Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Jumat, 16 November 2018

Mudah-Mudahan Penjelasan Ini Akan Membangunkan Orang yang Tertidur, Menyadarkan Orang yang Berkhianat


dr. M. Amin (Dir. ForPURE)

Amnesty International mencabut penghargaan Ambassador of Conscience atau Duta Besar Hati Nurani yang pernah diberikan kepada Aung San Suu Kyi pada 2009. Pemimpin de facto Myanmar itu dinilai tak lagi pantas menyandang gelar tersebut karena sikap tak acuhnya atas penindasan yang dialami etnis Rohingya. Sekretaris Jenderal Amnesty International Kumi Naidoo telah mengirimkan surat mengenai pencabutan penghargaan tersebut kepada Suu Kyi pada Ahad (11/11). Dalam suratnya, seperti dikutip dari laman resmi Amnesty International, Selasa (13/11), Naidoo mengekspresikan kekecewaan Amnesty International terhadap Suu Kyi. Suu Kyi yang telah mencapai separuh dari masa jabatannya, tak menggunakan otoritas politik dan moralnya untuk menjaga HAM, menegakkan keadilan, dan kesetaraan.

Suu Kyi justru menutup mata atas kekejaman militer Myanmar dan meningkatnya kekangan terhadap kebebasan berekspresi di Myanmar. Naidoo mengatakan, Amnesty International sebelumnya sangat berharap Suu Kyi dapat melanjutkan perjuangannya untuk menentang ketidakadilan di manapun, termasuk di Myanmar. “Hari ini kami sangat kecewa menyampaikan bahwa Anda tidak lagi mewakili simbol harapan, keberanian, dan pejuang hak asasi manusia," kata Naidoo. (https://www.republika.co.id/berita/nasional/tokoh-perubahan/18/11/14/pi653n440-apakah-suu-kyi-masih-layak-disebut-pejuang-ham)

Komentar

Aung San Suu Kyi telah memilih membisu terhadap kasus imigran Rohingya. Seharusnya aktif untuk membela imigran Rohingya yang diusir dari Myanmar akibat kebijakan diskriminatif yang mereka terima. Publik frustasi terhadap aksi nyata dari Aung San Suu Kyi untuk membela pengungsi Rohingya yang kini menderita dan terombang-ambing di tengah penderitaan.

Pada saat yang sama, rezim Myanmar yang disokong Cina itu juga memutarbalikkan fakta. Mereka tidak pernah menyebut kemuliaan kaum muslim Myanmar dengan sebutan yang benar. Mereka menampakkan keputusan mereka sebagai musuh Islam dan muslim. Semoga Allah membinasakan mereka; bagaimana mereka sampai bertindak sangat brutal?

Musibah yang menimpa umat ini sebenarnya terletak pada diri penguasa mereka dan penguasa kaum muslim. Penguasa muslim hanya menunjukkan simpati dan tidak memperlihatkan aksi sebagai muslim sejati. Mereka begitu peduli terhadap penyesatan opini yang dilakukan rezim Myanmar. Rezim Myanmar bersaksi atas diri mereka dengan keburukan.

Kecaman dunia tinggal kecaman. Cacian tinggal cacian. Faktanya, semua itu tidak menjadikan Myanmar takut dan menyesal atas kebiadabannya, bahkan telah melakukan pengusiran membabi buta dan brutal. Ironisnya, para penguasa negeri-negeri Islam hanya diam, tidak melakukan apa-apa, selain melontarkan kecaman tanpa arti. Selebihnya, mereka sekadar ‘berbasa-basi’ dengan melempar opini yang tak berguna, seakan itu perbuatan yang pantas dan cukup sebagai seorang pemimpin. Padahal setiap detik, setiap nyawa muslim Rohingnya siap melayang di tangan Rezim Myanmar jika dipantik aksi brutal militer lagi.

Kita diingatkan pada kasus puluhan ribu muslim Rohingya, yang telah lama dianiaya oleh negara, telah mencoba melarikan diri dari kekerasan ke negara tetangga Bangladesh. Bagaimanapun, Bangladesh mencegah mereka untuk memasuki negara itu, tidak mau menerima mereka dan mendeportasi Muslim Rohingya yang tertangkap. Saksi dan aktivis telah melaporkan tentara membantai Muslim Rohingya, memperkosa para perempuannya dan menjarah serta membakar rumah-rumah mereka tetapi pemerintah telah menolak untuk mengizinkan pengamat internasional untuk menyelidiki. Menyedihkan.

Inilah kebangkrutan besar umat Islam saat ini. Mereka hidup di bawah asuhan para pemimpin yang ‘impoten’. Lebih dari itu, yang terjadi sesungguhnya, para penguasa negeri-negeri Islam itu telah berkhianat kepada Allah SWT, Rasul-Nya dan kaum Muslim. Diamnya mereka tanpa memberikan pertolongan kepada kaum Muslim Rohingnya adalah bentuk persengkokolan jahat mereka dengan bangsa-bangsa kafir. Mereka persis seperti orang-orang munafik yang sejak awal kelahiran Islam di bumi Yasrib (Madinah al-Munawarah) bersekongkol dengan orang-orang Yahudi untuk mengeliminasi Rasul saw. dan kaum Mukmin.

Mudah-mudahan penjelasan ini akan membangunkan orang yang tertidur, menyadarkan orang yang berkhianat, atau mengembalikan akal orang yang tak tersadarkan.

Allah SWT. berfirman:
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) serta jangan pula kalian mengkhianati amanat-amanat yang telah dipercayakan kepada kalian, sedangkan kalian mengetahuinya. (Q.s. al-Anfal [8]: 27

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox