Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Jumat, 19 Oktober 2018

SEBERAPA GREGET MAHASISWA GETARKAN REZIM MUFLIS (BANGKRUT)? INI JAWABANNYA!


oleh: Adam Syailindra
(Forum Aspirasi Rakyat)

RADIKAL MILENIAL (ramah, terdidik dan berakal) bisa disematkan para aktivis mahasiswa kekinian. Mereka para mahasiswa milenial adalah saudara, kawan, keluarga dan anak bangsa kita, Indonesia! Berbagai aksi yang dihelat oleh kawan mahasiswa yang santun, berani dan solutif seolah diframing seperti laku teroris. Saat ini mereka pun masih merasakan sakit, lebam dan berdarah-darah dalam menyuarakan aspirasi rakyat.

Nampaknya rezim Jokowi saat ini seperti alergi mendapatkan kritik dari generasi milenial. Tengoklah mereka, bukankah mahasiswa nantinya menjadi calon pemimpin negeri ini 20-30 tahun mendatang. Jika toh dalam laku aksinya mereka ada salah, maafkanlah, arahkanlah, rangkul bukan tangkap dan pukul!

Masihkah Anda ingat, bagaimana Jokowi dalam catatan digital dan rekaman video kangen di demo mahasiswa? Jika Anda masih ingat, syukur. Klo ga ingat ya coba searching aja di internet. “Tolong saya di demo, pasti saya suruh masuk. Saya ajak bicara sambil makan, ternyata mereka banyak yang tak siap konsep” (tempo). Pernyataannya disampaikan dihadapan 200 peserta Indonesian Young Changemakers Summit (IYCS) di Bandung 11 Februari 2012. Nah lantas jika mahasiswa mengingatkan pemerintah dengan cara aksi saat ini, mengapa kawan mahasiswa diperlakukan seperti musuh? Bahkan aparat bertindak sangat buruk kepada mahasiswa. Bukankah aparat juga manusia, memiliki keluarga dan anak usia sebaya mahasiswa yang kuliah menuntut ilmu dan juga bela bangsa.

Kini memang kita hidup di era demokrasi, rakyat benar-benar merasakan ruwet dan susah. Susah mendapatkan layanan kesehatan yang layak, jaminan lapangan kerja tak jelas, pendidikan-sosial sekuleristik, politik oportunistik, belum lagi BBM-listrik-sembako yang merangkak naik hingga emak-emak turun aksi dijalanan protes kepada pemimpin negeri ini, tanah masih sewa air masih beli. Ketika sumbatan aspirasi ini buntu, maka ada aksi dari elemen mahasiswa untuk menyuarakan aspirasi rakyat. Aksi mahasiswa oleh HMI pada 19 September 2018 menyampaikan aspirasi terkait pelanggaran HAM dan  konflik agraria, eh malah mereka digebukin dan ditendang oleh aparat, hingga mengalir darah mereka. Ada juga aksi mahasiswa oleh GEMA Pembebasan pada 18 Oktober 2018 menyampaikan aspirasi terkait kenaikan BBM, eh malah ada yang dicekik, dipukul, ditendang oleh aparat juga. Apakah dengan menyuarakan Islam kemudian aparat bertindak buruk dan represif?

Saudara-saudara sekalian para pencela, penuduh, koruptor, pembunuh dan pemukul. Mari kita jernih menyimak sinyal keras dari Sang Nabi:

“Tahukah kalian siapakah orang yang bangkrut (muflis) itu? Mereka (sahabat) menjawab “Orang yang bangkrut di kalangan kami adalah orang yang tidak memiliki dirham dan tidak pula memiliki harta/barang”. Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa pahala sholat, puasa dan zakat. Namun ia juga datang dengan membawa dosa kezaliman. Ia pernah mencela si ini, menuduh tanpa bukti terhadap si itu, memakan harta si anu, menumpahkan darah orang ini dan memukul orang itu. Maka sebagai tebusan atas kezalimannya tersebut, diberikanlah diantara kebaikannya kepada si ini, si itu, si anu. Hingga apabila kebaikannya telah habis dibagi-bagikan kepada orang-orang yang dizoliminya tertebus, diambillah kejelekan/kesalahan yang dimiliki oleh orang yang dizoliminya lalu ditimpakan kepadanya, kemudian ia dicampakkan ke dalam neraka” (HR Muslim)

Inilah jawabannya, betapa greget dan kerennya para mahasiswa didepan penguasa. Merekalah para lelaki yang dengan gagah berani, solutif dan tulus menyuarakan kebenaran ditengah arus kejam kehidupan sistem kapitalisme demokrasi. Bisa jadi perjuangan untuk aksi kini dan esok makin melipat gandakan keberanian bahkan pembuka pintu cucuran keringat, darah dan tetes air mata. Ayolah pak, sungguh ada do’a baik dari mereka kawan mahasiswa untuk bapak, namun ada juga do’a peringatan yang diselipkan untuk bapak. Maaf, kalau terus seperti ini caranya Anda perlakukan aktivis dan mahasiswa. Kami sedih, kami gak kuat milih bapak, berat dunia & akhirat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox