Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Selasa, 27 November 2018

Perang Proxy Amerika dan Inggrislah Biang Konflik di Yaman!



Fajar Kurniawan
(Analis senior Pusat Kajian dan Analisis Data)

"Saatnya untuk pembicaraan langsung dan membangun rasa saling percaya," kata juru bicara Departemen Luar Negeri AS Heather Nauert dalam sebuah pernyataan pada Rabu (21/11).
Washington meminta semua pihak yang terlibat dalam konflik Yaman mendukung Utusan Khusus PBB untuk Yaman Martin Griffiths menyerukan kepada kelompok Houthi dan Pemerintah Republik Yaman agar berkomitmen menghadiri konsultasi di Swedia. AS juga meminta agar pelabuhan Hodeida diserahkan kepada pihak netral. Hal itu penting dilakukan guna mempercepat proses distribusi bantuan kemanusiaan. Dengan demikian Yaman dapat mengatasi krisis kemanusiaannya yang kian memburuk.
Sebelumnya Amerika terus bermanuver untuk menekan pihak Inggris agar melibatkan kelompok Houthi dalam kekuasaan. Manuver Amerika ini disampaikan melalui penasihat Arab Saudi, Anwar Eshki yang menyatakan bahwa “Selatan Arab akan menikmati kemerdekaan, dan dia mengingatkan untuk tidak tergesa-gesa.”

Arab Saudi mengancam untuk memisahkan Wilayah Selatan, hanya untuk menekan Inggris agar melibatkan kelompok Houthi dalam kekuasaan negara tersebut, sebab mereka diterima oleh Amerika dan akan mempertahankan kepentingannya, terlepas dari slogannya yang anti-Amerika, namun akhir-akhir ini Amerika membela mereka di forum-forum internasional, dan membuat mereka sebagai kubu pemerintah Hadi dalam perundingan yang disponsori oleh PBB. Ancaman untuk memisahkan wilayah selatan bukanlah untuk menghilangkan ketidakadilan dari masyarakatnya. Namun itu untuk menyebarkan kekacauan di negara tersebut sehingga Inggris tidak dapat mendominasi sumber daya alamnya.

Konflik kepentingan Amerika melawan Inggris di wilayah Yaman tidak hanya berbuah spirit disintegrasi, namun juga melalui pembantaian dan kerusuhan keamanan di daerah-daerah yang disebut pembebasan, serta terus-menerus meneggelamkan negara tersebut dalam krisis ekonomi dan keamanan. Semua ini mengungkapkan persaingan berdarah antara pihak-pihak Barat terkait berbagai potensi Yaman, pelabuhan-pelabuhan, dan kekayaannya. Dalam hal ini rakyat Yaman tidak banyak mengerti atas konflik Barat di negaranya melalui alat-alat lokal dan regional, akibatnya semakin banyak krisis dan bencana yang akan menimpa mereka di atas kesengsaraan yang sudah mereka rasakan.

Para rezim Arab seperti Arab Saudi, Iran, dan Bahrain serta Suriah memainkan ‘kartu konflik sektarian’ untuk keuntungan domestik dan regional politik mereka sendiri. Mereka menggunakannya untuk meningkatkan sentiman masyarakat untuk menampilkan diri mereka sebagai pahlawan Muslim ‘Sunni’ atau ‘Syiah’ serta mengkonsolidasikan kursi mereka atas kekuasaan dan memberikan pengaruh secara regional untuk tujuan yang egoistik.

Yaman masih belum menunjukkan pemulihan. Perang di Yaman saat ini bukanlah konflik berbasis sektarian. Tetapi sektarianisme sedang digunakan oleh pemerintah barat dan rezim agen mereka di dunia Muslim sebagai alat politik untuk mencapai tujuan kebijakan luar negerinya di negara tersebut, dengan cara yang sama digunakan dalam perang Irak dan Suriah.

Kekuatan Barat menggunakan ‘narasi sektarianisme’ sebagai bagian dari kebijakan kolonialisme mereka di dunia Muslim. Ini adalah cara kapitalis yang digunakan untuk menjaga wilayah ini terbagi dan menimbulkan ketidakstabilan dan konflik antara Muslim untuk membenarkan intervensi, interferensi politik, dan kolonisasi yang terus berlanjut untuk kepentingan politik dan ekonomi. Sektarianisme juga digunakan untuk menyebarkan keyakinan rusak bahwa Kebencian yang mengakar antara Muslim Sunni dan Syiah berarti mereka tidak akan pernah bisa bersatu dalam satu negara, untuk menghalangi penyatuan tanah Muslim. Semua cara ini dilakukan Barat untuk mencegah berdirinya khilafah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox