Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Selasa, 20 November 2018

Posisi Indonesia Diantara Perseteruan antara Amerika Serikat vs China Pasca KTT APEC 2018


Fajar Kurniawan
(Analis Senior PKAD)

Para pemimpin negara-negara di APEC pecah, konfrontasi politik antara Amerika Serikat dan China menguat di forum tersebut diantaranya terkait investasi dan perdagangan sehingga gagal mencapai kesepakatan soal komunike pada pertemuan puncak di Papua Nugini pada Minggu 18 November 2018.

Perseteruan antara Amerika Serikat (AS) dan China atas Pasifik mendominasi pemberitaan media. Cina bersikukuh membentangkan program Sabuk dan Jalan China, sementara sekutu-sekutu AS mencecar berbagai argumentasi untuk menentang program Sabuk dan Jalan China.

Wapres AS Mike Pence menyatakan perbedaan kebijakan luar negeri negaranya dengan Kebijakan China, perbedaan yang dimiliki China dengan AS. Sementara China bermanuver dengan menunjukkan dukungan pada sistem perdagangan bebas, untuk mendorong pertumbuhan ekonomi negaranya dengan tingkat perekonomian terbesar kedua di dunia, setelah Amerika. Pada saat yang sama, Cina juga bersikap nasionalistik yang memancing seruan disintegrasi dari beberapa wilayah, dan AS dalam hal ini berperan dalam memberikan dukungan diam-diam secara konsisten terhadap wilayah-wilayah tersebut.

China saat ini menjadi Negara adidaya regional. Kebijakan politik luar negeri China juga berpusat pada pembangunan ekonomi domestik dan menguasai sumber daya alam untuk memenuhi kebutuhannya. China memang melawan strategi AS untuk mengisolasi dirinya dengan melemahkan negeri-negeri yang dirancang AS sebagai alatnya. Misalnya, China juga menawarkan kerjasama bilateral dengan Australia, India, Jepang dan Korea Selatan agar hubungan negeri-negeri ini dengan AS menjadi lebih kendor.

Realita ini membuat China terlalu fokus pada wilayah regional dan belum memiliki ambisi untuk lebih dari itu. Hal ini akan berubah apabila China merubah ambisi regionalnya menuju ambisi global. Tanpa adanya perubahan ambisi, maka China tidak akan menjadi kekuatan global. Dengan pandangan regional yang sempit, China tidak akan mampu menandingi AS. Apa yang dilakukan China di Afrika sebenarnya tidak untuk menantang AS tapi sekedar usaha mendapatkan akses kepada energi minyak, dimana China akan semakin tergantung kepadanya. Di sinilah China menghadapi isu penting yang akan menentukan status masa depannya.

Persaingan politik dan ekonomi AS vs China tentu berimbas bagi Negara berkembang seperti Indonesia, dampak perang dagang AS dengan China dinilai dapat menyebabkan naiknya utang negara karena nilai Rupiah Indonesia sangat di pengaruhi oleh  nilai uang Dollar dan Yuan atas kerjasama yang  telah di lakukan antara Indonesia dengan kedua negara tersebut. Misalnya menurunnya indeks harga saham gabungan (IHSG) yang mengakibatkan penurunan investasi. Dengan perkembangannya, bursa saham anjlok dan pasar modal buruk yang bisa mengakibatkan sentimen investasi buruk. Namun, dampak negatif ini tidak hanya berlaku bagi Indonesia tetapi seluruh bursa saham Internasional.

Indonesia sebagai salah satu Negara yang memiliki SDA yang berlimpah, menjadi daya pikat bagi para imperialis seperti AS dan Cina. Keduanya berusaha untuk dapat menancapkan kekuasaannya di negeri ini. Dampak negatif perang dagang ini yang langsung di rasakan Indonesia, China serta Amerika karena merupakan mitra dagang yang besar. Untuk saat ini, China merupaka mitra dagang nomor satu Indonesia. Namun, dengan demikian pemerintah Indonesia meyakini bahwa perang dagang antara Amerika dan China tidak akan menimbulkan krisis ekonomi sebagaimana yang terjadi pada 1998 dan 2008.

Dengan adanya perang dagang antara Amerika Serikat dan China dengan segala dampak yang di timbulkannya bagi Indonesia bahkan dunia, pemerintah hendaknya berhati-hati dalam membuat suatu aturan atau kebijakan dalam menghadapi hal ini. Selain itu, hendaknya pemerintah mampu menjaga pasar dalam negeri salah satunya dengan cara mengoptimalkan potensi yang dimiliki oleh Indonesia.

Selain Amerika Serikat, Negara komunis China adalah negara yang juga memiliki hubungan kerja sama dengan Indonesia. Tak berbeda dengan hubungan Indonesia – Amerika, hubungan Indonesia dengan China juga diantaranya dalam bidang diplomatik, ekonomi, pendidikan, dan lain-lain. Selain itu, banyak proyek yang di dukung oleh investor dari China contohnya dalam hal pembangunan infrastruktur, transportasi dan pertambangan. Selanjutnya dalam hal ketenagakerjaan, RI dan China telah bekerja sama menjajaki pelatihan tenaga kerja mengingat semakin besarnya investor yang berasal dari China.

Pengaruh China di Indonesia mendominasi dalam dua bidang, yaitu infrastruktur dan perdagangan. Dalam pembangunan infrastruktur, Indonesia memang didominasi oleh Investasi China, sebut saja proyek-proyek besar pembangunannya dilakukan oleh perusahaan China.

Pertarungan 2 negara besar kapitalis di negeri ini telah menjadikan apa yang menjadi milik umat tidak bisa dinikmati oleh umat, karena semuanya telah dikuasai swasta bahkan asing-aseng. Hal ini yang membuka masuknya para imperialis seperti AS dan China dalam menguasai dan mengeruk kekayaan negeri ini.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox