Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Sabtu, 20 Oktober 2018

Siang Berganti Malam, Hingga Shubuh Tiba… dan Sesaat Lagi Matahari Bersinar Hangat dan Menyilaukan


Agung Wisnuwardana

Kita serasa di era kegelapan. Suram.
Kerakusan kapitalisme global telah dirasakan dampak kerusakannya oleh segenap umat dan bangsa, tak terkecuali negeri ini. Pasca Perang Dingin, negara-negara imperialis-kapitalis mengubah gaya penjajahan dengan menggunakan pendekatan utang, jebakan politik, hegemoni sistem dan tata nilai, serta imperialisme budaya dan pandangan hidup dengan mengontrol secara total interaksi sosial dan bernegara di negeri jajahan untuk mempertahankan penjajahannya.

Kapitalisme yang telah mencengkeram dan diterapkan di negeri ini telah memproduksi beragam bala dan kerusakan. Alih-alih penguasa mencampakkan kapitalisme dan segera menggantinya dengan ideologi Islam untuk menyelamatkan negeri, Islam justru sering dipersalahkan dan diminta pertanggungjawaban atas seluruh problem dan kerusakan yang ditimbulkan Kapitalisme.

Cengkeraman nyata kapitalisme-liberalisme dan bahaya laten sosialisme-komunisme tidak mungkin bisa diberantas tuntas kecuali dengan menerapkan ideologi Islam secara total dalam entitas negara.Sistem demokrasi yang telah menjadikan sekularisme sebagai akidah dasarnya menjadi penghalang bagi syariah islam untuk eksis mengatur kehidupan umat dalam bernegara.

Sekularisme telah memisahkan kehidupan kaum Muslim dari ketundukan dan ketaatan yang kâffah. Sekularisme telah memisahkan syariah Islam dari negara dan meminggirkan peranannya yang agung untuk mengatur seluruh aspek kehidupan manusia.Sekularisme telah menjadikan kaum kafir dan munafik menjadi penguasa dan menguasai umat Islam. Sekularisme menjadikan jalan dan jaminan bagi hukum-hukum kufur tetap eksis dan ditegakkan.

Negeri ini akan terus berputar dalam lingkaran setan masalah dan akan selalu gagal mengatasi masalah, selama kapitalisme, sistem yang menjadi biang penyebabnya lingkaran setan masalah ini tidak diganti dengan syariah Islam. Ketika dijajah Belanda, rakyat menderita. Datanglah Jepang, mengaku sebagai saudara tua dan akan memerdekakan Indonesia dari penjajahan Belanda. Muncullah semangat adanya perubahan di tengah masyarakat. Tetapi begitu Jepang menjajah, rakyat lebih menderita lagi.

Saat itu ada yang berfikir lebih enak dijajah Belanda daripada dijajah Jepang. Andai saja tidak ada umat yang berpikiran lain yakni  ingin merdeka, mereka tetap saja akan berputar dalam lingkaran penjajahan. Begitu juga yang harus dilakukan rakyat sekarang, ketika rezim Soekarno gagal, ganti rezim Soeharto, gagal pula. Maka reformasi memberikan harapan, tetapi rezim SBY gagal pula. Nah, saat ini sebagian rakyat ada juga yang berpikir lebih enak rezim Soeharto daripada rezim SBY. Dan seterusnya sampai era Jokowi sekarang. Jika hanya melakukan reformasi dengan mengganti rezim, maka negeri ini akan gagal terus . Tanpa pergantian sistem, maka negeri ini akan terus berkubang dalam lingkaran setan masalah. Maka umat harus punya pikiran lain, solusi yang komperehensif.

Untuk itu, seluruh rakyat Indonesia, termasuk para pejabat dan para wakil rakyat, hendaknya menyadari, bahwa negeri ini tidaklah akan bisa keluar dari krisis yang membelenggunya, dan tidak akan mampu membebaskan diri dari segala kelemahannya, kecuali jika di negeri ini diterapkan syariah Islam secara kaffah. Jika tidak, selamanya negeri ini akan terus didera kesulitan demi kesulitan serta tetap dikuasai oleh penguasa yang zalim.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox