Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Rabu, 24 Oktober 2018

Pembakaran Bendera Tauhid, Peluang Menyemarakkan Istilah “Jihad”



Oleh: Nindira Aryudhani
(Relawan Opini dan Media)

Viralnya video pembakaran bendera tauhid di Garut beberapa hari lalu, menuai beragam protes umat Islam. Bagaimana tidak, aksi pembakaran yang dilakukan sungguh tidak proporsional. Bahkan cenderung emosional dan berpotensi menodai agama.

Meski pihak pemerintah dan ormas Islam terkait telah mencoba mencairkan opini, bahwa aksi pembakaran tersebut tidak mungkin dilakukan dengan format kebencian dan justru dalam rangka menyelamatkan lafadz tauhid, namun publik Muslim sudah terlanjur terluka. Kecaman tak hanya berasal dari dalam negeri, tapi juga dari luar negeri. Di antaranya dari para pemuda di tanah Syam. Para pemuda Syam itu paham, bahwa perjuangan untuk mempertahankan tanah dan hak hidup mereka sebagai kaum Muslim, termotivasi penuh dengan tauhid yang terlafadzkan pada bendera yang sama. Ma syaa Allah.

Namun lebih dari semua itu, patutlah kiranya kita renungkan firman Allah SWT dalam QS Al-Baqarah [2] ayat 216:

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَّكُمْ وَعَسَىٰ أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ وَعَسَىٰ أَن تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

"Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui."

Sepintas, peristiwa ini begitu melukai umat Islam. Tapi berdasarkan ayat tersebut, maka hendaklah kita segera bangkit dan meyakini bahwa Allah SWT pasti menyimpan kebaikan di balik suatu peristiwa buruk. Karena Allah SWT pasti selalu punya cara untuk menyampaikan urusan-Nya. Cara yang tak terduga, yang tak terbaca oleh manusia. Kendati di satu sisi, para manusia durjana akan senantiasa berusaha menghalanginya. Ini tercermin pula dalam firman Allah SWT dalam QS Ath-Thalaq [65] ayat 3:

إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا

"...Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu."

Kita tentu ingat ketika istilah-istilah seperti jihad, mujahid, mati syahid, syuhada', dsb, di-framing negatif agar seolah-olah lekat dengan dunia terorisme. Padahal itu semua adalah istilah-istilah syar'iy yang berasal dari syariat Islam. Istilah-istilah itu pula yang sejatinya sangat lekat dengan keberadaan bendera tauhid tadi.

Terlalu heroik untuk diabaikan, ketika Mush'ab bin 'Umair ra syahid di medan jihad Perang Uhud, dalam rangka mempertahankan bendera tauhid. Tak kalah keterlaluan pula ketika kita menyepelekan pengorbanan Ja'far bin Abi Thalib ra, juga dalam rangka mempertahankan bendera tauhid di Perang Mu'tah, hingga kehilangan kedua lengannya. Pengorbanan yang kemudian diganjar oleh Allah SWT dengan sepasang sayap di surga.

Mush'ab ra dan Ja'far ra hanyalah segelintir dari para mujahid Islam yang pernah diberi amanah memimpin pasukan jihad melawan musuh. Keberadaan bendera tauhid di setiap masa tak pernah jauh dari aktivitas jihad atau mati syahid. Sungguh jihad adalah dzarwatu sanam (الجهاد هو ذروة سنام الاسلام), atau puncak keagungan Islam. Justru adanya insiden pembakaran bendera tauhid ini, maka menjadi urusan yang luar biasa besar untuk makin gencar memperkenalkan bendera tauhid, panji Rasulullah ﷺ, serta istilah-istilah jihad, mujahid, mati syahid, syuhada', dsb, demi semakin memahamkan umat. Bahwa insiden tersebut bukan sekedar perbuatan tak sengaja, melainkan benar-benar bentuk penghinaan terhadap Islam.

Dari sinilah logika dapat berjalan, akal dapat bermain. Bagi para pengemban bendera tauhid, tentu baginya kemuliaan. Sebaliknya bagi para pembenci, bahkan perusak/pembakarnya, niscaya baginya kehinaan. Na'udzu billaahi min dzaalik.

والله أعلم بالصواب

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox