Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Jumat, 16 November 2018

Khilafah vs Adidaya Kapitalis


M. Arifin (Tabayyun Center)

Sejak runtuhnya Khilafah Islamiyah pada tahun 1924, kaum Muslim mengalami kemunduran yang sangat tragis. Mereka terpecah-belah dalam sekat-sekat nasionalisme; dalam lebih dari 50 negara. Cengkeraman kafir penjajah sudah begitu kuat. Akibatnya, kondisi politik dan sosial ekonomi negeri-negeri Muslim sungguh sangat memprihatinkan.

Sebagiannya dijajah secara militer, seperti yang terjadi di Irak, Afganistan, dan Palestina. Sebagian lainnya seperti Mesir, Saudi, Indonesia, dan sebagainya dijajah secara politik dan ekonomi. Umat Islam menjadi pihak yang tertindas di negeri mereka sendiri. Keadaan ini secara jelas telah dikabarkan oleh Rasulullah saw.:

“Berbagai bangsa akan mengerubuti kalian sebagaimana orang-orang rakus mengerubuti makanan.” Seseorang bertanya, “Apakah karena jumlah kami sedikit pada saat itu?” Rasul saw. menjawab, “Kalian pada saat itu bahkan berjumlah banyak. Namun, kalian seperti buih di lautan.” (HR Abu Dawud dan Ahmad).

Secara jujur harus kita akui, Kapitalisme global saat ini—yang merupakan salah satu ideologi transnasional—bukan hanya merupakan ancaman, namun benar-benar telah merusak dan mengobok-obok Indonesia. Kejahatan ideologi ini sudah dimulai sejak masa penjajahan fisik dulu. Kini, melalui perangkat institusi internasional seperti Bank Dunia, IMF, Pasar Bebas, penjajahan dalam bentuk lain terhadap Indonesia terus berlanjut. Akibatnya, meski Indonesia sangat kaya, penduduknya terpaksa harus hidup dalam kemiskinan. Kekayaan berupa emas, migas, dan barang tambang lainnya yang semestinya bisa dinikmati oleh rakyat malah dihisap oleh negara penjajah melalui perusahaan kaki tangannya di negeri ini.

Secara politik, Indonesia juga tidak luput dari cengkeraman hegemoni global negara-negara adidaya. Indonesia saat ini tunduk pada negara Barat (AS dan sekutunya) dalam apa yang mereka sebut perang global melawan terorisme. Bukan hanya itu, atas nama HAM, Demokrasi, dan Pluralisme, negara penjajah juga terus melakukan intervensi yang mendorong disintegrasi. Buahnya yang nyata adalah lepasnya Timor Timur. Bukan tidak mungkin, Papua bakal menyusul.

Karena itu, solusi Khilafah sesungguhnya merupakan bentuk perlawanan terhadap penjajahan multidimensi yang nyata-nyata sekarang tengah mencengkeram negeri ini dalam berbagai aspeknya. Hanya melalui kekuatan global saja, penjajahan global bisa dihadapi secara sepadan. Karena itu pula, sebagai bentuk kepedulian yang amat nyata dari Hizbut Tahrir Indonesia terhadap keadaan negeri ini, Hizbut Tahrir dengan berbagai pandangannya sangat ingin membawa negeri ini betul-betul mampu mencapai kemerdekaan hakiki dan terbebas dari berbagai bentuk penjajahan yang ada. Namun ironisnya penguasa menangkap pesan dari HTI dengan perspektif lain.

Ringkasnya, sebagai khayru ummah, kita tentu tidak boleh terus-menerus dalam keadaan terpuruk seperti itu. Salah satu ciri umat terbaik adalah cepat menyadari kesalahan dan segera bangkit memperbaiki diri. Karena itu, tepat sekali jika agenda-agenda besar umat Islam nanti kita jadikan sebagai moment of awakening (momen kebangkitan).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox