Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Jumat, 16 November 2018

Tergerak Untuk Bersegera Menerapkan Syariah Islam


Abu Inas
(Pengasuh Tabayyun Center)

ada suatu yang salah dari keberislaman umat di negeri ini. Dalam hal ini, sikap murâqabah (selalu merasa dekat dan diawasi Allah), sebagai konsekuensi keimanan seorang Muslim, seolah tidak tampak dalam kehidupan kaum Muslim saat ini.

Mungkin dari kita hari ini sudah lupa tentang ihsân yang telah berabad-abad diajarkan Baginda Rasul saw.
Diriwayatkan, ada seorang laki-laki bertanya kepada Rasul—yang ternyata adalah Malaikat Jibril—tentangihsân. Laki-laki itu bertanya kepada Rasul, “Ceritakanlah kepadaku tentangihsân.” Rasulullah saw. menjawab, “Hendaklah engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak dapat melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu.” (HR al-Bukhari dan Muslim).

Kita juga mungkin lalai bahwa segala gerak lahiriah dan batiniah kita akan dimintai tanggung jawabnya oleh Allah SWT di akhirat kelak. Allah SWT berfirman:

Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya akan dimintai pertanggungjawaban. (QS al-Isra’ [17]: 36).

Sabda Nabi saw. dan firman Allah SWT di atas seharusnya menjadikan setiap Muslim, rakyat biasa ataupun pejabat/penguasa, di mana pun dan kapan pun berada, harus memiliki kesadaran bahwa dia selalu diawasi oleh Allah SWT. Allah tidak pernah lengah terhadap segala apa yang kita perbuat. Singkatnya, sikap murâqabah harus membudaya.

Sikap dan budaya murâqabah ini tidak akan muncul jika tidak didorong oleh keyakinan dan keimanan yang kuat dan produktif. Keimanan semacam ini didapat melalui proses berpikir yang mendalam, bukan karena faktor pewarisan. Terdapat ratusan ayat bertemakan keimanan yang senantiasa dikaitkan dengan proses berpikir. Banyak ayat al-Quran sering mengambil tema tentang lingkungan, kehidupan, alam semesta, dan apa saja yang ada pada diri manusia untuk menuntun dan mengajak manusia berpikir, yang mengarahkan pada keimanan yang hakiki. Imam Syafii pernah menyatakan, “Ketahuilah bahwa kewajiban pertama bagi seorang mukallaf adalah berfikir dan mencari dalil untuk makrifat kepada Allah…Hal ini merupakan suatu kewajiban dalam bidang ushuluddin.”

Dengan proses berpikir yang mendalam inilah akan muncul sebuah keimanan yang kokoh dan produktif. Keimanan yang demikian akan menjadi landasan bagi ketundukan dan kepatuhan hawa nafsu seorang Muslim terhadap syariah Allah SWT. Dengan begitu, seorang Muslim, dengan penuh kesadaran, sekuat tenaga selalu berusaha menyelaraskan segala aktivitasnya dengan tuntunan Allah dan Rasul-Nya.

Lebih dari itu, Islam tidak pernah membiarkan seseorang yang mengaku beriman tanpa ada kejelasan tolok ukur dalam perbuatannya. Baginda Nabi saw. menjuluki orang yang tidak bisa mencegah kemungkaran dengan kekuatan fisik dan lisan sebagai orang yang lemah iman (adh‘af al-imân
Mewujudkan sikap dan budaya murâqabah (selalu merasa diawasi Allah SWT) dalam kehidupan bukanlah perkara mudah. Peran bersama individu, kontrol masyarakat dan penegakkan hukum Islam oleh negara mutlak diperlukan. Secara individual, agar kesadaran individu terwujud diperlukan adanya upaya pendidikan dan pembinaan serius yang berkesinambungan dengan berbagai cara dengan wasilah yang beragam. Pembinaan yang dilakukan harusnya memiliki karakter mendasar dengan proses berpikir yang jernih. Dengan begitu, keimanan yang mendalam bisa ditanamkan. Dengan itu pula seorang Muslim akan selalu terdorong untuk terikat dengan seluruh aturan Allah SWT.

Namun demikian, karena karakter manusia yang mudah berubah, hawa nafsunya pun sering cenderung memerintahkan kejahatan, maka jelas diperlukan kontrol dari sesama Muslim atau masyarakat. (Lihat: QS Ali Imran [3]: 104).

Yang lebih penting dari sekadar peran individu dan kontrol masyakat, tentu saja adalah penegakan hukum oleh negara (pemerintah/penguasa). Hukum yang dimaksud tentu adalah hukum Allah, bukan hukum sekular buatan manusia yang terbukti lemah dan tidak bisa diharapkan dalam mengadili manusia sekaligus mengatasi berbagai persoalan mereka. Di sinilah penting dan wajibnya negara menerapkan syariah Islam. Hanya syariah Islamlah, yang notabene merupakan hukum Allah, yang bisa menyelesaikan seluruh persoalan manusia, karena memang bersumber dari Pencipta manusia.

Apakah hukum Jahiliah yang mereka kehendaki? Siapakah yang lebih baik hukumnya dibandingkan dengan Allah bagi kaum yang yakin? (QS al-Maidah [5]: 50).

Murâqabah tanpa kontrol masyarakat dan penegakkan syariah oleh negara hanya akan seperti upaya tambal-sulam; tentu tidak akan bisa diharapkan dapat mengatasi segala penyimpangan dan pelanggaran terhadap syariah-Nya.

Karena itu, masihkan kita berpangku tangan dan belum tergerak untuk segera menerapkan syariah Islam dalam seluruh aspek kehidupan?

Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan Rasul-Nya jika dia menyeru kalian pada sesuatu yang bakal memberikan kehidupan bagi kalian (QS al-Anfal [8]: 24).



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox