Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Kamis, 06 Desember 2018

Dengan Syariah Islam, Separatisme Padam


M. Arifin
(Pengasuh Tabayyun Center)

Persoalan separatisme masih membelit NKRI. Intervensi asing seperti AS sebagai biang keroknya. Selanjutnya masalah ketidakadilan ekonomi yang dirasakan oleh rakyat di wilayah-wilayah tersebut akibat kegagalan Pemerintah dalam mensejahterakan rakyatnya.

Bercermin dari kasus Timor-Timur, wilayah ini merupakan lahan yang empuk bagi proses Kristenisasi. Rezim sekuler Suharto membuka pintu untuk para misionaris Kristen di Timor Timur dan dengan demikian jumlah orang Kristen meningkat di sana. Pada masa penjajahan Portugis, jumlahnya tidak lebih dari 211.000 orang, namun sejak bergabung dengan Indonesia hingga tahun 1996, jumlahnya membengkak menjadi 796.000 orang dan jumlah gereja meningkat delapan kali lipat dibandingkan dengan jumlah selama pemerintahan kolonial Portugis.
selain proses Kristenisasi, negara-negara Eropa dan Australia sangat ingin adanya pemisahan Timor Timur dari Indonesia dengan mendorong dan mendukung gerakan-gerakan separatis di sana dalam bentuk; finansial, militer dan politik. Memanfaatkan krisis keuangan 1997 yang melemahkan Indonesia, IMF dan Bank Dunia melakukan intervensi dalam kerja sama diam-diam dengan agenda para Negara donor, dan meminta Indonesia agar setuju untuk mengadakan referendum pemisahan Timor Timur.

Amerika Serikat, Perancis dan Australia khususnya, mendukung dan mengancam akan mendekati PBB untuk menjatuhkan sanksi terhadap Indonesia atau bahkan melakukan intervensi militer jika referendum tidak diselenggarakan. Referendum diadakan 30 Agustus 1999. Tanggal 25 Oktober 1999, PBB membentuk pemerintahan administratif sampai tercapai kemerdekaan Timor Timur tahun 2002. Pemisahan diri dan kemerdekaan dari Indonesia telah berarti bahwa Tentara Salib Barat yang penuh dengki telah berhasil menanamkan suatu entitas asing [Israel yang baru] baru di samping wilayah Islam yang luas ini dan juga membuka jalan bagi provinsi lainnya untuk menuntut pemisahan diri.

Menyikapi hal ini, Islam melarang pembagian dan pemisahan Islam dan tanah mereka dan dengan demikian gerakan separatis benar-benar dilarang. Siapa pun yang berniat untuk melaksanakan syariat, juga harus mengikuti hukum-hukumnya dalam hal ini, yaitu bahwa kelompok separatisme adalah dilarang dan begitu juga membunuh kaum Muslim oleh Muslim lain pada masalah yang asalnya adalah terlarang.

Solusi sebenarnya adalah bekerja dengan seluruh kaum muslimin dalam rangka mengubah sistem sekuler yang ada di seluruh Indonesia dan menahan diri dari tiap usaha untuk memproyeksikan kecenderungan nasionalis atau separatis atas kaum Muslim, dan mengantar sistem Islam yang adil dan merata dengan penerapan sistem Islam. Kita butuh pemimpin yang menerapkan hukum syariat tentang perlindungan atas kesatuan kaum muslimin, dan bekerja dengan tekun untuk menerapkan Islam di seluruh Indonesia.

Hanya dengan cara itulah sumber daya alam akan terdistribusi secara merata kepada tiap-tiap orang. Hal ini penting untuk menjaga jarak yang jelas hubungannya dengan kekuatan asing yang mengulurkan tangan bantuan, baik mereka adalah Eropa, Amerika atau apapun lainnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox