Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Sabtu, 22 Desember 2018

DERITA MUSLIM UIGHUR DAN NESTAPA NEGERI TERJAJAH


Oleh : Ahmad Sastra

Pada dasarnya semua manusia memiliki naluri kemanusiaan. Namun jika setan dan iblis telah merasuki jiwanya, maka manusia bisa kesetanan, bahkan menjadi setan dengan wujud manusia. jika masih manusia, maka akan tersentak jiwanya menyaksikan derita muslim Uighur dibawah kebengisan iblis komunis cina.

Benar kata pepatah, tidak perlu menjadi seorang muslim untuk bisa merasakan derita muslim minoritas Uighur. Cukup menjadi manusia yang masih memiliki hati nurani akan bisa merasakan derita yang tak terperikan itu. Betapa biadabnya iblis-iblis komunis cina menyiksa manusia.

Jika hanya dengan menjadi manusia sudah mampu merasakan derita itu, maka apalagi sebagai seorang muslim. Adalah sebuah pengkhianatan atas agama jika seorang muslim tidak tergerak untuk membantu saudara seimannya menderita.

Allah mengingatkan kepada seluruh kaum muslimin di dunia, “ (Akan tetapi) jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama, maka kamu wajib memberikan pertolongan” [QS Al Anfal : 72].

Sebab muslim adalah satu dan bersaudara. Sebab muslim adalah bagai satu tubuh yang saling merasakan jika salah satu bagian tubuh menderita sakit. Sebab muslim adalah bagai satu bangunan yang harus saling menopang dan saling menguatkan.

Hanya seorang budak yang tidak berani melawan tuannya. Hanya seorang jongos yang tak mampu mengkritisi bossnya. Hanya seorang cecunguk yang tak berani menegur kesalahan juragannya.

Hanya bangsa terjajah yang merunduk terhina tanpa harga diri. Hanya negeri terjajah yang membisu atas segala bentuk kezoliman. Hanya negeri terjajah yang buta terhadap segala kemungkaran.

Meski telah terang benderang terjadi genosida atas muslim Uighur di cina, namun para petinggi negeri ini membisu. Kebisuan ini menegaskan bahwa negeri ini telah menjadi budak, jongos dan cecunguk asing dan aseng. Buktinya ada beberapa negera bukan muslim justru berani memprotes keras atas kebiadaban rezim komunis cina.

Jika para petinggi negeri ini sering teriak bahwa Indonesia adalah negara merdeka dan berdaulat, maka mestinya berani bertindak tegas kepada kejahatan kemanusiaan cina atas muslim Uighur. Ketegasan atas segala bentuk penjajahan adalah bukti bahwa negeri ini telah terbebas dari penjajah.

Namun sayang, negeri muslim terbesar di dunia ini tak berkutik dibawah hegemoni aseng dan asing. Bahkan untuk sekedar mengutuk kebiadaban cinapun tak berani. Betapa rendah martabat negeri ini, betapa terhina bangsa ini.

Lantas kemana pancasila, disaat terjadi kebiadaban atas manusia. bukankah dalam pancasila terhadap istilah kemanusiaan dan kata beradab. Sementara hari ini tengah terjadi tragedi kemanusiaan yang tak beradab.

Jika benar, betapa bangsa ini telah tertipu dengan berbagai slogan kemerdekaan dan kedaulatan hingga NKRI harga mati. Sementara yang nampak justru keterjajahan aseng asing atas bangsa ini nampak lebih nyata. Di mata Allah bangsa ini sungguh terhina saat menjadi setan bisu atas penderitaan saudaranya.

Jeritan penderitaan muslim Uighur di tengah nestapa negeri terjajah adalah bencana peradaban kemanusiaan. Karena itu, seorang muslim harus terus makin sadar dan bangkit untuk menegakkan ideologi Islam  agar mampu melindungi muslim di seluruh dunia dari segala bentuk penjajahan.

Penderitaan muslim di Myanmar, Palestina, Suriah, Yaman, Phlipina dan Cina cukuplah untuk menjadi pemantik kesadaran, kebangkitan dan persatuan umat muslim seluruh dunia. Buang ideologi busuk nasionalisme yang telah memecah belah umat Islam.

Ya Allah ampuni kami, maafkan kami saudaraku. Semoga pertolongan Allah segera hadir di tengah kelemahan umat ini. Amiin.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox