Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Kamis, 20 Desember 2018

Cukup! Muslim Uighur Lelah di Bawah Kediktatoran Rezim Komunis


Fajar Kurniawan
Analis Senior PKAD (Pusat Kajian dan Analisis Data)

Sejak awal tahun berbagai laporan menyebutkan Cina mengoperasikan sejumlah kamp penahanan bagi jutaan muslim Uighur. Sejak dulu kekuasaan Cina melakukan perlakuan keji terhadap muslim Uighur. Protes dari kaum muslim dan kekerasan dari rezim komunistik lebih kerap terjadi.

Uighur memiliki kekayaan mineral terutama minyak dan gas di wilayah yang luasnya lima kali lipat lebih besar dari Jerman mendatangkan investasi Cina. Identitas komunitas Muslim Uighur menjadi sasaran kecurigaan rezim. Menjadi pemandangan umum ketika warga Uighur digeledah di jalan-jalan dan pos-pos pemeriksaan kendaraan, sementara warga etnik Han kerap lolos dari pengecekan serupa.
Muslim Uighur dikenai pelarangan perjalanan, baik di dalam Xinjiang maupun ke luar wilayah tersebut. Bahkan ada perintah resmi yang memaksa warga Uighur menyerahkan paspor ke polisi untuk "diamankan". Soal agama, para pejabat pemeriontah Uighur dilarang mempraktikkan rukun Islam, baik beribadah di masjid maupun berpuasa saat Ramadhan. Lantaran semua langkah ini sudah ditempuh, mungkin tak mengherankan apabila Cina mendirikan kamp-kamp penahanan—solusi lebih keras untuk memperlakukan warga Uighur yang dianggap tidak loyal.

Kaum muslim Uighur sebagai pihak minoritas mengalami penindasan dan kezhaliman dari pemerintah China. Kezaliman itu terus berlangsung sampai hari ini, tanpa henti, dan melakukan aksi kekerasan senjata terhadap Muslim di wilayah itu.

Pemerintah juga memasang ratusan ribu kamera pengintai di Urumqi untuk mengawasi setiap kegiatan Muslim Uighur. Hal ini  guna terus menerus mematai-matai kegiatan yang dilakukan oleh Muslim di wilayah itu. Pemerintah sangat waspada segala bentuk kegiatan Muslim di wilayah itu.

Pembantaian sadis Umat Islam Uighur di China oleh Aparat Kafir Komunis dan Suku Han. Cina mayoritas penduduknya adalah suku Han. Mereka yang menguasai seluruh jaringan kekuasaan di negeri komunis itu. Karena itu, mereka sangat tidak toleran terhadap suku lainnya, termasuk golongan Islam di Uighur, yang bukan suku Han. Muslim Uighur juga sulit untuk melaksanakan ibadah haji karena tidak bisa mendapat paspor. Proses pembuatan paspor dipersulit dan pemerintah China juga membatasi biro perjalanan haji. Kesejahteraan ekonomi antara Muslim Uighur dengan suku China Han juga sangat jauh jaraknya. Suku Han mendapat gaji empat kali lebih besar daripada suku Uighur meskipun pekerjaannya sama.

Penindasan terhadap umat Islam tersebut harus dicegah oleh umat Islam di negeri lain seperti Indonesia yang merupakan negara berpenduduknya umat Islam terbanyak.  Para penguasa negeri-negeri muslim mungkin berhasil membuat umat Islam puas hanya dengan izin yang mereka berikan kepada masyarakat untuk melakukan longmarch, pawai, demonstrasi atau pengamanan yang mereka berikan. Namun, hendaknya umat Islam mengambil tugas menuju seruan nyata mereka sehingga bisa membuat para penguasa muslim agar mau menggetarkan nyali rezim China yang telah menodai dan melecehkan kaum muslim secara brutal.

Musibah yang menimpa umat ini sebenarnya terletak pada diri penguasa mereka. Penguasa umat inilah yang telah dengan suka rela menikmati sikap diamnya yang mereka lakukan terhadap publik. Allah SWT. berfirman:

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) serta jangan pula kalian mengkhianati amanat-amanat yang telah dipercayakan kepada kalian, sedangkan kalian mengetahuinya. (Q.s. al-Anfal [8]: 27).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox