Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Jumat, 05 Oktober 2018

Menunggu Keadilan dan Penyelesaian Problem Separatisme di Papua


Lukman Noerochim
(Analis FORKEI)

Dikutip dari republika,co.id (2/10/18) Baku tembak antara pasukan TNI dengan kelompok kriminal separatis bersenjata (KKSB) kembali terjadi. Kali ini terjadi di Markas KKSB di Kampung Gubulem, Distrik Tingginambut Kabupaten Puncakjaya, Papua. Markas ini merupakan markas pentolan KKSB Goiliat Tabuni (GT) yang sebelumnya telah berhasil direbut oleh TNI.
"Semalam kelompok KKSB terus melancarkan gangguan tembakan kearah kedudukan pasukan TNI. Kadang-kadang terdengar tembakan dua-tiga kali lalu menghilang beberapa jam kemudian terdengar lagi dari jarak yang cukup dekat," ujar Kapendam XVII/Cenderawasih Kolonel Inf Muhammad Aidi melalui keterangan tertulisnya, Selasa (2/10).

Komentar
Indonesia menghadapi ancaman separatisme atau pemisahan wilayah. Ancaman itu bersifat laten. Tidak pernah habis. Selalu timbul. Dari wilayah-wilayah atau propinsi di Indonesia. Mereka yang merasa diperlakukan tidak adil, kemudian ingin memilih jalan berpisah dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Terdapat tiga wilayah atau propinsi yang  pernah dipublish terdapat gerakan separatis yang berjuang memisahkan dari NKRI. Aceh, Maluku dan Irian Barat (Papua).

 Ketiga wilayah ini memiliki kekayaan alam luar biasa melimpah. Seperti tidak pernah habis. Ketiga wilayah ini memiliki latar belakang sejarah berbeda. Aceh, Maluku  dan Papua memiliki karakter berbeda. Papua memiliki sumber kekayaan alam luar biasa, seperti tambang emas di Freeport. Di mana di daerah itu, terdapat pula uranium, dan pemerintah Indonesia tidak pernah melakukan audit dari hasil tambang itu. Karena bahan-bahan mineral itu  langsung  dimasukkan kedalam kapal.

Freeport sudah menjadi “milik”  asing. Bukan lagi milik Republik Indonesia
Karena selalu diperpanjang kontraknya. Tetapi, kekayaan alam  itu, tak pernah membawa berkah bagi rakyat Papua. Mereka tetap miskin. Sehingga, berlangsung ketidak adilan.
Gerakan separatis "Organisasi Papua Merdeka" (OPM), bahkan dikabarkan sudah membentuk susunan kabinet, dan dengan menteri-menterinya. Gerakan OPM mendorong terjadinya kekerasan  di Papua, dan kemudian menjadikan kasus-kasus kekerasan itu sebagai isu HAM. Ini sudah merupakan modus yang bakal menyeret campur tangan dunia internsional. Seperti lembaga multilareral PBB.

Sesudah “Reformasi” wilayah Papua mendapatkan otonomi khusus, dan mendapatkan alokasi dana dari pusat  sebesar Rp 28 triliun. Tetati, tidak menetes kepada rakyat, dan yang menikmati hanyalah  para pejabat daerah. Ini ironi yang sangat mendalam di Papua. Kehidupan rakyatnya tidak berubah.

Namun yang kita cermati, sikap media cukup aneh ketika memberitakan peristiwa separatism dan terorisme di Papua ini. Sikap yang sangat berbeda ketika media menurunkan berita tentang terorisme. Tanpa menyebut ada kemungkinan yang lain, media langsung main tuduh dan menelan mentah-mentah apapun informasi yang diberikan secara stereotip.

Bahkan media elektronik seperti televisi maupun berbagai koran, dengan inisiatif yang tinggi melakukan “investigasi” mengenai latar belakang para aktivis Islam yang ditangkap maupun ditembak mati oleh polisi, dengan hasil yang sungguh “mengagumkan”. Seringkali laboran yang dibuat oleh media sekuler tersebut menceritakan bahwa orang-orang yang dituduh terlibat dalam terorisme ini adalah orang-orang yang tertutup, tidak disenangi para tetangga dan memiliki “pikiran yang aneh” bagi masyarakat awam. Media massa sama sekali tidak tertarik untuk melakukan investigasi terhadap keanehan-keanehan dalam issu terorisme ini.
Islam tidak menghendaki disintegrasi. Bahkan jika syariat Islam diwujudkan secara formalitas, Islam akan menyatukan umat Islam sedunia. Namun ironisnya, gerakan-gerakan yang menginginkan Papua lepas dari Indonesia, meski jelas-jelas gerakan separatis, namun tidak dianggap teroris oleh Pemerintah dan Media manakala melakukan tindak kekerasan. Pasti beda kasusnya bila ada oknum umat Islam yang melakukan kekerasan. Pasti di anggap teroris, radikal, dan semisalnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox