Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Selasa, 16 Oktober 2018

VOLTAIRE, LGBT, DAN AKAL MIRING



Oleh : Muhammad Alauddin Azzam (Pegiat Literasi)


"Teologi membuatku geli" (Voltaire)

Kegelisahan manusia di suatu masa membuat Voltaire menjadi pelopor dari sebuah kalimat yang menjadi lead tulisan ini. Semangat salah satu pelopor pencerahan Eropa ini dilatarbelakangi oleh ingatan akan kegilaan waktu itu. Sebuah kegilaan fanatisme dan intoleransi yang mengarahkan pada horror Perang Salib, Inquisisi, dan perang Reformasi. Gagasan Sang penyair dan penulis asal Francois Marie Arouet, Paris ini juga yang menjadi semangat perpisahan total (fashlul-taam) agama (dien) dari kehidupan (hayah) alias secularism.

Secularism telah mencerahkan Voltaire dan kawan-kawannya. Mereka menyebarkan pahamnya, menerapkan pahamnya di dalam politik, ekonomi, sosial, pendidikan, dan seluruh dimensi kehidupan. Kehidupan yang terlepas dari rantai agama (religion). Dampak dari semua keterlepasan ini adalah kebebasan atau freedom yang lahir ke dunia dan kehidupan. Munculah liberalisme yang menjadi tuhan baru.

Tuhan baru liberalisme kemudian menjadi booming. Penyebarannya sangat cepat disebabkan adanya negara dan ekspansi budaya dan politik dunia. Termasuk adanya indoktrinasi liberalisme melalui pendidikan via sekolah-sekolah, kampus-kampus, dan lembaga pendidikan lainnya. Dilegalkan melalui pemikiran dan undang-undang politik ala Locke, Rosseau, Hobbes, dan Montesquie. Dengan demikian, digdayalah sekularisme-liberalisme di dalam kehidupan kita.

Salah satu implikasi dari sekularisme-liberalisme yang telah diwarisi oleh Voltaire dan kawan-kawannya adalah merajalelanya kaum Nabi Luth alias Lesbian, Gay, Bisex, Transgender (LGBT). Soal sejarah, psikologi, sosiologi yang membahas tentang kaum LGBT sejatinya sudah sangat jelas. Dari sisi normatif, khususnya dari sisi agama, sikap kita juga jelas. Jelas sekali bahwa LGBT adalah perilaku diluar kenormalan seorang manusia. Dari sisi agama juga melihat bahwa LGBT adalah haram. Pelaku-pelakunya bisa dijatuhkan hukum tegas dan jera di dunia apalagi di akhirat.

Karena itu, persoalan LGBT yang sedang hangat ini, disikapi secara jelas dan tegas. Semoga, kasak kusuk komunitas LGBT di Bali bisa mulai meredam dan hilang dengan adanya penolakan dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang dengan tegasnya menolak acara LGBT di sana. Tinggal kita lihat bagaimana sikap tegas penguasa hari ini terhadap eksistensi kaum 'Ad dan Tsamud di zaman dulu.

Eksistensi LGBT juga tidak bisa diterima dengan akal sehat dan lurus kita. Kecuali, bila kita menggunakan prinsip warisan Voltaire dan kawan-kawannya. Akal kita bisa berubah untuk membolehkan LGBT sehingga kita menabrak fitrah manusia dalam naluri melestarikan keturunan bahkan agama. Batasan-batasan hidup kita bisa dilabrak dan ditentang oleh akal sekuler-liberal yang aneh ini. Maka, jadilah akal kita menjadi miring dan tidak mampu lagi membedakan mana yang fitrah dan ngawur bagi manusia.

Itulah akal miring. Dampak fatal dari sekuler-liberal yang merusak akal manusia. Mengikuti nafsunya semata. Merusak tatanan kehidupan dan generasi masa depan ummat manusia.

Apakah kita enggan keluar dari akal miring ini ?[]



15/10/18

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox