Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Selasa, 23 Oktober 2018

Wahai Muslimah, Inilah Bendera Tauhid… Bendera yang jika Berkibar Membawa Kedamaian dan Kemuliaan


Endah Sulistiowati
(Dir. Muslimah Voice)

Kita berhak marah dan mengutuk keras atas insiden pembakaran bendera tauhid yang viral hari ini. Lebih dari itu, kita juga menolak upaya-upaya jahat untuk monsterisasi bendera Islam. Namun para ulama dan aktivis yang peduli umat perlu menangkal setiap pandangan curiga dan sinis dari penguasa sekular terhadap bendera Islam yang bertuliskan Lâ ilâha illalLâh Muhammad rasûlulLâh. Bendera yang dicontohkan sendiri oleh Rasulullah saw. ini pun kemudian sering dicap atau dihubungkan dengan terorisme atau radikalisme.

Inilah Bendera Islam
Di dalam bahasa Arab, bendera dinamai dengan liwa (jamaknya adalah alwiyah). Sedangkan panji-panji perang dinamakan dengan rayah. Disebut juga dengan al-‘alam.

Rayah adalah panji-panji yang diserahkan kepada pemimpin peperangan, dimana seluruh pasukan berperang di bawah naungannya. Sedangkan liwa adalah bendera yang menunjukan posisi pemimpin pasukan, dan ia akan dibawa mengikuti posisi pemimpin pasukan.

Liwa adalah al-‘alam (bendera) yang berukuran besar. Jadi, liwa adalah bendera Negara. Sedangkan rayah berbeda dengan al-‘alam. Rayah adalah bendera yang berukuran lebih kecil, yang diserahkan oleh khalifah atau wakilnya kepada pemimpin perang, serta komandan-komandan pasukan Islam lainnya. Rayah merupakan tanda yang menunjukan bahwa orang yang membawanya adalah pemimpin perang.

Liwa, (bendera negara) berwarna putih, sedangkan rayah (panji-panji perang) berwarna hitam. Banyak riwayat (hadist) warna liwa dan rayah, diantaranya :

 Rayahnya (panji peperangan) Rasul SAW berwarna hitam, sedang benderanya (liwa-nya) berwarna putih. (HR. Thabrani, Hakim, dan Ibnu Majah)
Meskipun terdapat juga hadist-hadist lain yang menggambarkan warna-warna lain untuk liwa (bendera) dan rayah (panji-panji perang), akan tetapi sebagian besar ahli hadits meriwayatkan warna liwa dengan warna putih, dan rayah dengan warna hitam.

Tidak terdapat keterangan (teks nash) yang menjelaskan ukuran bendera dan panji-panji Islam di masa Rasulullah SAW, tetapi terdapat keterangan tentang bentuknya, yaitu persegi empat.
Panji Rasulullah saw berwarna hitam, berbentuk segi empat dan terbuat dari kain wol. (HR. Tirmidzi)

Al-Kittani mengetengahkan sebuah hadist yang menyebutkan :

Rasulullah saw telah menyerahkan kepada Ali sebuah panji berwarna putih, yang ukurannya sehasta kali sehasta.

Pada liwa (bendera) dan rayah (panji-panji perang) terdapat tulisan Laa illaaha illa Allah, Muhammad Rasulullah. Pada liwa yang berwarna dasar putih, tulisan itu berwarna hitam. Sedangkan pada rayah yang berwarna dasar hitam, tulisannya berwarna putih. Hal ini dijelaskan oleh Al-Kittani, yang berkata bahwa hadist-hadist tersebut (yang menjelaskan tentang tulisan pada liwa dan rayah) terdapat di dalam Musnad Imam Ahmad dan Tirmidzi, melalui jalur Ibnu Abbas. Imam Thabrani meriwayatkannya melalui jalur Buraidah al-Aslami, sedangkan Ibnu ‘Adi melalui jalur Abu Hurairah. Begitu juga Hadist-hadist yang menunjukan adanya lafadz Laa illaaha illa Allah, Muhammad Rasulullah , pada bendera dan panji-panji perang, terdapat pada kitab Fathul Bari.

Berdasarkan paparan tersebut diatas, bendera Islam (liwa) di masa Rasulullah saw adalah berwarna putih, berbentuk segi empat dan di dalamnya terdapat tulisan Laa illaaha illa Allah, Muhammad Rasulullah dengan warna hitam. Dan panji-panji perang (rayah) di masa Rasulullah saw berwarna dasar hitam, berbentuk persegi empat, dengan tulisan di dalamnya Laa illaaha illa Allah, Muhammad Rasulullah berwarna putih.

Bendera yang Dijaga Dengan Segenap Darah Juang
Pada masa Khulafaur Rasyidin, al-Liwa‘ dan ar-Rayah mengikuti yang ada pada masa Rasulullah saw., yaitu al-Liwa‘ (bendera putih) dan ar-Rayah (bendera hitam) bertuliskan: Lâ ilâha illalLâh Muhammad rasûlulLâh. Pada masa Khalifah Abu Bakar, misalnya, sebanyak 11 (sebelas) al-Liwa‘ dibawa pasukan Islam dalam perang untuk memerangi orang-orang murtad di berbagai pelosok Jazirah Arab (Ibnul Atsir, Al-Kâmil fî at-Târîkh, II/358).

Pada masa Khilafah Bani Umayyah, ar-Rayah mereka warnanya hijau. Sebagaimana disebutkan Imam al-Qalqasyandi, “Syiar mereka adalah warna hijau.” (Ma’âtsir al-Inâfah fî Ma’âlim al-Khilâfah, II/805). Namun, sebagian sejarahwan seperti George Zaidan dalam bukunya, Târîkh at-Tamaddun al-Islâmi (I/88) menyebutkan warna ar-Rayah atau al-Liwa` masa Khilafah Umayah adalah hijau atau putih (Shalih bin Qurbah, Ar-Rayât wa al-A’lam fî at-Târîkh al-‘Askari al-Islâmi, hlm. 3).

Pada masa Khilafah Bani ‘Abbasiyah, al-Liwa’ dan ar-Rayah mereka berwarna hitam. Dengan demikian berakhirlah penggunaan warna hijau pada masa Khilafah Bani Umayah, sebagaimana dijelaskan oleh Imam Al-Qalqasyandi (Ma’âtsir al-Inâfah fî Ma’âlim al-Khilâfah, II/805).

Pada masa Khilafah Utsmaniyah, pada al-Liwa‘ atau ar-Rayah mereka terdapat gambar hilal (bulan sabit), meneruskan tradisi yang dirintis oleh rezim Fathimiyyin di Mesir. Sebagian orientalis mengklaim bahwa rezim Fathimiyyin mengambil gambar hilal tersebut dari tradisi Kerajaan Bizantium yang menggunakan gambar bulan sebagai simbol mereka (Amin al-Khauli, Al-Jundiyah wa as-Silm, hlm. 149).

Namun, ahli sejarah yang lain menolak klaim tersebut. Mereka mengatakan bahwa simbol hilal tersebut diambil karena berhubungan dengan sebagian ibadah umat Islam, yaitu shaum Ramadhan dan Idul Fitri, juga karena ada hubungannya dengan salah satu mukjizat Rasulullah saw., yaitu terbelahnya bulan. (Shalih bin Qurbah, Ar-Rayât wa al-A’lam fî at-Târîkh al-‘Askari al-Islâmi, hlm. 3).

Dalam perkembangan sejarah selanjutnya, al-Liwa’ dan ar-Rayah pada masa Khilafah Utsmaniyah itu akhirnya berpengaruh ke negeri-negeri Islam yang berada di bawah pengaruhnya, termasuk Nusantara. Maka dari itu, tidaklah aneh jika di tengah-tengah masyarakat Nusantara berkembang bendera yang melambangkan syiar Islam tersebut, yaitu bendera bertuliskan Lâ ilâha illalLâh Muhammad rasûlulLâhyang sering disertai simbol hilal (bulan sabit). Sebagai contoh, bendera pasukan Aceh saat berperang melawan Belanda, bentuknya mengikuti pola al-Liwa‘ atau ar-Rayah, yaitu bertuliskan: Lâ ilâha illalLâh Muhammad rasûlulLâh. Demikian pula bendera Kesultanan Cirebon yang tampaknya merupakan kombinasi al-Liwa‘ atau ar-Rayah. Bendera ormas Muhammadiyah menggunakan kalimat  syahadat Lâ ilâha illalLâh Muhammad rasûlulLâh (Deni Junaedi, Bendera Khilafah Representasi Budaya Visual dalam Budaya Global, hlm. 3).
Bangkitkan Optimisme!

Bendera Islam adalah bendera kita bersama. Jangan dianggap asing. Karena memang sudah saatnya umat muslim membiasakannya kembali. Maka, silahkan saja, siapapun Anda sangat boleh untuk memiliki bendera tersebut, memegangnya, mengangkatnya, mengibarkannya, dan tentu saja sepaket dengan memperjuangkannya.

Jangan pedulikan oknum orang dan media yang memberikan stigma negatif pada bendera tersebut. Seperti misalnya menyimpulkan bahwa itu merupakan bendera teroris, dan sebagainya. Namun sayangnya sebagian orang yang tak senang dengan Islam, malah menunggangi hal tersebut untuk membentuk opini bahwa semua orang Islam itu teroris, kemudian menonjolkan bahwa seolah barang bukti teroris adalah bendera itu. Sehingga, umat muslim sendiri bahkan juga yang non-muslim menjadi phobia dengan simbol-simbol Islam. Dimulai dari rasa takut akan simbol, akhirnya jadi takut dengan Islam secara keseluruhan.

Maka dari itu, adanya kampanye dan edukasi terkait al-Liwa dan ar-Rayah hari ini makin massif. Marilah kita lawan arus opini negatif terhadap simbol-simbol Islam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox