Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Rabu, 10 Oktober 2018

Pertemuan Besar Minus Solusi



(Sorotan Annual Meeting International Monetary Fund (IMF) - World Bank Group 2018)

Fajar Kurniawan (Analis Senior PKAD)

Gelaran Annual Meeting International Monetary Fund (IMF) - World Bank Group 2018 di Nusa Dua, Bali menyedot perhatian. Pemerintah Indonesia diperkirakan akan menyuarakan empat isu utama dalam Pertemuan tersebut, diantaranya penguatan koordinasi harmonisasi kebijakan antar negara untuk bersama memulihkan ekonomi global dan mengatasi ketidakpastian global, termasuk menyuarakan ekonomi dan keuangan syariah. sebagaimana yang disampaikan Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo.

Catatan

“Kapitalisme secara konstan mengikis makhluk dan warga negara laki-laki dan perempuan dan, bahkan ketika kapitalisme menguras energi hidup mereka sebagai pekerja, kapitalisme membentuk kesadaran mereka untuk menjalankan peran sebagai konsumen. Kapitalisme mempunyai banyak “hukum gerak”, tetapi salah satu hukumnya yang paling merusakkan lingkungan adalah Hukum Say, yang berbunyi : bahwa penawaran menciptakan permintaannya sendiri. Kapitalisme merupakan mesin pencetak permintaan yang mengubah watak kehidupan menjadi komoditas mati, kekayaan alam menjadi modal mati.” [Walden Bello, Mc Planet Conference, Berlin, 27 – 29 Juni 2003.].
Sorotan pertama adalah jerat keuangan lembaga-lembaga keuangan dunia. Amerika menggunakan lembaga-lembaga keuangannya, termasuk pada IMF dan Bank Dunia (WB), dalam mendukung pemerintah di berbagai negara dengan dana yang diperlukan untuk menopang rezim dan memastikan bahwa ia mengontrol dan mendikte kebijakannya di banyak negara. Oleh karena itu, peran utama IMF dan Bank Dunia adalah terlibat dalam hegemoni kebijakan keuangan negara agar lebih bercorak liberalistik, tunduk pada AS.

Kedua, bicara pemulihan ekonomi global, maka harus bicara segala upaya untuk mengentaskan seluruh dunia dari jerat system kapitalisme liberal. Kita perlu ingat, dua puluh tahun lalu. Krisis ekonomi yang dipicu oleh krisis keuangan (moneter) di kawasan Asia yang dikenal “macan” Asia Timur, memperlihatkan bahwa salah satu prinsip kunci globalisasi – liberalisasi modal untuk meningkatkan arus modal yang lebih bebas, terutama modal uang atau modal spekulatif – dapat menggoncang ekonomi dengan hebat. Bagaimana liberalisasi pasar modal dapat bergoncang dengan hebatnya diperlihatkan ketika, hanya dalam waktu satu minggu, satu juta orang di Thailand dan 21 juta orang di Indonesia terperosok di bawah garis kemiskinan.
Dan hari ini tanda-tanda sirnanya krisis ekonomi belum juga terlihat jelas. Bahkan sebaliknya. Harga-harga pokok semakin hari semakin naik. Beras, BBM, minyak goreng, bensin, susu, dan lainnya kian melambung. Akibatnya kenaikan berbagai harga berpengaruh pada sarana kehidupan lain. Biaya kesehatan yang mahal, apalagi pendidikan, belum lagi pajak yang semakin mencekik leher pengusaha—khususnya pengusaha kecil-menengah yang rata-rata mereka berusaha dari nol tanpa bantuan pemerintah sama sekali.

Sementara ancaman krisis tergambar dari adanya indikator terjadinya financial bubble dan rapuhnya struktur ekonomi Indonesia. Meski hal ini di bantah oleh pemerintah, akan tetapi Financial bubble diakibatkan oleh peningkatan aliran modal jangka pendek (hot money) yang luar biasa ke kawasan Asia Timur. Hal ini akan berdampak pada menguatnya mata uang dalam negeri yang mempengaruhi kinerja ekspor dan mendorong membanjirnya impor. Secara makro, struktur ekonomi kita seolah-olah kelihatan baik dengan indikasi inflasi yang rendah, suku bunga yang terus turun, indeks harga pasar saham yang meningkat dan cadangan devisa yang meningkat. Tetapi sayangnya hal itu tidak diikuti oleh perkembangan dinamis di sektor riil, akibatnya terjadi kesenjangan yang semakin lebar antara kinerja sektor keuangan dan sektor riil.

Begitulah, sistem kapitalis mengandung benih-benih krisis ekonomi yang tersimpan di akar terdalamnya. Sistem kapitalis tidak bisa melepaskan diri dari krisis selama masih berdiri. Artinya, krisis menjadi perkara yang biasa dan terus berulang. Hanya saja yang membuat krisis pada tahun-tahun terakhir ini berbeda dari siklus krisis-krisis biasa yang muncul dari sistem kapitalis, yaitu bahwa pengaruh globalisasi dan persaingan ekonomi lokal satu sama lain membentuk perekonomian global dan membentuk pasar yang tumbuh darinya sebagai satu pasar yang besar.

Solusi paling mendesak adalah memutuskan hubungan dengan lembaga-lembaga Barat ini, seperti IMF dan WB, yang memperjuangkan kebijakan ideologi kapitalis sekuler beracun yang disamarkan sebagai makanan pokok. Sebagai gantinya, ambil solusi syariah.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox