Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Rabu, 03 Oktober 2018

PESAN TAUHID DALAM PERSATUAN UMAT ISLAM



Oleh Ibnu Rusdi (Pemerhati Politik dan Pergerakan)

Dua gelaran kolosal menghijaukan dua kota secara  bersamaan. Pada Ahad (30/09), ribuan umat Islam melakukan Pawai Tauhid di Purwakarta dan Bandung. Spirit yang sama dijunjung tinggi-tinggi. Menyatukan elemen-elemen yang sebelumnya mulai terlihat ikatan ruhiyahnya. Mengokohkan kebersamaan setelah sebelumnya sama-sama menumbuhkan kesadaran menghormati keragaman. Bahwa berbeda itu tidak boleh melebarkan jarak. Seharusnya justru mendekatnya, sehingga kekuatan dan keindahannya dapat dirasakan bersama.

Pawai Tauhid digelar melengkapi berbagai even aktualisasi ukhuwah Islamiyah. Sebagai sebuah ekspresi dalam skupnya yang besar, pawai memiliki pengaruh politis pada dua sisi. Kepada internal kaum Muslimin di banyak Ormas, kelompok dan harakah. Juga menyasar pihak eksternal secara signifikan.

Dalam internal kaum Muslimin memang sedang terdapat friksi. Kesadaran yang tumbuh menggerakkan kelompok-kelompok perjuangan Islam, sedari awal gayeng mengambil jalur syiar. Di seberang, kaum Muslimin dalam jumlah besarnya, memosisikan diri sebagai benteng pertahanan. Pilihan formulasi dan bentuk negara merupakan hasil akhir, dan wajib hukumnya mempertahankan 'kesepakatan'. Oleh karenanya, terhadap orientasi Islam yang didakwahkan kelompok pertama, perlu dibendung dini.

Terlepas dari fakta polarisasi di internal kaum Muslimin memang ekses lazim dari adanya pergerakan baru, komposisi dua kubu ini memang dinamis. Persentasenya dari hari ke hari berjalan relatif konstan. Indikasi keberpihakan publik semakin membesar kepada isu-isu Islam. Upaya membendung semakin kuatnya sinyal bertumbuhnya opini Islam ideologis, kubu "kebangsaan" merumuskan varian strategi. Dari serangan kitabiah, penghancuran konsep pemikiran hingga penyematan stigma radikalisme. Dalam keberlangsungannya semakin ke ujung, pergolakan politik terus-menerus menaikkan posisi tawar gerakan formalisasi Islam untuk konstitusi.

Pada pihak eksternal pun terbangun suasana yang serupa. Mencermati bagian per bagian tahapan perjuangan Islam politik, nonMuslim memiliki dua kondisi estimatif. Sebagian menjadi semakin percaya bahwa membesarnya gaung Islam bukan persoalan. Manajerial aksi dan perilaku kolektif pergerakan Islam adalah pembuktian dari sebuah ajaran. Dari berbagai even dakwah publik, umat Islam telah menunjukkan profil kaum mayoritas yang begitu toleran.

Di komunitas yang lainnya, antipati kian menguat. Terurama kelompok kedua ini terdiri dari mereka yang dibebani misi agama. Galibnya para pekerja spiritual, mereka juga memiliki kepentingan menghimpun orang-orang lain ke dalam keyakinannya. Ketika ruang leberalisasi berhasil diacak lalu dibongkar seluruh muslihatnya, maka persuasi di tengah masyarakat Muslim mengalami hambatan berat. Fenomena ukhuwah islamiyah yang terekplorasi optimal semakin mendekatkan kerja mereka pada jalan buntu.

Pesan persatuan kaum Muslimin pada akhirnya mengerucutkan jurus-jurus penghadangan pada satu kelompok besar. Mereka tidak bisa dipilah berdasarkan agama, status sosial, etnis, Ormas, partai politik ataupun tendensi psikologis. Visi mereka adalah masyarakat beradab dengan pilar-pilar hak asasi. Dalam konteks seperti inilah kejawantah Muslim bersatu dalam Pawai Tauhid menimbulkan kegaduhan ruang konstruksi mereka.

Termasuk di antaranya diam-diam mengimbaskan sensitivitas duapertiga hati menjelang perhelatan politik. Publik telah ditarik sedemikian kuat hingga perhatiannya tersita pada opini perubahan Islam. Kalaupun satu pihak dari konstituen unggul dalam pemilihan nanti, prestasi tersebut tidak bebas masalah. Sejak sedari awal kekuasaan dalam genggaman, tidak cukup menumbuhkan keyakinan bahwa rezim pemenang akan lebih diharapkan rakyat daripada terwujudnya pergantian sistem pengaturannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox