Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Sabtu, 06 Oktober 2018

THE VICIOUS CIRCLE OF POVERTY DAN GEBRAKAN BU SRI MULYANI



Oleh : Muhammad Alauddin Azzam (Pegiat Literasi)


The Vicious Circle of Poverty, Lingkaran Setan Kemiskinan intinya adalah serangkaian kuat yang saling mempengaruhi sehingga menimbulkan keadaan dimana suatu negara akan tetap miskin (poverty). Selanjutnya, negara tersebut juga terhambat pembangunan negaranya. Bicara soal circle, lingkaran satu ini memang tidak bisa diselesaikan dengan pertemuan seseorang di warung kopi 1 x 24 jam. Mengapa ? Karena circle ini sejatinya merupakan serangkaian problem mulai dari fundamental sampai cabang. Mulai dari epistimologis hingga ontologis.

Akan tetapi, ada yang menarik di tengah vicious ini. Apa itu ? Yakni gebrakan Bu Sri Mulyani (SM). Di tengah tangisan masyarakat Donggala, Palu, Sulteng, akibat dilanda gempa kemarin, Bu SM masih bersikukuh dengan menggebrak faktor-faktor eksternal. Seperti menggebrak faktor Italia sehingga rupiah melemah kembali terhadap dollar. Apa yang membuat Bu SM menjadi tidak memahami circle jenis ini ? Mungkin musti diterangkan lebih terang hingga bercahaya untuk mengorek vicious circle ini.

Vicious Circle of Poverty, Lingkaran Setan Kemiskinan sejatinya musti dikorek mulai dari fundamental ekonomi yang ada hari ini. Kita tidak bisa bermain-main lagi dengan fiat money. Bunga, riba juga sikap kita sejatinya jelas, tidak bimbang. Terhadap sektor non riil seperti jual beli saham juga jelas. Kepetingan politik (political interest) di tengah kondisi Presiden Amerika hari ini yang sedang cukup baper pun jelas. Konsep kepemilikan hari ini juga mustinya jelas.

Jadi, sebetulnya apa yang diinginkan Bu SM dengan kondisi rupiah hari ini ? Masalah ini sejatinya harus dikorek lebih mendasar dan menyeluruh (asasiyah wa syumuuliyyah). Bicara semua ini kita bicara fundamental ekonomi yang qur'aniy seharusnya. Epistimologi ekonomi kita yang berasal dari al-Qur'an. Muncullah ontologi yang Qur'ani. Aksiologi yang Qur'ani.

Bila diperlebar dan diperluas, pembahasan kita harus sampai pada qaidah (landasan) dan qiyadah (kepemimpinan). Qaidah apa kita hari ini sehingga melahirkan ekonomi amburadul begini ? Qiyadah seperti apa hari ini sehingga menghasilkan ekonomi sembrono begini ? Tak henti-hentinya seruan untuk menolak sekularisme dan neoliberalisme.

Mustinya, circle ini bisa dituntaskan bila seruan menolak sekularisme dan neoliberalisme ini dilaksakan. Namun, kita lihat dan tunggu, wait n' see. Apa sebetulnya yang diinginkan Bu SM dengan gebrakannya itu. Kita lihat akhir dari panggung pentas vicious circle of poverty dan gebrakan bu sri mulyani.

To be continue...



04/10/18

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox