Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Jumat, 16 November 2018

Gulung Kezaliman, Terus Maju Bergerak!


Adam Syailindra
(Forum Aspirasi Rakyat)

Umat Islam terus-menerus dilemahkan oleh negara-negara penjajah dengan berbagai cara dan isu. Isu terorisme, pelanggaran HAM dan berbagai perjanjian yang dijalin oleh pemerintah dengan berbagai Negara kapitalis, bukan hanya merugikan Indonesia, tetapi sekaligus menjadi alat dan perangkap yang sengaja digunakan oleh negara penjajah untuk melemahkan kekuatan negeri ini. Belum lagi carut-marutnya gambaran kehidupan politik, ekonomi, sosial dan budaya yang terus-menerus menggerogoti ketahanan Indonesia sebagai salah satu negeri Islam terbesar.

Karena itu pula, umat Islam di negeri ini harus benar-benar menyadari bahaya tersembunyi di balik berbagai masalah yang diciptakan oleh Negara-negara asing tersebut. Allah dengan tegas mengingatkan kita, agar tidak pernah memberikan jalan kepada kaum kafir penjajah untuk menguasai negeri dan wilayah kita, sehingga orang-orang Mukmin di negeri ini benar-benar dikuasai dan dijajah oleh mereka:

Sekali-kali Allah tidak akan pernah memberikan jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnakhkan orang-orang Mukmin. (QS an-Nisa’ [4]: 141).

Rasulullah saw. juga mengingatkan, bahwa tidak layak orang Mukmin dipatuk ular pada lubang yang sama, lebih dari sekali. Abu Hurairah ra. menuturkan bahwa Nabi saw. bersabda:

Tidak layak seorang Mukmin dipatuk oleh ular dari lubang yang sama dua kali. (HR al-Bukhari dan Muslim).

Kenyataannya, banyak sumberdaya alam yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh individu, swasta atau pihak asing. Sejak tahun 60-an Pemerintah Indonesia telah mengeluarkan UU Penanaman Modal Dalam Negeri (UU No. 6/1968). UU ini memberikan peluang kepada perusahaan swasta untuk menguasai 49 persen saham di sektor-sektor milik publik, termasuk BUMN. Tahun 90-an Pemerintah kemudian mengeluarkan PP No. 20/1994. Isinya antara lain ketentuan bahwa investor asing boleh menguasai modal di sektor-sektor milik publik, termasuk BUMN, hingga 95 persen. Kini, pada masa yang disebut dengan ‘Orde Reformasi’, privatisasi dan liberalisasi atas sektor-sektor milik publik semakin tak terkendali. Minyak dan gas, misalnya, yang seharusnya menjadi sumber utama pendapatan negara, 92%-nya sudah dikuasai oleh asing.

Karena itu, sudah waktunya kita meninggalkan AS dan sekutunya, termasuk para komprador yang senantiasa membebek kepada mereka. Sudah saatnya Islam dijadikan solusi terhadap segala permasalahan yang menimpa peradaban manusia. Jika kita masih mengekor kepada AS dan sekutunya, tunggulah kehancuran lebih besar menimpa kita semua. Bukankah Allah SWT telah memperingatkan:

Tidakkah kalian memperhatikan orang-orang yang telah menukar nikmat Allah dengan kekafiran dan menjatuhkan kaumnya ke lembah kebinasaan, yaitu Neraka Jahanam? Mereka masuk ke dalamnya dan itulah seburuk-buruk tempat kediaman. (QS Ibrahim [14]: 28-29).






Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox