Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Rabu, 10 Oktober 2018

Segera Tutup Pintu Siklus Destruktif Pinjaman dari Lembaga Kolonialis!


Lukman Noerochim, Ph.D
ForKei (Forum Kajian Kebijakan Energi)

Pertemuan IMF-World Bank 2018 mulai digelar sejak Selasa hingga Minggu ke depan, 9-14 Oktober 2018. Di dalamnya terdapat beberapa event, di antaranya adalah Investment Forum, berisi mengenai berbagai penandatangan kesepakatan investasi telah masuk ke dalam proyek-proyek Badan Usaha Milik Negara atau BUMN. Dikabarkan kesepakatan-kesepakatan itu diumumkan dalam Forum Investasi Indonesia di Hotel Conrad Nusa Dua, Bali, Selasa, 9 Oktober 2018. Adapun Bank Mandri telah ditunjuk untuk menjadi koordinator investasi langsung senilai Rp 200 triliun di 21 proyek BUMN.

Catatan

1. IMF dan World Bank telah berkontribusi mempengaruhi kebijakan ekonomi berbagai Negara. Ada banyak penguasa telah menegaskan bahwa tidak ada perubahan dalam kebijakan ekonomi dan tidak memutus hubungan dfengan kedua lembaga keuangan tersebut. Sehingga dipastikan tidak ada perubahan karena ekonomi saat ini di berbagai Negara yang bergantung pada keduanya, semua diatur menurut Kapitalisme dan bukan Islam.

2. Kapitalisme memastikan kepemilikan pribadi dari sumber-sumber pendapatan besar, merampas harta negara, dan kemudian memerintahkan rakyat untuk menunaikan pajak, terlepas dari kemiskinan dan kesulitan mereka. Perpajakan yang tidak pandang bulu menyulitkan berbagai kegiatan ekonomi, termasuk di bidang produksi pertanian dan industri, serta meningkatkan biaya kebutuhan dasar. Bahkan perpajakan dikabarkan tidak cukup untuk menutupi kekurangan dan karenanya para penguasa kemudian mencari pinjaman dari lembaga keuangan kolonialis yang tidak pernah dapat dibayar kembali karena system riba/bunga yang mencekik.

3. Memang, Indonesia telah mengangsur prinsip-prinsip pinjaman ribawi dengan bunga yang besar, namun sekarang meminjam untuk melunasi utang sebelumnya. Dan pinjaman kolonialis datang dengan pisau riba, investasi, privatisasi dan perpajakan, yang mengulang siklus kehancuran.

4. Tidak akan ada pengentasan kemiskinan, pemutusan lingkaran utang luar negeri atau peningkatan ekonomi selama kita hidup tanpa sistem ekonomi Islam. Ini adalah Dien kita yang memiliki sudut pandang ekonomi unik yang memastikan pendapatan maksimum bagi negara tanpa membebani rakyat.

Islam secara unik membagi properti menjadi milik pribadi, negara dan publik. Sumber daya energi dan mineral seperti minyak, gas, listrik, tembaga dan besi dianggap milik umum dan mewakili kekayaan dengan urutan miliaran dolar. Kepemilikan publik tidak dapat diprivatisasi atau dinasionalisasi. Jadi, pendapatannya yang sangat besar harus dikeluarkan untuk urusan rakyat, di bawah pengawasan ketat negara.

6. Jadi, dalam system ekonomi Islam secara alami akan memainkan peran dominan di sektor-sektor padat modal dalam ekonomi, seperti transportasi skala besar, telekomunikasi, dan konstruksi. Negara harus memberikan pendapatan besar untuk menjaga urusan warganya. Selain itu, Islam memiliki sistem pendapatannya yang unik, termasuk zakat untuk perdagangan barang dagangan dan Kharaj di lahan pertanian, sementara perpajakan darurat hanya diperbolehkan bagi masyarakat terkaya.

7. Yang terpenting, Islam telah melarang dominasi kolonialis Kuffar atas urusan kita, menutup pintu ke siklus destruktif pinjaman dari lembaga kolonialis.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox