Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Rabu, 10 Oktober 2018

Krisis, Krisis, Krisis… Putuskan Hubungan dengan Mereka!


Mahfud Abdullah
(Indonesia Change)

Terlepas dari pro-kontra, pertemuan IMF-Bank Dunia atau IMF-World Bank Annual Meeting di Bali 2018 sedang berlangsung di saat kondisi Indonesia yang saat ini sedang dilanda bencana dan tekanan fiskal. Kita tahu apa IMF, yang menjadi organisasi internasional yang bertujuan mempererat kerja sama moneter internasional, mendorong perdagangan internasional, ketersediaan lapangan kerja, kestabilan nilai tukar, pertumbuhan ekonomi, dan bantuan kepada negara anggota yang mengalami kesulitan finanisal.

Adapun World Bank, merupakan sebuah lembaga keuangan internasional yang menyediakan pinjaman kepada negara berkembang untuk program pemberian modal, dengan tujuan untuk pengurangan kemiskinan. Seluruh keputusan WB harus diarahkan untuk mempromosikan investasi luar negeri, perdagangan internasional dan memfasilitasi investasi modal.

Memang kelihatannya IMF dan WB memiliki kemiripan, yaitu dalam hal pemberian utang kepada negara anggotanya. IMF dan WB juga sama-sama dibentuk pada 1944 dalam Konferensi Bretton Woods. Baik itu IMF dan WB, berada di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Kedua lembaga besar ini tengah memperbaiki citra buruknya. Pada tahun 2015, misalnya. Direktur IMF Christine Lagarde datang ke Indonesia dan menyampaikan pidato di Universitas Indonesia. Lagarde mengulas mengenai peran pemuda dalam membentangkan jalan kemerdekaan dan demokrasi di Indonesia, memberikan semangat optimisme seperti sayap garuda, dan bahkan mengutip kata-kata bijak dari Sukarno. Menteri Keuangan Sri Mulyani pun memberi penegasan bahwa kedatangan IMF tidak untuk menawarkan utang kepada Indonesia.

Kita disuguhkan dengan pemandangan terjadi krisis ekonomi dan krisis neraca pembayaran di banyak Negara setelah menelan resep ‘modern’ AS, dan negara-negara demokratis-kapitalis tergoda untuk menyongsong IMF. Mereka berharap program IMF dapat segera mencegah krisis neraca pembayaran. Ini juga akan membuka jalur pembiayaan murah dari Bank Dunia dan Bank Pembangunan Asia (ADB). Program ini akan meningkatkan kredibilitas negara di mata para kreditor internasional. Namun, program IMF bukan tanpa hambatan formal pada kebijakan fiskal dan moneter, karenanya, membutuhkan devaluasi lebih lanjut, menaikkan pajak, tarif dan suku bunga. Ini kemungkinan akan lebih menghambat pertumbuhan dan memicu inflasi yang merajalela.

Krisis yang dihasilkan dari neraca pembayaran karena defisit, menyebabkan jebakan lingkaran hutang. Utang datang dengan bunga dan kondisi yang semakin melemahkan ekonomi. Banyak Negara, termasuk Indonesia telah cukup menderita dari implementasi Kapitalisme. dan akan semakin menderita lagi. Sementara ada resep ekonomi yang solutif, yaitu Islam. Tidak ada celah kelemahan dari implementasi sistem ekonomi Islam. Sistem ini akan menyingkirkan Indonesia dari krisisnya. Resep yang mengikuti pada Metode Kenabian akan mengakhiri hutang luar negeri dan dominasi kapitalisme Barat dan timur, dengan memastikan kepemilikan publik atas energi dan mineral, serta kepemilikan negara yang dominan dari industri skala besar, sehingga Negara kita memiliki banyak dana untuk mengamankan kebutuhan rakyatnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox