Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Sabtu, 13 Oktober 2018

Luhut Pastikan IMF-World Bank Meeting di Bali Aman dari Gempa, Lalu Gempa 6,4 Skala Richter Guncang Sebagian Jatim dan Bali… dengan Ini Kami Sampaikan Sebuah Nasehat Penting Untuk Anda


M. Arifin (Tabayyun Center)

"Di sini pun ada potensi gempa, kita sudah hidup sini, saya tunjukkan bahwa Indonesia jangan takut, ini lah Indonesia semua pusat gempa. Yang nggak potensi itu cuma Kalimantan ini bukan sekarang tapi dari 1600 kita sudah hadapan dengan itu," kata Luhut di Kementerian Koordinator Kemaritiman, Jakarta, Selasa (2/10/2018). Luhut menambahkan pertemuan IMF-World Bank akan jauh dari risiko bencana gempa di Lombok dan Palu yang baru saja terjadi, Jumat (28/9/2018). (https://finance.detik.com/moneter/d-4239457/luhut-pastikan-imf-world-bank-meeting-di-bali-aman-dari-gempa)

Mungkin optimisme Luhut dijawab Allah Swt dengan gempa di area Jatim dan Bali. Berdasarkan kabar dari bbc.com, gempa bumi dengan kekuatan magnitudo 6,4 pada skala Richter (SR) mengguncang wilayah Jawa Timur dan Bali pada Kamis (11/10) dini hari pukul 01.57 WIB. Hasil pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebutkan pusat gempa berada di laut pada jarak 55 km arah timur laut Kota Situbondo, Kabupaten Situbondo, Provinsi Jawa Timur pada kedalaman 12 km. Gempa itu dilaporkan tak hanya dirasakan warga Jawa Timur. Kepada BBC News Indonesia, Erna Utami yang merupakan warga Kabupaten Buleleng, Provinsi Bali, mengaku panik ketika merasakan guncangan gempa.  (https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-45819360)

Ada hubungan yang erat antara keduanya. Perhatikan firman Allah Swt ini:
Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan-tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar) (QS al-Rum[30]: 41).

Dalam bahasa Arab, kata al-fasâd kebalikan dari al-shalâh (kebaikan). Sehingga, segala sesuatu yang tidak terkagori sebagai kebaikan, dapat dimasukkan ke dalam al-fasâd. Berkait dengan kata al-fasâd dalam ayat ini, para mufassir pun berusaha mendeskripsikan kerusakan yang dimaksud. Al-Wahidi dalam al-Wasîth menyatakan, fasâd adalah kemarau panjang dan lenyapnya berkah. Menurut al-Zamakhsyari dan al-Alusi dalam kitab tafsir mereka, selain dua kondisi itu, fasâd juga berupa minimnya hasil panen dalam pertanian, sedikitnya keuntungan dalam perdagangan, banyaknya kematian pada manusia dan hewan, banyaknya peristiwa kebakaran dan tenggelam, kegagalan para nelayan dan penyelam, sedikitnya manfaat, dan banyaknya mudharat.

Sebetulnya, kezaliman penguasa bukan saja dalam hal kebijakannya yang cenderung mengabaikan nasib rakyat saat tertimpa bencana. Banyak kebijakan penguasa yang cenderung makin menambah penderitaan rakyat seperti: terus menaikkan harga BBM, tariff listrik, iuran BPJS, tarif tol, dll. Di sisi lain, sumberdaya alam milik rakyat terus dibiarkan dikuasai oleh pihak asing. Akibatnya jelas, rakyat terus ditimpa aneka bencana seperti kemiskinan, pengangguran, mahalnya biaya pendidikan dan kesehatan, dll.

Semua bencana ini, sebagaimana dinyatakan al-Quran, hanyalah akibat dosa dan kemaksiatan manusia. Akibat mereka tidak mengamalkan dan menerapkan syariah-Nya. Allah SWT berfirman:
Telah tampak kerusakan di daratan dan di lautan akibat perbuatan tangan (kemaksiatan) manusia supaya Allah menimpakan kepada mereka sebagian akibat perbuatan (kemaksiatan) mereka itu agar mereka kembali (ke jalan-Nya) (TQS ar-Rum [30]: 41).

Semakin banyak bangsa ini bercermin pada al-Quran, semakin banyak kita dapati bahwa bangsa ini menyalahi al-Quran. Ironisnya semua itu dilakukan secara sadar. Hendaknya kita sadar bahwa dengan semua itu sesungguhnya bangsa ini sedang menggali lubang kubur sendiri.

Siapa saja yang berpaling dari peringatan-Ku, sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit. (QS Thaha [20]: 124).

Hendaknya kita merenungkan peringatan Allah:
Peliharalah diri kalian dari siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang zalim saja di antara kalian. Ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya. (QS al-Anfal [8]: 25).

Karena itu, hendaknya kita segera mewujudkan seruan Allah SWT:
Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul jika Rasul menyeru kalian pada sesuatu yang memberikan kehidupan kepada kalian. (QS al-Anfal [8]: 24)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox