Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Sabtu, 20 Oktober 2018

Masyarakat Membutuhkan Media yang Jernih, Mampu Berani Keluar dari Arus Pemberitaan Media Pragmatis


Kurniawan - AJMI

Kebanggaan kapitalisme adalah pada kemampuan medianya dan kebebasan semu yang ditawarkan. Jika kita kaitkan dengan bahasan politik media maka, konten pemberitaan sebuah media sangat dipengaruhi oleh ideologi yang diusung media dan pemilik media bersangkutan. Jika media tersebut berhaluan kapitalisme maka pemberitaannya pasti cenderung melakukan pembenaran terhadap agenda-agenda kapitalisme, tentu hal tersebut dikemas sangat halus, atau media yang berhaluan pada paham tertentu, pasti pula pemberitaannya lebih banyak melakukan klaim pembenaran terhadap paham tersebut.

Adapun jika ideologi penguasa telah dikuasai oleh kekuatan neokolonialis, maka arah atau haluan h tidak lagi ditentukan oleh wakil rakyat atau yang digariskan oleh konstitusi, tapi ditentukan oleh opini publik yang dibentuk melalui operasi mindset yang menggunakan berbagai perangkat perang seperti sistem ekonomi-politik liberalisme dan teknologi informasi.

Rekayasa Mindset
Setiap saat rakyat kita dapat direkayasa dan dibentuk mindsetnya untuk menerima bentuk baru dari penjajahan asing dengan gembira dan gegap gempita. Setiap waktu rakyat kita dapat dibenturkan satu dengan yang lain dalam menyikapi sebuah perubahan lingkungan yang menabrak pranata bernegara yang diatur melalui berbagai perangkat peraturan dan perundang-undangan.

Dari sisi pemilik media, pemberitaan dalam sebuah media pasti tidak berani mengekspos secara terbuka pelanggaran yang dilakukan oleh pemilik media, bahkan berusaha menutupinya, sangat sering pula media menjadi penyambung lidah kepentingan dari pemiliknya.

Setiap media bisa mewacanakan sebuah peristiwa politik sesuai pandangannya masing-masing.  Kebijakan redaksional yang dimilikinya menentukan penampilan isi peristiwa politik yang diberitakan.  Justeru karena kemampuan inilah media banyak diincar oleh pihak-pihak yang ingin menggunakannya dan sebaliknya dijauhi oleh pihak yang tidak menyukainya.

Dalam situasi seperti ini, sebenarnya masyarakat membutuhkan media yang jernih, mampu berani keluar dari arus pemberitaan media mainstream, hal tersebut telah coba dilakukan oleh beberapa kelompok, namun sayangnya media independen juga sering terjebak pada konflik kepentingan, apakah kepentingan politik dalam sebuah Negara, atau konflik kepentingan dalam area yang sangat kecil.

Rating, Uang dan Uang
Dalam situasi ini, independensi sering tergadai, secara sadar atau tak sadar media bersangkutan berpihak kepada salah satu kelompok kepentingan.  Akibatnya ia pun terklaim sebagai pembawa suara kelompok kepentingan tertentu, boleh jadi kelompok kepentingan tersebut belum tentu benar adanya, bahkan berpotensi terbukti keliru di kemudian hari, seharusnya awak media independen membatasi diri pada semua kelompok kepentingan, tidak terlalu jauh bergumul intim dengan kelompok tersebut, hal ini penting demi menjamin netralitas, sebab sekali kehilangan kepercayaan sebagai media independen maka terlalu sulit membangkitkan kembali kepercayaan itu, atau bahkan mustahil.

Perlu kita sorot media berbasis rating. Keberadaan rating ini dipakai sebagai rujukan atau pedoman, bukan kualitas akan program yang ditayangkan, sehingga pihak pengelola hanya akan menilik keberadaan program berdasarkan jumlah viewers semata dan mengesampingkan nilai-nila edukatif dan informatif itu sendiri Dengan adanya rating ini misal suatu program mendapat rating yang tinggi, maka akan memicu bagi stasiun televisi lainnya untuk membuat program serupa dengan harapan yang sama. Sementara, tidak selalu formulasi dan komposisi sebuah acara yang sama persis bisa mendapatkan angka rating yang sama persis pula. Baru setelah semuanya pasti, yakni setelah angka capaian rating didapatkan. Pemasang iklan baru akan datang. (Wirodono, 2006: 94).

Media-media kapitalis dan pragmatis tentu merugikan publik. Kapitalisme membawa abad kegelapan. dalam bukunya, A New Democrazy: Alernatives to a Bankrupt World Order, Hurry Shutt, menulis bab berjudul “Capitalist Crisis and Threat to US Hegemony” . Shutt mengungkap berbagai krisis yang kini menimpa dunia pasca Perang Dingin berakhir. Krisis ekonomi, runtuhnya kekuasaan sipil di berbagai negara, meningkatnya angka pengangguran, dan kemiskinan, telah menjungkirkan optimisme yang sempat merebak beberapa tahun pada awal dekade 1990-an. Kapitalisme global ini mempromosikan nilai-nilai individualisme, materialisme, konsumerisme, dan hedonisme. Sistem yang dikembangkan idiologi Kapitalisme mengakibatkan ketidakadilan (kezaliman), kemiskinan, ketimpangan, kesenjangan menjadi bagian yang tak terpisahkan.

Opini Umum
Ya, opini umum biasa digunakan untuk menyebut sesuatu yang menjadi pembicaraan khalayak atau sesuatu yang diinginkan dalam kehidupan mereka. Secara alami opini umum akan senantiasa muncul dan bisa terlihat dalam setiap aspek dan aktivitas manusia. Opini umum, jika sudah masuk ke dalam ranah politik, akan menjadi alat propaganda yang sangat penting untuk merealisasi berbagai tujuan yang diinginkan. Inilah yang menjadikan perang opini sebagai suatu keniscayaan. Siapa yang mampu menguasai serta mengendalikan opini, dia telah memenangkan separuh peperangan.

Pada saat ini secara umum ada tiga kepentingan besar yang berebut pengaruh opini untuk merealisasi berbagai tujuan yang mereka inginkan, yaitu: kepentingan Kapitalisme, kepentingan Sosialisme dan kepentingan Islam. Misal, Kapitalisme sebagai idiologi yang berkuasa saat ini tentu ingin mempengaruhi publik dalam rangka mempertahankan stabilitas, mengatasi kegelisahan publik, menguji kebijakan atau untuk menangani isu-isu kontroversial. Dia tidak henti-hentinya memanipulasi opini publik domestik maupun internasional agar menentang Islam dengan kemasan terorisme.

Mereka berusaha meyakinkan umat, bahwa politik dan agama tidak bisa disatukan, bahwa politik berkaitan dengan realitas kekinian, bahwa tidak ada kemungkinan untuk mengubah situasi yang ada sekarang selain mengikuti arus global yang direkayasa oleh negara-negara kapitalis Barat. Demikian juga sosialisme,yang akan memainkan opini untuk merealisasi kepentingannya dan menjatuhkan kepentingan lainnya (Islam dan Kapitalisme).

Dengan demikian opini umum menjadi senjata yang cukup ampuh dalam mempropagandakan ideologi, termasuk ideologi Islam. Karenanya, dalam dakwah, menciptakan opini umum merupakan aktivitas yang urgen untuk melawan konspirasi  negara-negara kolonialis dan antek-anteknya. Pemanfaatan opini publik sendiri dalam dakwah harus senantiasa didasarkan pada Islam.

di sinilah peran para pejuang media Islam dibutuhkan, untuk mengabarkan dan mengobarkan semangat Islam kebangkitan Islam ke seluruh dunia. Dunia Islam dengan kekuatan idiologi, besarnya populasi yang tersebar di seluruh benua, kekuatan  kendali terhadap benua, kekuatan ekonomi dan militer merupakan realita yang tidak dapat dipungkiri untuk menjadi negara global terkemuka di dunia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox