Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Jumat, 26 Oktober 2018

Kedisiplinan, Perjuangan, Air Mata dan Kemenangan


Ainun Dawaun Nufus
(Pengamat Sospol)

Umat Islam masih diselimuti bertumpuk duka. Berbagai musibah telah dan sedang menimpa umat ini. Palestina, Irak, Afghanistan masih dalam cengkeraman AS dan Israel. Sementara negeri Islam yang lain terperosok dalam penjajahan sosial budaya ekonomi politik pendidikan dan pertahanan keamanan disebabkan para penguasanya adalah antek penjajah. Demikian pula negeri ini, terus dilanda bencana susul-menyusul. Duka dan luka itu semakin menyakitkan terasa ketika kebijakan penguasa tidak meringankan dan segera menolong rakyatnya.

Pertanyaannya, sampai kapan kondisi ini akan terus terjadi? Apa yang menyebabkan kondisi umat yang dinyatakan oleh Allah sebagai umat terbaik ini begitu menyedihkan? Sampai kapan kita terus berdiam diri, membiarkan seluruh keyakinan dan kehormatan kita dilucuti selembar demi selembar dari tubuh kita hingga hampir-hampir tidak tersisa lagi?

Maka disinilah kesabaran, kedisiplinan dan ketabahan para pengemban dakwah sedang dan terus diuji hingga Allah SWT memberikan pertolongan dan kemenangan yang nyata. Akidah kita mengajarkan, kemenangan hakiki itu terjadi dengan kehendak Allah. Dia menolong dan memberi kemenangan kepada siapa yang Dia kehendaki dari hamba-hamba-Nya.

Jika berkenan, Dia akan memberi kemenangan kepada mereka yang telah mengusahakan sebabnya sebagai pembenar terhadap sunnah-Nya pada makhluk-Nya. Jika berkehendak lain, Dia memberi kemenangan kepada mustadh'afin (orang-orang lemah) yang dihina untuk memberi penjelasan kepada hamba-hamba-Nya bahwa urusan ini berada di kedua tangan-Nya.

Semua perkara kembali kepada-Nya. Tidak ada makhluk yang bisa mencegah kemauan-Nya. Tak seorangpun pula yang mampu mengalahkan-Nya. Bahkan semua makhluk hina dan tunduk di hadapan-Nya. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,
"Dan kemenanganmu itu hanyalah dari Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (QS. Ali Imran: 126)

Kaum mukminin tidak boleh hanya bersandar kepada kekuatan mereka semata dalam jihad yang ditegakkan. Tidak boleh pula terlalu berbangga dengan banyaknya jumlah mereka Banyaknya jumlah membuat mereka berbangga diri. Ternyata, semua itu tidak berguna. Mereka kalah dan lari terbirit-birit ke belakang, kecuali sedikit saja dari mereka yang tetap teguh bersama Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam. Setelah itu Allah turunkan pertolongan dan dukungan-Nya atas Rasul-Nya Shallallahu 'Alaihi Wasallam dan kaum mukminin yang bersamanya.

Hal ini untuk memberi pelajaran, kemenangan itu berasal dari-Nya dan atas pemberian-Nya semata. Sebabnya, Allah turunkan junud-junud (pasukan) dari malaikat-Nya. Sesungguhnya berapa banyak kelompok sedikit bisa mengalahkan kelompok yang besar dengan izin Allah Subhanahu wa Ta'ala. (Disarikan dari tafsir Ibnu Katsir)

Akidah kemenangan berasal dari Allah benar-benar diyakini oleh kaum mukminin terdahulu. Sehingga saat tantangan semakin hebat, cobaan bertambah berat, dan kesabaran sudah pada puncak, maka mereka mencari pertolongan kepada-Nya Subhanahu wa Ta'ala.

Sesungguhnya Allah Swt dan Rasulullah saw telah menunjukkan solusi tuntas bagi kita atas seluruh problematika ini. Yakni ketaatan total tanpa syarat kepada Allah dan Rasul-Nya. Ketaatan total itu dapat terwujud sempurna dengan penerapan syariah secara kaffah. Panutan dan teladan kita, Rasulullah saw tidak hanya menyampaikan risalah, namun juga menerapkan risalah itu dalam kehidupan bernegara. Tatkala beliau kembali ke haribaan-Nya, wilayah negaranya meliputi seluruh Jazirah Arab.

Namun yang perlu kita sadari bersama bahwa kaum selain kita juga merasakan kesulitan yang sama. Hanya saja obyek perasaan derita kita berbeda dengan yang mereka rasakan. Kesulitan kita adalah betapa beratnya mempertahankan konsisten (Iltizam), keteguhan (tsabat), kesabaran, istiqamah, dalam menjalankan syariat Islam di tengah-tengah gegap gempitanya manusia yang berkonspirasi memarjinalkan peran Islam dalam kehidupan ini.

Sedangkan kesulitan kaum zalim adalah mempertahankan status quo kebatilan di tengah maraknya kebangkitan umat Islam. Mereka bersusah payah menyebarkan propaganda kebencian terhadap dakwah Islam. Bahkan tak segan mereka menuduh ayat-ayat al-Qur`an dan hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai hate speech (ujaran kebencian), ayat-ayat provokasi dan lain sebagainya.

Namun, di tengah itu fenomena kesadaran beragama umat semakin mengeliat. Mereka berusaha secara maksimal untuk membendung gejala kesadaran kembali kepada Islam. Nampaknya kebangkitan Islam itu tidak bisa diredam dan diredupkan. Usaha para pembenci dakwah Islam hanya sia-sia belaka. Teruslah berjuang untuk menegakan kalimat Allah dan jangan pernah mundur meski hanya selangkah. Karena perjuangan kita akan menghasilkan sebuah keindahan di akhir hayat kita. Insya Allah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox