan Romawi.

Catatan sejarah menyatakan bahwa ribuan tentara Muslim bergerak di bulan April, 833 Masehi dari Baghdad menuju Ammuriah. Kota Ammuriah dikepung oleh tentara Muslim selama kurang lebih lima bulan hingga akhirnya takluk di tangan Khalifah al-Mu’tasim pada tanggal 13 Agustus 833 Masehi.

Hanya seorang Muslimah yang dilecehkan kafir Romawi dan berteriak "Wahai Mu’tasim, dimana engkau?” maka sang khalifah tersentuh hatinya dan terbakar ghiroh Islamnya sehingga dilancarkanlah serangan penaklukan ke Ammuriah hingga sang Muslimah akhirnya bisa dibebaskan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox